Krisis Rohingya 'menyatukan' kelompok-kelompok garis keras di Indonesia

Pengungsi Rohingya di Bangladesh Hak atas foto Getty Images
Image caption Krisis kemanusiaan yang menimpa warga minoritas Muslim Rohingya dipakai sebagai alasan 'perlunya berjihad ke Myanmar' oleh kalangan garis keras di Indonesia.

Krisis Rohingya di Rakhine, Myanmar, meningkatkan aktivitas radikalisme di Indonesia, setidaknya di tataran perbicangan media sosial.

Berdasarkan pantauan pengamat Asia Tenggara di BBC Monitoring, Mark Wilson, mulai 25 Agustus hingga 15 September, kata-kata seperti 'pendaftaran, relawan, Muslim, siap, berangkat, syahid, bela, Rohingya, Myanmar', naik tajam, seperti terlihat di perangkat analitik media sosial Crimson Hexagon.

Dua kata yang paling banyak dipakai di berbagai platform media sosial adalah 'rohingya' dan 'jihad'.

Kata-kata tersebut banyak digunakan di Facebook, Twitter, dan Instagram sejak krisis kemanusiaan Rohingya pecah di Rakhine pada 25 Agustus.

Sejumlah akun di Instagram mengunggah foto dan video yang mereka katakan 'orang-orang yang berjihad di Myanmar'.

Seruan tersebut dikeluarkan oleh akun-akun yang selama ini mempromosikan atau membagikan konten yang dikeluarkan kelompok yang menamakan diri Negara Islam (ISIS) dan Al Qaida.

Akun-akun tersebut dikategorikan sebagai akun yang mendukung gerakan global Islam radikal sedang penggolongan kedua adalah akun-akun yang mendukung gerakan garis keras di Indonesia.

Kajian yang dilakukan memperlihatkan kedua golongan ini 'satu suara dalam menyerukan perlunya jihad ke Myanmar membantu warga minoritas Muslim Rohingya'.

Hak atas foto Crimson Hexagon
Image caption Di media sosial kata-kata 'siap, berangkat, jihad, Myanmar' naik tajam sejak 25 Agustus.

Seruan jihad ke Myanmar naik tajam pada 4 September setelah Front Pembela Islam (FPI) mendirikan pos pendaftaran relawan ke Myanmar.

Para pendukung ISIS di Indonesia juga menyerukan hal yang sama dengan mengatakan 'orang-orang Islam di Asia Tenggara harus memusatkan perhatian pada dugaan genosida terhadap warga Rohingya'.

'Kombinasi yang berbahaya'

Salah satu akun yang selama ini banyak mengunggah konten ISIS mengatakan 'orang-orang Islam sudah hilang kesabaran' dan menegaskan bahwa 'ia ingin berjihad (di Myanmar)'.

Akun-akun pendukung garis keras di Indonesia 'setuju dengan seruan tersebut' dan menulis 'ayo tunjukkan kekuatanmu wahai mujahidin dan milisi Islam di Asia Tenggara, bantulah saudaramu Rohingya yang tengah ditindas'.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Front Pembela Islam (FPI) membuka pos pendaftaran relawan ke Myanmar.

Unggahan di media sosial ini banyak dibagikan oleh akun-akun garis keras.

Kelompok garis keras global juga mencoba menyasar kalangan garis keras di Indonesia dengan menggunakan tanda pagar (tagar) #fpi dan #jihad.

Tagar lain adalah #Arsa yang mengacu pada Tentara Pembebasan Rohingya Arakan, milisi di Rakhine yang menyerang beberapa pos keamanan yang kemudian mendorong militer Myanmar melancarkan operasi yang dikatakan sebagai 'operasi pembersihan teroris'.

Satu akun pro-Al Qaida menulis 'senjata kami memang tak secanggih militer Myanmar ... tapi kita punya Allah dan kami siap membela Allah dengan nyawa kami'.

Akun yang menulis 'wahai saudaraku Rohingya, jihad ada di jalanmu' dilihat 76.000 kali.

Hasil analisis ini bisa dilihat sebagai 'kombinasi yang berbahaya' karena sekarang beda antara pendukung garis keras global dan lokal di Indonesia makin tipis.

Seruan jihad yang sama-sama disuarakan oleh dua kelompok ini membuat keduanya tak bisa lagi dibedakan di platform media sosial.

Ini adalah perkembangan yang berbahaya karena bisa menjadi 'lahan perekrutan kelompok ISIS dan Al Qaida'.

Topik terkait

Berita terkait