Seputar Muslim Cyber Army: sebarkan isu PKI bangkit, pembunuhan ulama, hingga tim sniper

MCA Hak atas foto Detikcom/Rengga Sancaya
Image caption Dugaan keterkaitan kelompok MCA dengan kelompok Saracen, menurut polisi, didasarkan pendalaman di media sosial.

Walau belum menemukan aktor intelektual di balik keberadaan kelompok Muslim Cyber Army (MCA) yang diduga menyebarkan berita bohong dan ujaran kebencian, kepolisian mengklaim telah menemukan kaitan antara kelompok itu dengan kelompok Saracen, yang dibongkar polisi tahun lalu.

"Dari klaster di Jatim, Jabar, Banten, terlihat bahwa di udara pelakunya terhubung satu sama lain. Pelaku-pelaku yang tergabung dalam MCA juga tergabung dengan cluster X atau mantan Saracen. Ini sangat terlihat," ungkap Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Brigjen M Fadil Imran, dalam jumpa pers di Mabes Polri, Senin (05/03).

Keberadaan kelompok Saracen -yang juga menyebarkan berita bohong bernuansa SARA- berhasil dibongkar kepolisian pada tahun lalu. Sebagian pimpinannya telah divonis bersalah dan sudah menjalani hukuman pidana penjara.

Dugaan keterkaitan kelompok MCA dengan Saracen ini, menurut staf ahli Kapolri bidang sosial dan ekonomi, Irjen Gatot Eddy Pramono, didasarkan pendalaman di media sosial.

"Kita menemukan koneksi (di media sosial) ini," kata Gatot di hadapan wartawan. Keterkaitan itu, lanjutnya, terlihat dalam kasus penyebaran berita hoaks terkait dugaan penyerangan terhadap ulama.

Hak atas foto Mabes Polri
Image caption Keberadaan kelompok Saracen, yang juga menyebarkan berita bohong bernuansa SARA, berhasil dibongkar kepolisian tahun lalu.

Temuan kepolisian, tambah Irjen Gatot, hanya ada tiga kasus dugaan penyerangan terhadap ulama namun oleh kelompok ini disebarkan informasi bohong bahwa ada lebih dari 40 kasus penganiayaan serupa.

"Mulai 2 Februari, isu penganiayaan terhadap ulama terus digulirkan, diviralkan sampai dengan 27 Februari," ungkap Fadil Imran.

Sebelumnya, Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian mengatakan sisa-sisa kelompok Saracen 'masih eksis' menyebarkan hoaks dan ujaran kebencian di media sosial.

Hak atas foto Detikcom/Rengga Sancaya
Image caption Dalam wawancara dengan sebuah stasiun TV, sebagian tersangka mengaku mereka bergerak sendiri tanpa kaitan dengan perorangan atau kelompok tertentu.

"Diviralkan dua kelompok. Yang sekarang ditangani Mabes adalah MCA dan sisa eks Saracen," ujar Tito sambil menambahkan kedua kelompok bermotif politik.

"Dari konten pembicaraan disampaikan bagaimana caranya kita legitimasi dan jatuhkan pemerintah," tegas Kapolri.

Namun demikian, polisi mengaku sejauh ini masih mendalami kemungkinan aktor utama di belakang keberadaan kelompok Muslim Cyber Army.

Hak atas foto Reuters
Image caption Polisi masih mendalami kemungkinan aktor utama di belakang keberadaan kelompok Muslim Cyber Army.

Dalam wawancara dengan sebuah stasiun TV nasional, sebagian tersangka mengaku mereka bergerak sendiri tanpa ada kaitan dengan perorangan atau kelompok tertentu.

"Tidak ada dana yang mengalir ke kami, baik perorangan ataupun organisasi, atau apapun itu, tidak ada," kata salah-seorang tersangka yang tidak disebutkan jati dirinya, kepada Metro TV.

Siapa Muslim Cyber Army?

Menurut Direktur Kriminal Umum Polda Jabar, Kombes Polisi Umar Surya Fana, MCA mirip dengan kelompok Saracen dalam konteks membuat berita hoaks yang kemudian diviralkan.

Namun perbedaannya, menurutnya, Saracen -yang memiliki struktur organisasi, seperti ketua, sekretaris, dan koordinator daerah- terbukti menerima pesanan dan mendapat bayaran.

Hak atas foto Reuters
Image caption Anggota MCA bisa mencapai ribuan karena komunitas tersebut sangat cair dan terbuka sehingga orang dengan mudah menjadi anggota atau follower, kata polisi.

Adapun MCA , menurut Umar, merupakan organisasi tanpa bentuk di dunia maya. Anggota MCA bisa mencapai ribuan karena komunitas tersebut sangat cair dan terbuka sehingga orang dengan mudah menjadi anggota atau follower (pengikut).

Jumlah followernya yang banyak kemudian mengerucut pada tim inti yang disebut Family MCA.

Umar menyebutkan, MCA Indonesia ini menginduk ke United MCA, jaringan internasional yang telah berhasil memecah belah Suriah dan Irak.

Mereka ditangkap di mana saja?

Salah-seorang tersangka baru kelompok MCA adalah pria berinisial BG, 34 tahun, di wilayah Sumatera Utara -yang menurut polisi- sebagai admin sekaligus tim 'snipper' Muslim Cyber Army (MCA).

"Tim Siber Bareskrim Polri kembali menangkap pelaku hate speech, SARA dan hoaks dengan tersangka atas nama BG," kata Direktur Tindak Pidana Siber Polri Kombes, Fadil Imran, Senin (05/03).

Hak atas foto KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN
Image caption Tersangka penyebar hoaks dari kelompok MCA ditangkap di berbagai kota di Indonesia, seperti Jakarta, Yogyakarta, Bali, Surabaya dan Malang.

Menurutnya, admin bertugas mengelola akun-akun MCA, sementara sniper bertugas menyerang akun-akun yang dianggap lawan dengan mengirimkan virus yang merusak perangkat elektronik si penerima.

Sebelumnya, Rabu (28/02), polisi membekuk enam orang yang diduga pelaku penyebaran isu provokatif dan ujaran kebencian yang tergabung dalam MCA.

Mereka adalah ML (40 tahun) ditangkap di Tanjung Priok, Jakarta, RSD (35 tahun) di Pangkal Pinang, RS (39 tahun) di Bali, Y (24 tahun) di Sumedang, serta RC di Palu.

Dan di Surabaya, Jumat (02/03), Polda Jawa Timur menangkap dua orang yang diduga menyebarkan hoaks di media sosial, yang ditengarai berafiliasi dengan MCA.

Hak atas foto Twitter
Image caption Kelompok Saracen, menurut polisi, terbukti menerima pesanan dan mendapat bayaran.

Mereka ditangkap bersama dua orang lainnya, yaitu dari Surabaya, Malang, Probolinggo, dan Sumenep.

Polda Jabar juga menangkap terduga pelaku penyebaran berita hoaks yaitu seorang dosen berinisial TAW (40 tahun), warga Desa Tirtomartini, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.

Berita bohong: penganiayaan ulama, kebangkitan PKI

Temuan polisi menyebutkan salah-satu berita bohong yang disebarkan kelompok MCA adalah pembunuhan atau penganiayaan terhadap ulama atau kyai yang jumlahnya mencapai 40 kasus.

Mabes Polri mencatat isu 'pembunuhan atau penganiayaan' diviralkan di media sosial oleh kelompok MCA sepanjang Februari 2018.

Hak atas foto TRIBUN JABAR/MEGA NUGRAHA
Image caption Kapolda Jabar Irjen Pol Agung Budi Maryoto bersilaturahmi dengan sejumlah pengurus organisasi keagamaan di Jabar, menyusul dua kasus penganiayaan ulama di wilayah Jabar.

"Mulai tanggal 2 Februari isu penganiayaan terhadap ulama itu terus digulirkan, diviralkan, sampai dengan tanggal 27 Februari," ungkap Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Brigjen, Fadil Imran, saat konferensi pers di Jakarta.

Menurut Kapolri Jendral Tito Karnavian, dari 45 isu penyerangan ulama yang beredar di media sosial, kenyataannya hanya tiga peristiwa yang benar terjadi di lapangan.

"Hanya tiga yang benar ada peristiwanya. Korbannya adalah ulama, atau pengurus masjid. Di Jawa Timur satu, di Jawa Barat dua," ungkap Kapolri sambil menegaskan bahwa sisanya adalah berita bohong.

Berita bohong lainnya, menurut polisi, adalah yang disebut sebagai isu kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI). Dalam kasus ini, Polda Jabar telah menangkap AS, 28 tahun, yang diduga menyebarkan berita bohong bahwa PKI adalah pelaku penganiayaan seorang ulama setempat.

"Sementara motif yang kita dapatkan hanya ingin mengatakan bahwa PKI bangkit," ungkap Dirkrimsus Polda Jabar, Kombes Pol Samudi, Rabu (28/02) dengan terduga sampai memiliki sembilan akun Facebook yang isinya bernuansa sama.

Tim 'sniper' MCA: apa tugasnya?

Penangkapan terhadap BG, yang berusia 34 tahun, di wilayah Sumatera Utara, mengungkap cara kerja yang dilakukan kelompok MCA.

Menurut temuan polisi, BG diduga memiliki peran sebagai admin sekaligus tim 'sniper' Muslim Cyber Army (MCA).

Hak atas foto Detik/Rengga Sancaya
Image caption Polda Jabar menangkap terduga pelaku yang diduga menyebarkan berita hoaks yaitu seorang dosen berinisial TAW (40 tahun), warga Kabupaten Sleman, DIY.

"Pelaku, yang menggunakan profile picture seorang anak kecil di akun FB Bobby Siregar dan Bobby Gustiono, sering memposting ujaran kebencian dan hoaks ke group-group FB yang diikutinya," ungkap Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Brigjen Fadil Imran.

Dikatakan, setidaknya ada 50 grup di Facebook yang diikuti Bobby, yang memiliki tugas khusus.

"Ada tiga tugas khusus yang dilakukan Bobby di MCA. Pertama sebagai admin dari tiga grup Facebook MCA. Kedua, melaporkan akun-akun 'lawan' agar dinonaktifkan oleh pihak Facebook.

"Dia (BG) mampu menonaktifkan lebih dari 300 akun Facebook setiap bulannya," ungkap Fadil.

Polisi mengatakan BG juga memberikan tutorial tentang pembuatan akun Facebook palsu kepada anggota groupnya: "Biasanya Bobby mengambil identitas orang lain seperti e-KTP, SIM, paspor dan lainnya melalui Google agar tidak di-suspend."

Seperti tersangka lainnya dari kelompok MCA, BG disangka melanggar UU tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dan/atau UU tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis dengan ancaman hukuman maksimal enam tahun penjara.

Berita terkait