Bagaimana bisnis di Bali begitu Gunung Agung meletus?

Bali, Agung, bandara Hak atas foto EPA
Image caption Beberapa pertemuan yang dihadiri 100 sampai 200 orang dari Tiongkok dan sejumlah acara yang diadakan warga Indonesia telah dijadwal ulang di Bali.

Sebagian kegiatan bisnis di Bali terkena dampak negatif dari Gunung Agung yang kembali aktif sejak Selasa (21/11). Mulai dari pedagang cendera mata di jalan sampai ke usaha triliunan Rupiah.

Salah satu usaha yang terdampak adalah bisnis pariwisata pertemuan dan acara MICE (Meetings, Incentives, Conventions, and Events) yang yang mengumpulkan orang dalam kelompok besar untuk tujuan tertentu dan biasanya direncanakan jauh sebelumnya.

Presiden Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA), Asnawi Bahar, mengatakan erupsi Gunung Agung tentu membuat khawatir khalayak dunia yang ingin berkunjung ke Bali.

"Ini totally juga akan membuat image nya menjadi kurang baik. Ada rasa worry. Tetapi biasanya penurunannya itu tidak terlalu signifikan karena di Bali itu sebenarnya kan cukup luas pulaunya. Jadi tempat-tempat di mana conference atau event-event itu berlangsung sangat jauh daripada lokasi-lokasi musibah-musibah terjadi," kata Asnawi.

Data ASITA menunjukkan pembatalan pertemuan di Bali masih sangat kecil, contohnya beberapa pertemuan yang dihadiri 100 sampai 200 orang dari Tiongkok dan sejumlah acara yang diadakan warga Indonesia telah dijadwal ulang.

Jumlah wisatawan asing ke Bali mencapai empat juta orang tahun 2016 dan diperkirakan akan meningkat menjadi lima juta orang pada tahun ini. Sebanyak 40% dari jumlah itu terkait dengan MICE.

Dua juta orang ini biasanya mengeluarkan uang sekitar US$1.000-US$2.000 atau Rp13.500.000-Rp27.000.000 dalam acara yang biasanya berlangsung tiga sampai empat hari. Bisnis ini sendiri diperkirakan tumbuh sekitar 10% per tahunnya.

MICE bukan hanya melibatkan hotel bintang lima jaringan dunia, tetapi juga bisnis kecil yang terkait dengannya, mulai pembuat janur sampai ke layanan jemputan tamu.

Ketut Muliantara, pemandu wisata dari Nusa Bali Tour yang biasanya mendapatkan Rp1 juta per tur, mengatakan letusan Gunung Agung sangat mempengaruhi bisnisnya.

"Ya besar sekali. Untuk saat ini contohnya, untuk minggu ini kedatangan hampir kosong. Tidak ada kedatangan. Soalnya airport nya tutup dari tiga hari yang lalu sampai batas waktu mungkin diperkirakan buka lagi satu Desember. Itu pun belum pasti buka."

I Nyoman Darmaputra, dosen program studi pariwisata Universitas Udayana, mengatakan masyarakat memang hanya bisa menunggu karena manusia tidak bisa meramalkan atau mencegah bencana alam.

"Sebetulnya tidak banyak hal menyenangkan, yang mudah atau yang ringan, atau yang nyaman, yang bisa dilakukan dalam skala ancaman, kemungkinan ancaman bencana yang begini besar, ditandai dengan penutupan bandara," kata Nyoman.

Hak atas foto AFP Getty
Image caption Apakah orang-orang yang menghadiri pertemuan di Bali akan menggunakan jalan darat?

Jalan darat

Pemerintah Indonesia, lewat juru bicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Nugroho, menyatakan sejumlah tempat wisata tetap aman, tetapi letusan Gunung Agung memang membuat sebagian wisatawan terjebak di Bali.

"Tanah Lot, kemudian Sanur, Kuta, Ubud. Saya urusannya gunung terus jadi nggak tau tempat wisata. Jadi tempat itu masih aman ... Dan di luar itu, semuanya wisatawan dan memang yang dikhawatirkan para wisatawan adalah, bukan karena erupsinya, tetapi akses untuk pulang."

"Jadi terkait dengan bandara yang close, sehingga otomatis mereka terpaksa tetap tinggal lama atau mereka harus ke Jawa Timur, baik itu bandara di Juanda , kemudian Banyuwangi, Jogjakarta , Semarang, Solo atau di daerah lain. Dia harus menuju kesana baru bisa kembali," kata Sutopo pada Senin (27/11).

Pihak pengusaha pariwisata menawarkan sejumlah jalan keluar bagi orang-orang yang tetap ingin mengadakan acara di Bali dengan memberikan penjelasan dan mencapai pulau tersebut lewat jalan darat.

"Tamu-tamu tidak membatalkan, lalu mereka tidak bisa mendarat atau terbang ke Bali langsung maka masih ada alternatif-alternatif bandara yang masih dibuka, lalu nanti kita datangkan lewat darat. Kita menjelaskan kepada para calon tamu itu bahwa inilah kondisi di Indonesia," kata Asnawi Bahar dari ASITA.

Tetapi berbagai langkah yang diambil sejumlah pihak yang berkepentingan dengan bisnis pariwisata ini haruslah tetap disertai dengan pembukaan bandara, kata pengamat I Nyoman Darmaputra.

"Kalau penerbangan dibuka, saya kira silahkan saja datang ke Bali dan memang jarak Gunung Agung yang dari Nusa Dua itu sekitar 80-90 km diperkirakan tidak akan berdampak.

Tetapi kalau airport nya memang tutup, saran apapun tidak perlu disampaikan karena untuk datang saja mereka tidak bisa," kata pengajar pariwisata ini.

Topik terkait

Berita terkait