Polisi masih cari tersangka pelaku ledakan bom di Polsek Bontoala Makassar

Polisi Hak atas foto Getty Images

Kepolisian daerah Sulawesi Selatan belum memastikan tersangka pelaku ledakan bom pipa di Kantor Polsek Bontoala, Makassar Sulawesi Selatan, pada Senin (01/01) dini hari.

Kapolda Sulawesi Selatan Irjen Pol Umar Septono mengatakan polisi masih memeriksa barang bukti yang ditemukan di lokasi dan juga mencari rekaman CCTV.

"Masih dalam proses penyelidikan, tidak bisa gegabah (menyebutkan) dari masuk kelompok mana, nanti kita lihat hasil perkembangan penyelidikan gabungan densus dan polda, yang jelas kita temukan barang bukti barang bukti dan masih mencari CCTV ada atau tidak, kita padukan dengan keterangan saksi," jelas Umar dalam keterangan pers.

Sejumlah barang bukti yang ditemukan di lokasi kejadian antara lain, pipa besi, serpihan baut dan mur.

Kapolda Sulsel menyebutkan bom memiliki daya ledak rendah.

"Paling tidak untuk melukai, tidak terlalu besar tapi dampaknya melukai," ungkap dia.

Ledakan menyebabkan dua orang aparat kepolisian terluka, antara lain Kapolsek Bontoala, Kompol Rafiuddin.

Serangan terhadap polisi

Serangan terhadap kantor atau personil kepolisian beberapa kali terjadi. Pada 2017 lalu, serangan terhadap kantor polisi juga terjadi di pos polisi yang menewaskan satu polisi di Sumatra Utara, pada Idul Fitri.

Pengamat terorisme yang juga merupakan Direktur Intitute for Policy Analysis of Conflict (IPAC), Sidney Jones meyakini adanya peningkatan terhadap aksi terorisme yang menyasar polisi, setidaknya sejak bom Sarinah pada 2016, polisi sudah menjadi target serangan bagi jaringan teroris.

"Jelas ada eskalasi, karena sekarang ini ada serangan dari siapa saja dan di mana saja dengan senjata, entah itu bom atau pisau, dan saya kira tujuannya betul-betul teror, membuat polisi Indonesia takut, untuk menunjukkan bahwa tidak ada orang yang aman walaupun mereka penegak hukum. Saya kira ada kemungkinan besar mereka terinspirasi dengan apa yang terjadi di Marawi," kata Jones dalam wawancara dengan BBC Indonesia pada Juli 2017 lalu.

Topik terkait

Berita terkait