10 tahun meninggalnya Soeharto, makamnya dipenuhi pengunjung

makam Soeharto Hak atas foto Fajar Sodiq
Image caption 10 tahun setelah meninggalnya Soeharto, makamnya ramai dengan para peziarah.

27 Januari 2018 tepat menandai 10 tahun meninggalnya Presiden ke dua Indonesia, Soeharto. Ratusan orang mengunjungi makamnya di Jawa Tengah, sebagian besar adalah pengagum penguasa Orde Baru itu.

Soeharto dimakamkan di kompleks makam keluarga Astana Giribangun di Matesih, Karanganyar, Jawa Tengah, sekitar 35 km di timur kota Surakarta.

Astana Giribangun berbentuk joglo dan memiliki tiga cungkup atau rumah kubur, salah satunya adalah cangkup Argosari.

Di cungkup inilah terletak makam Soeharto, Siti Hartina atau Ibu Tien, kedua orang tua dan kakak Ibu Tien.

Dan cangkup ini pada hari Sabtu, 10 tahun setelah meninggalnya Soeharto, ramai dengan para peziarah.

Meski tidak ada acara khusus peringatan haul Soeharto, namun sama seperti tahun-tahun sebelumnya, terjadi peningkatan jumlah peziarah.

Juru kunci Makam Astana Giribangun, Sukirno mengatakan sudah ada 700 pengunjung hingga siang hari.

Dari jumlah itu sebanyak 200 orang dari partainya Mas Tommy (Tommy Soeharto), Partai Berkarya yang berasal dari Bandung dan Kuningan, " ujar Sukirno.

Sebelumnya, ada rombongan Pangdam XII Tanjangpura, Mayjen TNI Achmad Supriyadi yang berziarah di makam Soeharto. "Rombongan berjumlah 35 orang. Pangdam ini dulunya Danrem Surakarta, " kata Sukirno.

Hak atas foto Fajar Sodiq
Image caption Saat era reformasi, Astana Giribangun sempat sepi pengunjung.

Namun anak-anak Soeharto hingga saat itu belum ada yang berziarah. Sukirno mengatakan, yang terakhir datang ke makam adalah Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto.

"Ibu Titiek terakhir ziarah ke makam sekitar satu setengah bulan yang lalu," kata Sukirno.

"Yang sering ziarah Ibu Titiek dan Ibu Mamiek (panggilan Siti Hutami Endang Adiningsih)," tambahnya.

Meski begitu, Sukirno langsung meluruskan bahwa anak-anak Soeharto lainnya yaitu Bambang Trihatmodjo, Siti Hardiyanti Rukmana dan Hutomo Mandala Putra yang sering dipanggil Tommy Soeharto, juga sering berkunjung.

Sempat sepi di masa reformasi

Sukirno mengisahkan bahwa saat era reformasi, Astana Giribangun sempat sepi pengunjung.

"Bu Tien meninggal 1996, sejak itu Giribangun ramai pengunjung. Bahkan sampai 12.000 orang tiap harinya", papar Sukirno.

"Tahun 1998, masa reformasi, sepi pengunjung. Bahkan kita menutup kompleks makam selama satu bulan sebagai tindakan preventif."

Menurut Sukirno, saat ini rata-rata jumlah pengunjung sebanyak 300 orang setiap hari. Namun saat hari libur umum, jumlah pengunjung dapat mencapai 3.000 orang.

"Jika dilihat dari Sabang sampai Merauke, sekitar 35 persennya dari Jawa Timur," terangnya.

Lonjakan pengunjung ini diiringi dengan meningkatnya penjualan suvenir.

Satu souvenir yang paing laris adalah kaos bergambar Soeharto yang bertuliskan 'Piye Kabare Bro, Isih Penak Jamanku To' (Apa kabarnya Bro, lebih enak zamanku kan?)

"Kalau banyak peziarah pasti yang beli souvenirnya juga banyak," kata Sukirno.

Hak atas foto Fajar Sodiq
Image caption Kaos yang bertuliskan 'Piye Kabare Bro, Isih Penak Jamanku To' menjadi suvenir di makam Soeharto.

"Ambil positifnya saja"

Bagi para peziarah, mengunjungi makam Soeharto adalah bentuk penghormatan kepada mantan penguasa Orde Baru itu.

Jazim Aziz sampai meluangkan waktu dari Yogyakarta untuk memperingati haul Soeharto.

"Pak Harto sebagai Bapak Pembangunan bisa membawa spirit bagi kami ini untuk melanjutkan perjuangan beliau. Kami berdoa untuk beliau agar amal baiknya diterima, dosanya diampuni," kata Jazim.

Ditanyakan mengenai "dosa" pelanggaran HAM dan korupsi besar-besaran di pemerintahan Soeharto, Jazim hanya menanggapi bahwa baginya, Soeharto adalah pahlawan.

"Satu hal yang wajar jika orang memiliki sisi negatif dan positif. Tapi bagi kami Pak Harto tetap memiliki kelebihan," jawab Jazim.

Ketua Umum Partai Berkarya Neneng A Tuty juga memberikan respon serupa, menganggap Soeharto sebagai pahlawan dan berziarah untuk "memohon doa restu agar partainya bisa berkiprah di dunia perpolitikan".

"Kita ambil yang positifnya saja," kata Neneng.

10 tahun sebelum kematiannya, Soeharto mundur dari kursi kepresidenan yang dijabatnya selama 32 tahun.

Selama berkuasa, Soeharto dituduh melakukan pelanggaran HAM dan membiarkan anak-anak dan keluarganya melakukan korupsi.

Dilaporkan oleh Fajar Sodiq dari Solo

Berita terkait