Kecelakaan konstruksi terulang lagi, pengamat sebut ada 'kegagalan manajemen'

konstruksi Hak atas foto Bea Wiharta/Getty Images

Untuk kesekian kalinya kecelakaan konstruksi terjadi. Yang terbaru, alat berat proyek pembangunan empat jalur kereta atau (double-double track) yang menghubungkan Manggarai dan Jatinegara ambruk pada Minggu (04/02) pagi.

Pengamat konstruksi menilai kecelakaan konstruksi yang berulang, lantaran kegagalan manajemen konstruksi.

Ambruknya alat berat crane di proyek pembangunan empat jalur kereta terjadi di Mataraman, Jakarta Pusat, pada Minggu pagi, ketika lima orang pekerja sedang menaikkan bantalan rel.

Lantaran posisinya tidak pas bantalan rel jatuh dan menimpa pekerja, menewaskan empat orang.

Guru Besar Manajemen Konstruksi Universitas Pelita Harapan (UPH), Manlian Ronald Simanjuntak, mengusulkan perbaikan manajemen konstruksi untuk mencegah kecelakaan dengan melibatkan semua pihak.

"Sudah beberapa kali terjadi, seharusnya belajar banyak ya. Ini bukan cuma kegagalan teknis tapi kegagalan manajemen konstruksi," kata Ronald kepada BBC Indonesia pada Minggu (04/02).

Dirjen Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Arie Setiadi Moerwanto, mengaku insiden ini bukanlah yang pertama, dan menyebutkan minimnya pengawasan jadi penyebab kecelakaan dalam proses kontruksi.

"Pengawasan yang kurang ketat ya yang kemarin-kemarin ini terjadi, dan kasusnya girder, itu ada juga workability dari sistem itu yang perlu ditindaklanjuti. Artinya, di atas kertas bagus, alat tersebut bagus, namun pada proses pengerjaan perlu ketelitian yang sangat tinggi," ujar Arie

Untuk mencegah kecelakaan dalam proyek infrastruktur sebenarnya telah dibentuk Komite Keselamatan Konstruksi (KKK), dengan salah satu tugasnya adalah pengawasan.

Selain itu Arie mengatakan prosedur selama proses konstruksi harus ditaati.

Menyusul ambruknya alat berat crane, konsorsium pelaksana proyek ini langsung terjun ke lapangan untuk memastikan situasi yang kondusif, baik bagi para pekerja dan masyarakat sekitar.

"Sejak kejadian hingga saat ini kami terus bekerja-sama dengan pihak kepolisian yaitu dengan membuat pengamanan radius 300 meter di seputar lokasi kejadian, serta memastikan semua peralatan dalam kondisi stabil, dalam rangka memastikan keamanan bagi masyrakat sekitar lokasi pasca kejadian," ujar Sekretaris Perusahaan PT Hutama Karya, Adjib Al Hakim, dalam keterangan tertulis.

Hak atas foto kompas.com
Image caption Kondisi terakhir crane yang ambruk pada Minggu (04/02) pagi.

Bantalan rel tidak pas

Berdasarkan informasi dari pihak Kepolisian Sektor Jatinegara, insiden ambruknya alat berat crane di proyek DDT terjadi pada Minggu (04/02) pukul 05:00 WIB, ketika lima orang pekerja sedang menaikkan bantal rel dengan menggunakan alat berat jenis crane.

Ketika bantalan rel sudah berada di atas namun dudukannya tidak pas sehingga bantal rel jatuh menimpa korban yang mengakibatkan keempat korban meninggal dunia.

Adapun keempat korban meninggal adalah Jaenudin (44 tahun) dengan luka di kepala, Dami Prasetyo (25 tahun) dengan kondisi badan hancur, Jana Sutisna (44 tahun) dengan luka di kepala dan Joni (34 tahun) dengan luka di kepala, serta tangan kiri dan kanan patah.

Hak atas foto detik.com
Image caption Ambulans yang digunakan untuk mengevakuasi pekerja yang tertimpa crane. Empat korban dinyatakan meninggal dunia.

Dua di antaranya tewas di tempat, sementara dua yang lain meninggal di Rumah Sakit Premier Jatinegara dan Rumah Sakit Hermina Jatinegara. Sejumlah pekerja lainnya mengalami luka-luka.

Proyek proyek fasilitas perkeretapian jalur Manggarai-Jatinegara ini dikerjakan konsorsium Hutama Karya-Modern dan Mitra.

PT Hutama Karya sebagai pelaksana proyek menegaskan bertanggung jawab atas jatuhnya korban jiwa tersebut.

"Kami pastikan keluarga korban mendapatkan segala kompensasi dan santunan yang sudah menjadi haknya," ujar Sekretaris Perusahaan Hutama Karya Adjib Al Hakim.

Menyusul ambruknya crane, konsorsium pelaksana proyek ini langsung terjun ke lapangan untuk memastikan situasi yang kondusif, baik bagi para pekerja dan masyarakat sekitar.

Hak atas foto detik.com
Image caption Kondisi cuaca yang hujan dianggap menjadi salah satu faktor penyebab jatuhnya crane pada Minggu (04/02) pagi.

"Sejak kejadian hingga saat ini kami terus bekerja-sama dengan pihak Kepolisian yaitu dengan membuat pengamanan radius 300 meter di seputar lokasi kejadian, serta memastikan semua peralatan dalam kondisi stabil, dalam rangka memastikan keamanan bagi masyarakat sekitar lokasi pasca kejadian," ungkap Adjib.

Dia pula menegaskan pihaknya akan bekerja sama dengan Komite Keselamatan Konstruksi untuk melakukan investigasi lebih lanjut.

Dirjen Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Arie Setiadi Moerwanto yang juga Ketua Sub-komite Jalan dan Jembatan Konstruksi Keselamatan Konstruksi mengaku sudah menerima laporan kecelakaan konstruksi yang terjadi dini hari tersebut.

Saat ini, pihaknya sudah di lapangan mengumpulkan data untuk evaluasi.

"Kru sudah di lapangan buat mengevaluasi semuanya, kemudian nanti akan ada rapat untuk membahas itu kaitannya dengan kajian tersebut" ujar Arie.

Ahli manajemen konstruksi Manlian Ronald Simanjuntak menilai insiden ambruknya crane ini hampir mirim dengan kecelakaan konstruksi yang terjadi sebelumnya.

Konstruksi beton (box girder) proyek kereta ringan atau Light Rapid Transit (LRT) yang menghubungkan Kelapa Gading-Velodrome di Jalan Kayu Putih, Pulo Gadung, Jakarta Timur, roboh pada bulan lalu.

"Saya melihatnya mirip-mirip ya dengan yang di Kayu Putih, itu juga terjadi pada dini hari, Waktu pemasangan dari pihak owner mesti ada safety engineering-nya (keselamatan teknis). Dari pihak pelaksana kontraktor juga mesti ada. Apalagi kaliber kontraktor sebesar ini," kata dia.

Dalam aspek manajemen konstruksi, lanjut Ronald, faktor keselamatan konstruksi melibatkan aspek desain, aspek procurement atau pengadaan alat sebelum konstruksi, dan aspek proses konstruksi.

Ia kemudian menyoroti aspek procurement dan aspek proses konstruksi dalam insiden ambruknya crane proyek DDT di Matraman.

Hak atas foto ROMEO GACAD
Image caption Dalam aspek manajemen konstruksi, faktor keselamatan konstruksi melibatkan aspek desain, aspek procurement atau pengadaan alat sebelum konstruksi, dan aspek proses konstruksi.

"Ini kalau kita lihat yang di Matraman itu kegagalan alat," cetusnya.

Apa pasal? Sebelum menggunakan crane -yang merupakan alat berat yang digunakan sebagai alat pengangkat dalam proyek konstruksi- semestinya dilakukan dulu pengecekan besaran alat, proses dan beban yang diangkat crane tersebut.

"Lucunya, kok bisa patah? Kan kita mesti lihat dulu besarnya, bebannya, bukan hanya spesifikasi alatnya, juga waktu pemasangan seperti apa," kata dia.

Apa langkah selanjutnya?

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mencatat ada 13 kecelakaan konstruksi terjadi sejak Agustus tahun lalu.

Di bulan Januari 2018 saja, tercatat empat kecelekaan kerja di sektor konstruksi, yakni pada proyek pembangunan jalan tol Depok-Antasari, jatuhnya girder dan tiang pada proyek LRT serta runtuhnya atap Manhataan Mall dan Kondominium di Medan.

Menindaklanjuti maraknya kasus kecelakaan konstruksi yang marak terjadi akhir-akhir ini, kementerian membentuk Komite Keselamatan Konstruksi (KKK) pada akhir bulan lalu.

Hak atas foto ROMEO GACAD
Image caption Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mencatat ada 13 kecelakaan konstruksi terjadi sejak Agustus tahun lalu.

Dirjen Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Arie Setiadi Moerwanto yang juga Ketua Sub-komite Jalan dan Jembatan Konstruksi Keselamatan Konstruksi mengungkapkan untuk memastikan kecelakaan konstruksi tak lagi terulang, Arie menegaskan pentingnya bekerja sesuai prosedur selama proses konstruksi.

"Yang pasti semua prosedur kerja itu kita tekankan untuk dilakukan dengan baik. Kemudian juga sertifikasi semua pekerja dan peralatan," ujar Arie.

Berita terkait