'Seksisme dan bias agama' dalam proses beasiswa LPDP, wartawan BBC raih penghargaan Diversity 2018

sejuk Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Wartawan BBC Indonesia, Abraham Utama (kanan, kemeja kotak-kotak), terpilih sebagai pemenang Diversity Award 2018 untuk kategori media online.

Wartawan BBC Indonesia, Abraham Utama, melalui karya jurnalistiknya tentang proses wawancara seleksi program beasiswa LPDP yang dianggap berbau SARA, intimidatif dan tidak relevan, berhasil meraih penghargaan Diversity Award 2018.

Digelar oleh Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK), penghargaan itu diberikan karena berkat liputan itu, praktek dugaan berbau SARA, intimidatif dan tidak relevan - yang diduga sudah berlangung lama itu - kemudian dibenahi oleh otoritas terkait.

"Liputan BBC Indonesia tentang seleksi program beasiswa LPDP itu telah menjadi viral, meluas sehingga Menteri Keuangan Sri Mulyani harus turun tangan untuk membenahinya," kata Andy Budiman, pendiri SEJUK sekaligus salah-seorang juri, Kamis (29/03) malam di Jakarta.

Dalam empat artikel berita secara berturut-turut, BBC Indonesia merupakan media massa pertama yang mengungkap persoalan tersebut sepanjang November 2017.

Salah-satunya, artikel komprehensif oleh Tunggal Pawestri, seorang feminis yang pertama kali membongkar kontroversi itu melalui rangkaian percakapan di Twitter, yang disambut pengakuan sejumlah orang yang mengalami masalah itu.

Menkeu Sri Mulyani menanggapi

Kepada BBC Indonesia, sejumlah saksi menceritakan apa yang mereka alami saat proses seleksi program LPDP, diantaranya ada yang ditanya yang bertendensi urusan agama, ras, suku, hingga rumah tangga yang bersifat pribadi, serta tidak relevan.

Setelah dugaan praktek seperti terungkap, Menteri Keuangan Sri Mulyani saat itu berkomitmen untuk membenahi seluruhnya mulai dari tata kelola, proses rekrutmen, manajemen awardee dan alumni.

Pegiat isu gender dan hak asasi manusia, Tunggal Pawestri yang pertama kali memantik proses seleksi yang janggal ini, merespons positif reaksi dari Kemenkeu terkait persoalan ini, tetapi ia berharap bahwa 'ini tidak hanya jawaban diplomatis saja'.

'Media jangan terseret perpecahan politik'

Dalam sambutannya, Direktur Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (Sejuk), Ahmad Junaidi, mengatakan penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi atas karya-karya jurnalistik yang tidak sekadar memberitakan fakta, tetapi menunjukkan komitmen kepada semangat keragaman.

Hak atas foto Eko Sulistyanto/Facebook
Image caption Direktur Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (Sejuk), Ahmad Junaidi (tengah. berkacamat), mengatakan penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi atas karya-karya jurnalistik yang tidak sekadar memberitakan fakta, tetapi menunjukkan komitmen kepada semangat keragaman.

"(Yaitu) dengan menyuarakan secara tegas penghormatan, perlindungan, dan pemenuhan hak-hak warga negara dalam beragama dan mengekspresikan keyakinannya sesuai tuntunan konstitusi dan hak asasi manusia," ungkap Junaidi di hadapan undangan.

Junaidi juga menekankan agar media tidak mentoleransi politisasi SARA apapun dalam Pilkada serentak maupun Pilpres.

"Sikap tegas media seperti itu sangat dibutuhkan untuk menangkal menguatnya polarisasi masyarakat sebagaimana terjadi dalam Pilkada DKI Jakarta tahun lalu yang berlanjut dengan kasus-kasus persekusi," tandasnya.

Dia mengingatkan pula agar media tidak memperkeruh dan mengobarkan sentimen SARA di tahun-tahun politik ini. "Media jangan sampai ikut terseret ke dalam perpecahan politik yang menggunakan agama dan etnis," ujarnya.

"Karena kerusakannya sangat besar bagi bangsa ini yang hingga kini masih berlanjut, terutama di media sosial."

Diversity Award sendiri adalah penghargaan kepada karya-karya jurnalistik yang kuat dan mendalam menyuarakan isu toleransi beragama.

Minus karya jurnalistik kategori cetak

Wartawan BBC Indonesia, Abraham Utama, terpilih sebagai pemenang Diversity Award 2018 untuk kategori media online.

Adapun untuk kategori radio, penghargaan diberikan kepada wartawan Elshinta di Semarang, Yuniar Kustanto, dengan karya berjudul 'Asyuro Kota Semarang, Pembubaran tak Kunjung Usai' .

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Mantan Ketua umum PP Muhammadiyah, Ahmad Syafii Maarif, dalam kuliah umumnya, mengajak masyarakat untuk tidak berdiam diri terhadap kemunculan kelompok-kelompok intoleransi yang menggunakan alasan agama.

Sementara wartawan CNN Indonesia biro Surabaya, Miftah Faridl, berhasil menang untuk kategori televisi dengan liputan tentang 'Tragedi Bom Bali 1: Belajar Ikhlas dari Penyintas'.

Dan untuk kategori foto, wartawan foto Radar Bali, Miftahuddin Mustofa Halim, meraih penghargaan atas karyanya yang berjudul 'Keberagaman (di lapangan bola)'.

Sedangkan Diversity Award tahun ini tidak diberikan kepada kategori cetak, karena dewan juri tidak mendapatkan karya-karya jurnalistik cetak yang memenuhi persyaratan.

Diversity Awards ini diusung oleh SEJUK yang berdiri tahun 2008 dari kegelisahan para jurnalis akibat meningkatnya diskriminasi kaum minoritas saat itu.

Buya Syafii Maarif: Lawan praktek intoleransi dengan beradab

Mantan Ketua umum PP Muhammadiyah, Ahmad Syafii Maarif, dalam kuliah umumnya, mengajak masyarakat untuk tidak berdiam diri terhadap kemunculan kelompok-kelompok intoleransi yang menggunakan alasan agama.

"Mari kita hadapi segala macam kekerasan, persekusi, dan sejenisnya. Apalagi dengan marakmya medsos, hoaks menjadi tantangan berat. Namun kita jangan diam," tegasnya di hadapan hadirin saat penghargaan Diversity Award 2018, Kamis (29/03) malam di Jakarta.

"Orang normal jangan diam. Jangan diam. Kalau yang normal diam, mereka akan merajalela," tandasnya yang kemudian dibalas tepuk tangan oleh tamu undangan. Jika ini dibiarkan, Buya khawatir akan merajalelasnya 'polisi swasta'.

Namun demikian, dia mengingatkan agar perlawanan itu tidak menggunakan kekerasan. "Jika mereka berteriak, kita jangan teriak. Tapi harus tegas," katanya. Dia juga meminta polisi bertindak tegas terhadap tindakan-tindakan kelompok intoleran.