Bandara Ngurah Rai 'ditutup', ratusan penerbangan dari dan menuju Bali terdampak

bandara ngurah rai Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Penutupan sementara Bandar udara Ngurah Rai, Denpasar, karena erupsi vulkanik Gunung Agung, menyebabkan setidaknya ada 402 penerbangan dari dan menuju Bali terkena dampaknya.

Penutupan sementara Bandar udara Ngurah Rai, Denpasar, karena erupsi vulkanik Gunung Agung, menyebabkan setidaknya ada 402 penerbangan dari dan menuju Bali terkena dampaknya.

Di Bandara Ngurah Rai, sempat terjadi penumpukan penumpang setelah otoritas terkait mengumumkan penutupan bandara, Senin (27/11) pagi, walaupun sebagian pengumpang telah mengetahui informasi itu sebelumnya dari media.

Sementara, beberapa calon penumpang di Bandara Sukarno Hatta, Jakarta, yang berencana ke Bali mengaku kecewa, tetapi kemudian memahami situasi darurat dari dampak erupsi gunung Agung.

Keterangan resmi otoritas terkait menyebutkan, penutupan sementara bandara Ngurah Rai karena "abu vulkanik Gunung Agung telah menutup ruang udara di atas Denpasar."

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Di Bandara Ngurah Rai, sempat terjadi penumpukan penumpang setelah otoritas terkait mengumumkan penutupan bandara, Senin (27/11) pagi, walaupun sebagian pengumpang telah mengetahui informasi itu sebelumnya dari media.

Demi "alasan keamanan", penerbangan dari dan menuju bandara tersebut kemudian ditutup sementara sampai pukul 07.00 Wita Selasa (28/11) besok, kata Direktur Operasi AirNav Indonesia, Wisnu Darjono dalam keterangan pers, Senin pagi.

Akibat penutupan ini, sekitar 400 penerbangan internasional dan domestik terkena dampaknya. "Untuk sementara terdapat 402 penerbangan datang dan berangkat yang akan terdampak," ujar Corporate Secretary AP I Israwadi kepada detikcom, Senin pagi.

Sebagai jalan keluarnya, pesawat yang tengah terbang - domestik maupun internasional - menuju Denpasar, akan dialihkan ke bandara-bandara terdekat seperti Jakarta, Makassar, atau Surabaya, ungkap Wisnu.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Sejumlah calon penumpang di Bandara Sukarno Hatta, Jakarta, Senin (27/11) yang berencana ke Bali mengaku kecewa, tetapi kemudian memahami situasi darurat dari dampak erupsi gunung Agung.

"Data yang masuk sementara ini terdapat tujuh penerbangan yang sudah dialihkan," jelas Wisnu dalam keterangan tertulisnya.

Status gunung Agung naik menjadi 'awas'

Menurut laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), kepulan abu gunung Agung yang terus-menerus "kadang-kadang disertai erupsi eksplosif" disertai "suara dentuman lemah" yang terdengar sampai jarak 12km dari puncak.

"Sinar api semakin sering teramati di malam hari berikutnya. Ini menandakan potensi letusan yang lebih besar akan segera terjadi," kata juru bicara BNPB, Sutopo Nugroho dalam rilis tertulisnya, Senin (27/11) pagi.

Hak atas foto BNPB
Image caption "Sinar api semakin sering teramati di malam hari berikutnya. Ini menandakan potensi letusan yang lebih besar akan segera terjadi," kata juru bicara BNPB, Sutopo Nugroho dalam rilis tertulisnya, Senin (27/11) pagi.

Untuk mengantisipasi segala kemungkinan dan risiko bencana, maka PVMBG telah menaikkan status Gunung Agung dari "Siaga" (level 3) menjadi "Awas" (level 4) terhitung mulai Senin (27/11) pukul 06:00 Wita.

"Status Awas adalah status tertinggi dalam status gunung api," tegas Sutopo.

Dijelaskan, pos pengamatan Gunung Agung di Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, melaporkan bahwa secara visual gunung Agung terlihat jelas.

"Asap kawah bertekanan sedang teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal dan tinggi 2,500-3,000 m di atas puncak kawah. Teramati letusan dengan tinggi 3,000 m dan warna asap kelabu."

Sutopo juga menyatakan: "Terlihat sinar api."

Kepada masyarakat di sekitar Gunung Agung diminta tidak berada atau tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya, yaitu di dalam radius 8km dari kawah.

Berita terkait