Dubes Palestina ikut acara Natal di gereja Grogol: Harapkan perdamaian dan tunjukkan toleransi

Natal Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Duta besar Palestina untuk Indonesia Zuhair Alshun dan Pendeta GBI Grogol Victor Rembeth.

Duta Besar Palestina untuk Indonesia Zuhair Alshun hadir dalam perayaan Natal di Gereja Baptis Indonesia Grogol, Senin (25/12) yang mengangkat tema tentang perdamaian dan harapan.

Dubes Zuhair Al Shun tampak dengan khidmat mengikuti acara dalam bahasa Indonesia.

Ketika menyampaikan pidato dalam acara Natal di GBI Grogol itu, Dubes Zuhair Alshun mengawalinya dengan mengucapkan salam Muslim, Assalamualaikum dan shalom yang disambut dengan ucapan walaikumsalam oleh ratusan jemaat yang hadir.

Zuhair mengaku kehadirannya dalam perayaan Natal ini merupakan yang pertama kali dilakukannya selama di Indonesia karena baru bertugas satu bulan.

Perayaan ini menurut pengakuannya, membuatnya merasa berada di Palestina, tempat Natal dirayakan oleh semua warga, tidak hanya Kristen tetapi juga Muslim.

"Saya bahagia dengan hari natal ini melarayakannya bersama saudara-saudara dari Indonesia, saya merasa saya berada di rumah, kami tahu bahwa warga palestina mendapatkan dukungan penuh dari orang dan pemerintah Indonesia. Dan kami sangat menghargainya," jelasnya seperti dilaporkan wartawan BBC Indonesia, Sri Lestari.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Duta besar Palestina mengharapkan doa perdamaian untuk Palestina dalam peringatan Natal.

Dalam pidatonya, Zuhair mengajak warga Indonesia berdoa untuk terus menyuarakan perdamaian dan mendukung upaya penghentian agresi Israel terhadap Palestina.

"Kota Yerusalem harus tetap terbuka untuk semua agama , Islam, Yahudi dan Kristen dan itu merupakan ibukota dari negara Palestina," kata dubes yang baru bertugas selama satu bulan di Indonesia itu.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Usai peringatan Natal, dubes Palestina untuk Indonesia bersalaman dengan Jemaat GBI Grogol.

Di Palestina, Hari Natal tak hanya dirayakan oleh umat Kristen tetapi juga Muslim. Setiap tahunnya, umat Kristen dari seluruh dunia hadir dalam peringatan Natal di Bethlehem yang dihuni oleh mayoritas Muslim Palestina.

Dalam pendudukan Israel ini, seluruh warga Palestina merasakan dampaknya. "Dari Tanah Suci, Yesus lahir di Tanah Palestina dan dan seperti yang dikatakan tentang harapan yang besar, kami harus berdoa kepada Tuhan untuk perdamaian," kata Dubes Palestina.

Zuhair menegaskan lagi bahwa konflik di Palestina-Israel bukanlah masalah agama, tetapi pendudukan terhadap wilayah negaranya.

"Konflik ini bukan masalah agama, masalah utama yang kami hadapi adalah penjajahan yang dilakukan terhadap tanah kami," jelas dia.

Hak atas foto AFP/Getty Images
Image caption Natal di Palestina diperingati oleh oleh warga dari berbagai agama.

Pendeta GBI Grogol Victor Rembeth mengatakan tujuan mengundang dubes Palestina untuk Indonesia karena sesuai dengan semangat Natal dan sebagai bentuk dukungan terhadap negara Palestina yang berdaulat.

"Seharusnya Natal membawa kepada siapapun, apalagi yang mengaku sebagai orang Kristen untuk bisa menjadi bagian untuk menghadirkan perdamaian dan harapan, kalau sekarang Palestina sedang berduka kita harus menunjukkan support. Jadi bukan masalah agama sama sekali," jelas Pdt Victor.

Victor mengatakan hari Natal kali ini dapat digunakan warga Indonesia untuk memberikan perhatian pada Palestina.

Dukungan pemerintah Indonesia dan tokoh lintas agama

Pemerintah Indonesia menyuarakan dukungan terhadap Palestina setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel dua pekan lalu. Sejumlah demonstrasi mendukung Palestina juga dilakukan berbagai kelompok masyarakat dan juga tokoh agama lintas Iman.

Hak atas foto AFP/Getty Images
Image caption Seseorang berpakaian Santa Klaus membagikan bendera Palestina ke pejalan kaki di Ramallah.

Ketua Presidium Konferensi Waligereja Indonesia, Mgr Ignatius Suharyo,mengatakan umat Katolik secara kolektif selalu mendoakan penyelesaian terbaik isu Israel-Palestina dengan menegaskan persoalan Palestina merupakan isu kemanusiaan dan bukan agama.

"Orang Katolik tentu ikut dengan sikap yang dipikirkan, dikatakan, dan dinyatakan oleh Paus Fransiskus. Paus mengakui negara Palestina secara eksplisit," kata Suharyo.

Dalam pernyataan tertulis Ketua Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia, Perwakilan Umat Budha Indonesia, Perisada Hindu Dharma Indonesia, dan Majelis Tinggi agama Khonghucu Indonesia juga mendorong penyelesaian damai konflik Palestina-Israel.

Berita terkait