Seberapa jauh langkah partai politik baru di Pemilu 2019?

Pemilu Hak atas foto ADEK BERRY/AFP
Image caption Pemilu 2019 akan digelar serentak untuk pemilihan legislatif serta pemiihan presiden.

Empat dari 14 parpol yang lolos fase pengisian data di sistem informasi partai politik (sipol) KPU, yaitu Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Perindo, Partai Berkarya, dan Partai Garuda, berstatus pendatang baru di perpolitikan Indonesia.

Tapi masih ada tahapan seleksi selanjutnya yang digelar KPU, dan jikapun lolos maka empat parpol itu harus bergelut lagi dengan ambang batas parlemen atau syarat minimal perolehan suara untuk mendapatkan kursi di DPR.

Titi Anggraini, dari Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi, mengatakan pada setiap pemilu parpol baru harus menghadapi ambang batas parlemen yang lebih tinggi daripada pemilu sebelumnya.

Merujuk UU 7/2017 tentang Pemilu, ambang batas parlemen untuk pemilu 2019 sebesar 4% dari suara sah nasional sementara dalam dua pemilu 2009 dan 2014, ambang batas itu masing-masing 2,5% dan 3,5%.

Titi menyebut ambang batas kerap menjadi ganjalan terbesar parpol baru. Agar tak mengalami fenonema serupa, menurutnya setiap anggota parpol baru harus bertugas sebagai agen pemasaran partai mereka.

"Modal awal lolos verifikasi cukup besar, antara lain punya satu anggota di setiap seribu penduduk. Mereka bisa menjadi agen partai yang melakukan kerja pemenangan," kata Titi melalui sambungan telepon, Kamis (19/10).

Titi menuturkan selama ini kebanyakan parpol menargetkan perolehan suara hanya kepada para calon anggota legislatif sehingga raihan suara parpol tidak maksimal.

"Tantangannya adalah mengelola konsistensi dan soliditas internal, status pengurus perlu bertransformasi ke dalam bentuk perolehan suara," kata Titi.

Jika parpol baru memiliki 1.000 anggota -menurut perkiraan Titi- maka di setiap 416 kabupaten atau kota, raihan suara partai itu seharusnya lebih dari 416.000 dengan asumsi setiap anggota parpol ditargetkan mendulang suara, terutama dari lingkaran terdekat seperti keluarga.

Hak atas foto ADEK BERRY/AFP
Image caption Dua partai politik tak lolos ke parlemen pada 2019, yaitu PBB dan PKPI.

Pada pemilihan legislatif (pileg) 2014, dua partai yang tidak lolos ambang batas parlemen adalah Partai Bulan Bintang serta Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia.

Pada pileg 2014, dua partai itu juga tak lolos ke parlemen walau pada periodes sebelumnya yaitu 2004-2009, mereka pernah pernah mendapatkan kursi di DPR.

Partai Berkarya yang digawangi oleh Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto -mantan putra mendiang presiden Suharto- dengan berani memasang target tinggi pada pemilu 2019. Jika lolos seleksi KPU, mereka yakin akan meraih dua digit suara.

"Target kami langsung menjadi partai yang masuk Senayan. Apabila satu dapil dapat satu kursi, kami bisa mendapat dua digit perolehan suara di angka 13 atau 14%," kata Sekjen Partai Berkarya, Badaruddin Andi Picunang kepada BBC Indonesia.

Hak atas foto ADEK BERRY/AFP
Image caption Sebelum menggagas Partai Berkarya, Tommy Soeharto pernah aktif di Partai Golkar.

Badaruddin menuturkan parpolnya akan mengandalkan tokoh politik lawas serta mantan jenderal polisi dan tentara untuk meraup suara.

Selain Tommy, mantan Menko Polhukam Tedjo Edhy Purdijatno dan bekas Danjen Kopassus, Muchdi Purwoprandjono, kini tercatat sebagai pimpinan partai tersebut.

Tommy pernah aktif di Partai Golkar, sedangkan Tedjo dan Muchi pernah menjadi anggota NasDem dan Partai Gerindra.

"Partai kami dibentuk politikus yang sudah pernah bergabung di partai lain dan memiliki jaringan atau struktur sampai tingkat bawah, tinggal dibenahi ke dalam payung kami," kata Badaruddin.

Adapun, Ketua Umum PSI, Grace Natalie, sebelumnya menyebut partainya memasang target 20% suara pada pemilu 2019 dengan mencoba menawarkan sesuatu yang berbeda dibanding parpol lain.

"Hitungan saya mungkin dan bukan mimpi di siang bolong," ujar Grace kepada pers, September lalu.

Di situs resminya, PSI mengklaim sebagai parpol baru yang tak berhubungan dengan perpolitikan nasional sebelumnya. Selain menjual isu keberagaman, PSI juga membatasi pengurus mereka paling tua berusia 45 tahun, sebagai salah satu upaya untuk dapat menarik suara pemilih muda.

Hak atas foto ADEK BERRY/AFP
Image caption Untuk mendapatkan kursi di DPR, parpol minimal meraup 4% suara sah nasional.

Sementara itu, Partai Garuda dipimpin Ahmad Ridha Sabana -yang menurut catatan KPU DKI Jakarta- pernah mendaftar sebagai calon anggota DPRD dari Gerindra untuk pemilu 2014.

Saat mendaftar ke KPU, 15 Oktober lalu, Ridha menyebut partainya juga menargetkan anak muda sebagai pemilih. Mengklaim telah memenuhi syarat kepengurusan tingkat kabupaten atau kota, Ridha yakin Partai Garuda dapat lolos menjadi peserta pemilu 2019.

"DPP Garuda hanya ingin berikan wadah ke seluruh anak bangsa karena mekanisme politik harus melalui parpol. Kita bangun untuk kontribusi seluruh pembangunan di Indonesia," ujarnya kepada pers.

Satu partai baru lainnya, Perindo, digagas Hary Tanoesoedibjo yang pernah aktif di NasDem dan Hanura. Meski belum dipastikan menjadi peserta pemilu 2019, Hary telah mendeklarasikan dukungan kepada Joko Widodo untuk kembali maju ke pemilihan presiden.

Hak atas foto AFP
Image caption Pemilu 2019 digelar sekitar setahun setalah penyelenggaraan pilkada di 171 daerah pada tahun 2018.

Terkait peluang parpol baru pada pemilu 2019, Titi Anggraini menyebut janji politik vital untuk menyaingi parpol lama yang telah memiliki basis pendukung.

"Mereka harus membuktikan bahwa mereka punya tawaran baru. Itu yang akan menjadi ujian, mereka akan menjadi sama seperti kendaraan lama atau kendaraan baru dengan mesin yang juga baru," ujar Titi.

Pemilu 2019 dijadwalkan serentak, terdiri dari pemilihan anggota legislatif dan presiden dengan pemungutan suara rencananya dilaksanakan pada 17 April.

Jika pada putaran pertama tak terdapat satu pasangan calon presiden dan wakil presiden yang mendapatkan lebih dari 50% suara, maka pemungutan suara periode kedua akan digelar 7 Agustus.

Topik terkait

Berita terkait