Mengapa ada warna kemerahan di abu Gunung Agung yang 'mencapai' 3.000 meter?

Gunung Agung, Bali Hak atas foto EPA

Beberapa gambar yang beredar tentang Gunung Agung memperlihatkan bahwa gunung berapi di Bali tersebut bisa jadi semakin mendekati ledakan besar.

Namun gambar itu sebenarnya juga memperlihatkan apa yang sedang terjadi di dalam gunung, seperti dijelaskan seorang ahli gunung berapi, Janine Krippner.

Selama dua bulan terakhir, Gunung Agung memperlihatkan aktifitas seismik yang meningkat, yaitu semakin meningkatnya rekahan batu di dalam kawah sementara magma bergerak dari dalam bumi naik ke atas.

Pekan lalu, jelas Krippner, terlihat asap tebal dan abu yang terlempar ke luar serta lahar bercahaya di permukaan kawah maupun aliran sungai yang dingin ke lembah sungai.

Sementara dari sebagian besar gambar gunung itu sekitar dua bulan lalu, tidak bisa dikatakan bahwa terjadi proses untuk terjadinya letusan. Namun ada informasi dari data di dalam gunung yang mendeteksi peningkatan seismik dan juga dari getaran yang mulai mengguncang daerah tersebut.

Hak atas foto Reuters
Image caption Fluktuasi aktifitas yang naik turun membuat gunung berapi menjadi sulit diprediksi.

Sejak saat itu kegiatan gunung relatif sempat tenang dan itu memang merupakan hal yang biasa untuk gunung berapi. Fluktuasi aktifitas membuat gunung menjadi berapi sulit diprediksi.

Namun Selasa (21/11) lalu, gunung api tersebut mulai melontarkan debu yang tebal dan hawa panas, yang merupakan ledakan pertama dalam waktu lebih dari 50 tahun belakangan.

Ledakan itu disebut erupsi freatik, yang disebabkan adanya kontak air dengan magma yang bisa meningkatkan tekanan dan kemudian menyebabkan ledakan batu serta potongan kawah menjadi partikel kecil abu.

Dan magma bergerak naik dari dalam bumi sambil memecahkan batu sepanjang perjalanan magma naik ke atas tersebut. Saat magma bergerak naik, maka air di dalam gunung menjadi memanas, sementara uap meningkatkan tekanan hingga sampai pada titik ketika batu sudah tidak dapat menahannya lagi.

Itulah yang terjadi sekarang, jelas Krippner.

Hak atas foto BNPB
Image caption Hingga Minggu (26/11) pukul 08.30 Wita, erupsi Gunung Agung terus berlangsung. "Hujan abu mengarah ke timur-tenggara ke arah Lombok," kata BNPB.

Jadi magma sudah bergerak terlalu tinggi di kawah dan tidak cukup lagi batu untuk menahannya, sehingga terlempar dalam partikel-partikel debu.

Saat letusan Gunung Agung tahun 1963 lalu, letusan mencapai setinggi 26km di atas permukaan laut.

Dan untuk gunung api seperti Gunung Agung, magma bisa menempuh jarak antara lima hingga 15 km dari dalam bumi untuk mencapai ke permukaan dan menjadi letusan.

Warna kuning kemerahan?

Sementara ada pula warna kuning kemerahan dalam erupsi hingga mencapai ketinggian 3.000 meter pada Minggu (26/11) pagi.

Tetapi mengapa ada warna kuning kemerahan dalam erupsi?

"Warna kuning kemerahan dari erupsi Gunung Agung adalah efek cahaya sinar matahari saja, bukan dari lava pijar atau api yang keluar dari kawah Gunung Agung," kata juru bicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Sutopo Purwo Nugroho, dalam Twitternya, Minggu pagi.

Dari pantauan BNPB, kolom letusan abu vulkanik telah mencapai hingga 3.000 meter dari puncak kawah Gunung Agung, sekitar pukul 08.30 Wita, Minggu.

Hak atas foto BNPB
Image caption Hujan abu vulkanik turun di beberapa desa di sekitar Gunung Agung, ungkap BNPB.

"Ancaman potensi bahaya masih berupa ancaman abu vulkanik," kata Sutopo. Dan, "status tetap siaga."

Sampai sekitar pukul 08.30 Wita, erupsi Gunung Agung "terus berlangsung," tambahnya.

Dan menurutnya hujan abu mengarah ke timur-tenggara ke arah pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat.

BNPB melaporkan, sejak Sabtu (25/11) malam, masyarakat yang tinggal di radius sekitar 6 hingga 7,5 km dari puncak gunung Agung, terus melakukan "evakuasi mandiri" ke tempat yang dianggap aman atau menjauhi pusat erupsi.

Erupsi kedua

Pada Sabtu (25/11) sekitar pukul 17.30 Wita, Gunung Agung mengalami erupsi freatik kedua yang teramati secara visual dari Desa Culik di sisi lereng timur, menurut BNPB.

"Erupsi freatik tersebut berlangsung menerus, hingga pukul 23.00 Wita," demikian rilis resmi BNPB.

Hasil analisis dari Satelit Himawari BMKG menunjukkan bahwa sebaran abu vulkanik mengarah ke baratdaya sesuai dengan arah angin.

Hak atas foto BNPB
Image caption Dari pantauan BNPB, kolom letusan abu vulkanik telah mencapai hingga 3.000 meter dari puncak kawah Gunung Agung, Minggu pagi.

Setelah erupsi, sekitar pukul 21.30 Wita, hujan abu tipis jatuh di beberapa desa di sekitar Gunung Agung, khususnya di sektor baratdaya, seperti Desa Besakih, dusun-dusun di bagian atas Desa Pempatan, dan Desa Temukus.

Lebih lanjut Sutopo mengatakan, masyarakat yang masih berada di dalam radius 6km dan perluasan sektoral ke arah Utara-Timurlaut dan Tenggara-Selatan-Baratdaya sejauh 7,5 km "dihimbau untuk segera mengungsi dengan tertib dan tenang".

Hak atas foto BNPB
Image caption Erupsi Gunung Agung difoto dari sektor timur di Desa Batur Kintamani, pukul 05.05 Wita, Minggu (26/11) pagi.

"Daerah tersebut harus dikosongkan sesuai rekomendasi PVMBG karena berbahaya," katanya.

'Penerbangan normal' di Bandara Nurah Rai

Sementara itu, Sabtu (25/11), dampak erupsi freatik Gunung Agung telah menyebabkan beberapa penerbangan dibatalkan.

Sebanyak delapan kedatangan penerbangan internasional dibatalkan dan 13 keberangkatan penerbangan internasional dibatalkan.

Hak atas foto SONNY TUMBELAKA/AFP
Image caption Seorang bocah mengabadikan puncak Gunung Agung dari kawasan Kubu, Karangasem, Bali, Minggu (26/11) pagi.

"Jumlah penumpang yang mengalami pembatalan penerbangan sekitar 2.087 penumpang," demikian keterangan resmi BNPB dalam situs resminya, Sabtu.

Namun demikian, otoritas Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali menyatakan bahwa bandara masih normal dan aman, kata Sutopo

"Operasional penerbangan berjalan lancar (normal), baik untuk kedatangan maupun keberangkatan. Hingga saat ini Volcano Observatory Notice for Aviation (VONA) masih kode Orange," jelasnya.

Menurutnya, adanya pembatalan beberapa penerbangan adalah merupakan inisiatif dari maskapai penerbangan masing-masing dengan alasan keselamatan penerbangan.

Berita terkait