Menyelamatkan lontar dari kemungkinan letusan Gunung Agung

lontar Hak atas foto Hanacaraka/Sugi Lanus
Image caption Warga Karangasem, Bali, berusaha menyelamatkan ratusan bahan-bahan atau lembar-lembar lontar yang dipersiapkan untuk penyalinan lontar, untuk diamankan ke lokasi yang jauh dari Gunung Agung.

Masyarakat yang tinggal di wilayah terdampak kemungkinan meletusnya Gunung Agung, Bali, dihimbau untuk menyelamatkan naskah-naskah penting peninggalan leluhur seperti lontar dan prasasti.

Himbauan itu dikeluarkan Kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali dan pegiat pelestari kebudayaan Bali untuk menyelamatkan nilai-nilai tradisional peninggalan leluhur orang-orang Bali yang tercantum dalam medium lontar.

"Lontar itu lebih penting dari ijazah sarjana. Ijazah saya boleh terbakar, karena bisa dikeluarkan kembali. Tapi lontar tidak bisa. Lontar itu berisi berbagai rekaman dan jejak pemikiran dan peradaban orang Bali," kata Sugi Lanus, pendiri perkumpulan Hanacaraka kepada BBC Indonesia, Selasa (26/09).

Diperkirakan ada sekitar 8,000 lontar yang disimpan oleh sebagian warga Kabupaten Karangasem, Bali, dan sekitar 3.000 naskah lontar diperkirakan disimpan oleh orang-orang yang tinggal di kawasan yang masuk kategori terdampak, ungkap Sugi.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Ida Bagus Komang Sudarma (kanan), peneliti Hanacaraka Society, sedang memberi penjelasan kepada dua orang tamu tentang lontar yang dipamerkan dalam Festival Sastra di Ubud, Bali, 2016.

Sejumlah desa di kawasan Kabupaten Karangasem, menurut Sugi, sekian abad silam memiliki tradisi penulisan dan peredaran lontar kuno.

Tradisi itu tidak terlepas dari keberadaan Kerajaan Gelgel pada Abad 15 dan 16 di kawasan itu. "Dan memang daun lontar itu tumbuh di lahan kering seperti Karangasem," ungkapnya.

"Setiap lontar itu ditulis tangan oleh pihak-pihak yang punya keahlian dari generasi ke generasi secara turun-temurun. Selain berisi naskah kuno, lontar adalah barang seni," jelas Sugi.

Konten budi pekerti

Lontar, yang terbuat dari daun lontar atau siwalan, ukurannya kira-kira tiga 30cm dan lebar sekitar 5-10cm, memuat naskah kuno yang menggunakan aksara Bali.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Menurut Sugi Lanus, isi naskah yang tertera dalam lontar tidak melulu soal agama, tetapi juga persoalan keseharian, nilai politik, pengobatan alternatif, kearifan untuk menjaga hutan hingga regulasi lokal.

Adapun prasasti -yang kebanyakan terbuat dari tembaga- merupakan piagam kuno yang dikeluarkan oleh raja atau otoritas setempat pada masanya. "Sebagian besar prasati disimpan di pura-pura," ungkapnya.

Menurut Sugi, naskah yang tertera dalam lontar tidak melulu soal agama, tetapi juga masalah keseharian, nilai politik, pengobatan alternatif, kearifan untuk menjaga hutan, hingga regulasi lokal yang pernah dipraktikkan di wilayah Nusantara sekian abad silam.

"Konten dari naskah-naskah itu adalah budi pekerti yang diendapkan dalam cerita rakyat, di dalam naskah-naskah teater, dalam pemikiran spiritual. Sekarang orang menyebut local wisdom, sebenarnya dulu universal sekali nilai-nilainya," jelas Sugi yang dikenal mampu membaca naskah lontar.

Hak atas foto Ulet Ifansasti/Getty
Image caption Satu keluarga meninggalkan kediamannya yang terletak di kawasan yang tidak jauh dari Gunung Agung, di Kabupaten Karangasem, Bali, 23 September 2017.

Sementara, Kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali telah menghimbau kepada warga yang tinggal di wilayah terdampak agar tidak lupa menyelamatkan lontar serta prasasti miliknya.

Alasannya,"sangat penting keberadaannya bagi keberlangsungan kebudayaan Bali," kata Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Dewa Putu Beratha, seperti tertera dalam surat pemberitahuannya yang diterima BBC Indonesia, Selasa (26/09).

Kantor Dinas Kebudayaan Bali, yang berpusat di kota Denpasar, kemudian menawarkan bantuan untuk menyimpan sementara benda-benda bersejarah tersebut.

"Jika diperlukan kami sudah siapkan tempat penyimpanan sementara benda-benda pusaka tersebut," kata Dewa Putu Beratha.

Hak atas foto Hanacaraka/Sugi Lanus
Image caption Bendesa (pemimpin adat) Desa Dukuh Penadaban, I Nengah Suarya, dan warganya melakukan evakuasi 'kertas' lontar-lontar yang dipersiapkan untuk rintisan Museum Lontar Dukuh Penaban, Karangasem, Bali.

Selain menghimbau melalui media sosial, Sugi Lanus mengaku telah menghubungi sejumlah keluarga di wilayah Karangasem, yang menyimpan lontar kuno, untuk tidak lupa menyelamatkannya.

"Dan ada orang-orang yang berada di 12 titik terdampak sudah memindahkan lontarnya ke kawasan yang lebih aman, dan dititipkan keluarganya," ungkap Sugi.

Prioritas penyelamatan

Seperti yang dilakukan Kantor Dinas Kebudayaan Bali, perkumpulan Hanacaraka -yang dipimpin Sugi Lanus- juga menyatakan siap menyimpan sementara lontar atau prasasti kuno. "Kami punya tempat penyimpanan yang cukup aman di Denpasar," akunya.

Selain berupaya menyelamatkan lontar kuno, Sugi mengatakan telah menyelamatkan sekitar 4.000 salinan lontar kuno.

Hak atas foto Hanacaraka/Sugi Lanus
Image caption Selain berupaya menyelamatkan lontar kuno, Sugi mengatakan telah menyelamatkan sekitar 4.000 salinan lontar kuno.

"Itu hasil ketikan dari naskah lontar dan prasasti," ungkapnya. Ribuan salinan naskah itu telah diangkut dengan truk kecil ke Denpasar.

Seorang warga Karangasem, yang kediamannya berada di wilayah terdampak, Ida Bagus Agung Gunartawa, mengaku telah menyelamatkan ratusan lontar dan benda pusaka warisan dari leluhurnya.

"Sudah sejak awal, kami menjadikan barang-barang berharga ini sebagai prioritas untuk kita kemas, dan lima hari lalu sudah kita evaluasi di daerah aman, di antaranya di Denpasar," kata Ida Bagus saat dihubungi BBC Indonesia melalui sambungan telepon, Selasa (26/09).

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Perkumpulan Hanacaraka di Bali, selain berusaha melestarikan nilai-nilai leluhur Bali yang tertera di lontar, juga rajin mengenalkan tradisi menulis aksara Bali di atas lontar.

Ida Bagus mengatakan tindakan penyelamatan itu dilakukan karena dirinya menganggap benda berusia tahunan itu sebagai "mahakarya" para leluhurnya.

"Karena spirit hidup yang kami miliki di Bali ini memang relatif terwakili oleh benda-benda pusaka tersebut," kata Bagus.

Benda-benda pusaka itu dalam kondisi baik, karena dirawat secara seksama oleh keluarga Ida Bagus. Keluarga ini juga telah menyadur naskah-naskah kuno yang tertera di lontar ke atas lontar yang baru atau buku.

Hak atas foto SONNY TUMBELAKA/AFP
Image caption Dalam sebulan terakhir, Gunung Agung di Bali menunjukkan aktivitas kegempaan terbesar setelah terakhir kali meletus tahun 1963 dan menyebabkan 1.148 orang meninggal dunia.

"Orang tua saya itu pendeta Hindu memang memiliki kebiasaan menulis huruf Bali kuno di atas lontar," ungkap pria yang berusia 39 tahun ini.

Keluarga Ida Bagus tinggal di Desa Jungutan, Kecamatan Pedandem, Kabupaten Karangasem. Lokasi desa itu terletak sekitar 6km dari puncak Gunung Agung. Dia dan keluarganya sudah mengungsi ke lokasi yang aman.

"Saat Gunung Agung meletus pada 1963, rumah saya termasuk yang habis rata dengan tanah, selain semua rumah penduduk lainnya."

Topik terkait

Berita terkait