Pencemaran tumpahan minyak di Teluk Balikpapan: 'Sudah tiga hari kami mencium bau solar'

Teluk Balikpapan Hak atas foto Walhi Kaltim
Image caption Para pegiat lingkungan di Kalimantan Timur menganggap tumpahan minyak ini telah menyebar sekitar tujuh kilometer di pesisir Teluk Balikpapan. Mereka juga menyebut kasus ini sebagai pencemaran berat.

Sebagian warga di pesisir kota Balikpapan, Kalimantan Timur, mengaku terdampak akibat terbakarnya tumpahan minyak yang dilaporkan telah menyebar lebih dari lima kilometer di perairan Teluk Balikpapan.

Mereka mengeluhkan bau menyengat dan mengaku khawatir atas tumpahan minyak yang terjadi pada Sabtu (31/03) itu menyebar hingga di sekeliling rumahnya di pinggir laut.

"Sudah tiga hari ini masih mencium bau (seperti solar)," ungkap Mukmin, seorang nelayan yang tinggal di Kampung Margasari, di kawasan pesisir kota Balikpapan, Kalimantan Timur.

Rumah Mukmin, yang berdiri di atas pinggiran laut, juga terdampak. "Kalau air pasang, banyak minyak, yang menempel di dinding dan tiang."

Hak atas foto Tribunkaltim.co/Siti Zubaidah
Image caption Sebagian warga di pesisir kota Balikpapan, Kalimantan Timur, mengaku terdampak akibat terbakarnya tumpahan minyak yang dilaporkan telah menyebar lebih dari lima kilometer di perairan Teluk Balikpapan.

Dan semenjak terbakarnya tumpahan minyak di Teluk Balikpapan, Sabtu (31/03), dirinya tidak berani melaut untuk mencari ikan. "Lautnya hitam, itu jadi kendala, dan kita takut."

Dia juga masih trauma setelah rekannya meninggal dunia terbakar akibat tumpahan minyak di perairan Teluk Balikpapan, seperti diungkapkannya kepada wartawan Smart FM di Balikpapan, Debi Aditya.

Kekhawatiran seperti ini barangkali juga dirasakan sebagian warga Balikpapan yang tinggal kawasan Pantai Kilang Mandiri, Melawai, Klandasan Ulu, hingga Sepinggan. Di kawasan ini, terlihat tumpahan minyak dengan warna hitam pekat dengan ketebalan berbeda.

Darurat lingkungan

Sejak Senin (02/04), Pemerintah Kota Balikpapan telah menyatakan keadaan darurat atas kasus ini, dan mereka terus berupaya membersihkan minyak dan melokalisirnya agar tidak menyebar.

"Darurat lingkungan untuk kawasan pesisir Balikpapan yang terkena dampak tumpahan minyak," kata PLT Wali Kota Balikpapan, Rahmad Mas'ud, kepada wartawan, Senin.

Hak atas foto Kompas/Lukas Adi Prasetya
Image caption Tumpahan minyak di Teluk Balikpapan itu telah berdampak tidak baik terhadap lingkungan di kawasan itu, yang antara lain ditandai kematian sejumlah pesut, Minggu (01/04).

Dengan ditetapkannya darurat lingkungan, Pemerintah Provinsi Kaltim dan Pemerintah Kota Balikpapan bisa bersama-sama melakukan penanganan dan penyelidikan atas kasus ini.

Rahmad Mas'ud berjanji untuk terus memimpin dan mengendalikan tumpahan minyak agar tidak menyebar. "Jangan sampai melebar dan berdampak terhadap lingkungan dan rakyat Balikpapan," ujar Rahmad.

Ditemukan pesut mati

Bagaimanapun, tumpahan minyak di Teluk Balikpapan itu telah berdampak tidak baik terhadap lingkungan di kawasan itu, yang antara lain ditandai kematian sejumlah pesut, Minggu (01/04).

Hak atas foto Tribun Kaltim/M Fachri Ramadhani
Image caption Pemerintah Kota Balikpapan telah menyatakan keadaan darurat atas kasus ini, dan mereka terus berupaya membersihkan minyak dan melokalisirnya agar tidak menyebar.

Hewan-hewan itu ditemukan terdampar di pesisir kawasan Klandasan Ulu dan diduga akibat tumpahan minyak itu.

"Sudah ada indikasi tidak baik untuk ekosistem. Buktinya ada pesut yang mati. Di dalamnya sudah ada kontaminasi minyak," ungkap Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Balikpapan, Suryanto, kepada wartawan Smart FM di Balikpapan, Etty Hariyani, Senin (02/04).

Dia mengkhawatirkan, apabila tumpahan minyak ini tidak segera ditangani lebih cepat, akan merusak ekosistem di kawasan Teluk Balikpapan. "Makanya kita harus cepat menanganinya, biar cepat recovery-nya," tandas Suryanto.

Sampai Selasa (03/04), ratusan personil gabungan, seperti dari Polri, TNI, dan Pertamina, terus membersihkan minyak di sejumlah titik di pinggir pantai di kawasan teluk tersebut. Mereka menggunakan gayung, menciduknya dan menampungnya dalam ember.

Hak atas foto TRIBUN KALTIM/FACHMI RACHMAN
Image caption Sampai Selasa (03/04), ratusan personil gabungan, seperti dari Polri, TNI, dan Pertamina, terus membersihkan minyak di sejumlah titik di pinggir pantai di kawasan teluk tersebut.

"Ini sudah berjalan dua hari," kata Kabid Humas Polda Kaltim, Kombes Pol Ade Yaya, kepada BBC Indonesia, Rabu (03/04), melalui sambungan telepon.

Tim gabungan juga menggunakan teknik oil boom untuk melokalisir atau mengurung tumpahan minyak terutama yang agak di tengah laut. "Supaya bisa membatasi ruang gerak minyak dan bisa terkumpul yang kemudian disedot," ungkap Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Balikpapan, Suryanto.

Kepada warga yang tinggal di pesisir dan terdampak tumpahan minyak ini, Suryanto meminta berhati-hati saat menghidupkan api. "Apalagi cuaca yang panas terik, saya khawatir ada penguapan tinggi."

Pemerintah Kota Balikpapan sudah memutuskan untuk mendahulukan pembersihan minyak di sekitar pemukiman penduduk di kawasan pesisir.

Ungkap siapa pelakunya

Para pegiat lingkungan di Kalimantan Timur menyebut kasus ini sebagai "pencemaran berat" dan mereka menuntut aparat hukum untuk mengungkap siapa penyebab tumpahnya minyak tersebut.

Hak atas foto Walhi Kaltim
Image caption Walhi menyatakan dampak tumpahan minyak di Teluk Balikpapan ini masuk kategori "pencemaran berat" karena termasuk limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3).

"Kerusakan yang ditimbulkan cukup serius, bukan hanya ekosistem lautnya, tetapi juga terpaparnya manusia," kata Fathur Roziqin Fen, Direktur Eksekutif Daerah WALHI Kalimantan Timur, Selasa (03/04) kepada BBC Indonesia, melalui sambungan telepon.

"Karena aroma menyengat, yang seperti aroma solar, masih dirasakan warga kota Balikpapan," ungkap Fathur.

Menurutnya, dampak tumpahan minyak di Teluk Balikpapan ini masuk kategori "pencemaran berat" karena termasuk limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 101 tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah B3.

Karena itulah, Fathur dan sejumlah pegiat lingkungan hidup di Kaltim mendesak agar aparat hukum mengungkap siapa yang bertanggungjawab atas tumpahan minyak ini.

"Kami mendesak penegak hukum untuk membuka temuan investigasi yang telah dan sedang dilakukan," katanya. Hal ini untuk memastikan tindakan hukum yang akan ditempuh, tambahnya.

Tanggapan Pertamina

Bagaimanapun pihak berwenang belum berhasil mengungkap sumber tumpahan minyak, meski tudingan antara lain sempat diarahkan ke fasilitas milik Pertamina.

Hak atas foto TRIBUN KALTIM/FACHMI RACHMAN
Image caption Kapolda Kaltim Irjen Polisi Priyo Widyanto mengatakan penyelidikan kasus ini masih berlangsung, termasuk pihaknya masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium atas sample minyak yang tumpah.

Sebuah tuduhan yang langsung diluruskan oleh General Manager PT Pertamina RU 5 Balikpapan, Togar MP, kepada wartawan di Balikpapan, Sabtu (31/03), tidak lama setelah terbakarnya tumpahan minyak di Teluk Balikpapan.

"Pipa Pertamina dari Penajam ke Balikpapan, berada dari jauh dari titik api yang terjadi tadi (Sabtu) siang," kata Togas MP.

Dia menjamin bahwa tumpahan minyak itu bukan berasal dari fasilitas Pertamina. Dia juga menegaskan bahwa tidak ada kebocoran pipa minyak mentah distribusi Lawe-lawe.

Secara terpisah, Kapolda Kaltim Irjen Polisi Priyo Widyanto mengatakan penyelidikan kasus ini masih berlangsung, termasuk pihaknya masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium atas sample minyak yang tumpah:

"Pihak Puslabfor sudah mengambil (contoh minyak yang tumpah), kemudian dibawah ke laboratorium apakah jenis minyaknya. Hasilnya akan diketahui setelah ada pemeriksaan," kata Priyo Widyanto kepada wartawan Smart FM di Balikpapan, Debi Aditya, untuk BBC Indonesia, Selasa (03/04).

"Kita akan menyelidiki, apakah tumpahan minyak itu dari kapal yang membuang limbah, apakah jalur pipa, itu belum bisa kita pastikan sekarang. Masih kita verifikasi ya," tandasnya.

Berita terkait