Bagaimana Parinah, TKW yang hilang kontak 18 tahun di Inggris, dilacak dan ditemukan?

Parinah Hak atas foto KBRI London
Image caption Parinah pulang setelah dipekerjakan majikan di Brighton, Inggris, tanpa gaji dalam 18 tahun terakhir.

Mimpi Parinah tak berbeda dengan tenaga kerja wanita (TKW) kebanyakan di Indonesia. Bekerja di luar negeri agar bisa mengumpulkan uang untuk membantu keluarga.

Harapan tersebut berakhir pahit karena sejak dibawa ke Brighton, kota di Inggris selatan, oleh majikan pada Mei 2001 -setelah sebelumnya bekerja di Arab Saudi- ia tak pernah digaji. Tak hanya itu, ia juga dilarang ke luar rumah sendirian.

Rumah majikan Parinah dekat dengan kantor pos, yang memungkinkan Parinah mengirim surat ke keluarganya di Banyumas, Jawa Tengah. Parinah dua kali mengirim surat.

Yang pertama pada 2005 dan yang kedua pada awal 2018. Isinya sama: sudah tidak betah, ingin untuk pulang dan berkumpul bersama keluarga di Indonesia.

Mungkin karena selama ini komunikasi sudah terputus, keluarga Parinah di Banyumas akhirnya memutuskan untuk menghubungi kantor Badan Penempatan dan Perlindungan TKI (BNP2TKI) setempat, yang kemudian meneruskan informasi ke Kemenlu dan ke KBRI di London.

Anisa Farida, pejabat di bagian konsuler KBRI London, mengatakan berbekal informasi ini pihaknya menghubungi secara baik-baik majikan Parinah dan meminta agar Parinah dibolehkan pulang.

Disinggung pula penyelesaian hak-hak Parinah tanpa harus melalui proses hukum.

Namun dalam dua kali pembicaraan melalui telepon pada bulan lalu, majikan Parinah menegaskan tidak ada Parinah di rumahnya.

KBRI lantas menghubungi unit perbudakan modern kepolisian London. Polisi bergerak dan pada awal April mendatangi rumah majikan Parinah.

Hanya dikasih uang jajan

Parinah ketika itu sedang berada di depan rumah.

"Saya sedang bersih-bersih... tahu-tahu ada polisi menanyakan nama saya dan bertanya apakah saya ingin pulang (ke Indonesia)," kata Parinah dalam pembicaraan melalui telepon kepada wartawan BBC Indonesia, Mohamad Susilo.

Hak atas foto KBRI London
Image caption Parinah dilarang ke luar rumah sendirian oleh majikan. Tapi rumah majikan dekat dengan kantor pos yang membuatnya bisa mengirim surat ke keluarga di Banyumas, Jawa Tengah.

Polisi meminta Parinah untuk masuk mobil namun Parinah menolak.

"Saya bilang saya akan beri tahu majikan dulu. Polisi bersikeras meminta saya masuk ke mobil. Saya akhirnya masuk ke mobil sementara polisi masuk ke dalam rumah," katanya.

Parinah diinapkan ke hotel di Brighton sambil menjawab pertanyaan-pertanyaan polisi.

Keesokan harinya staf KBRI membawa Parinah ke London dan pada Selasa (10/04) malam Parinah terbang ke Jakarta.

"Rasanya tentu senang, bahagia, bisa pulang," kata Parinah.

Parinah mengatakan ia sebenarnya sudah beberapa kali minta pulang tapi majikan selalu menjawab 'nanti, nanti saja'. Ia mengaku tak pernah mendapatkan perlakukan buruk secara fisik, namun ia tak pernah digaji.

"Cuma sekali saja saya meminta uang. Saya diberi £1.000 pada 2001 atau 2002 yang kemudian saya kirim ke keluarga. Namun setelah itu saya tak pernah digaji. Saya dikasih uang, tapi majikan bilang ini untuk uang jajan atau uang hadiah," kata Parinah.

KBRI London mengatakan kasus Parinah tengah ditangani polisi dan akan dilimpahkan ke pengadilan dengan harapan klaim kompensasi yang diajukan Parinah bisa dibayar.

Parinah berharap ia bisa mendapatkan hak-haknya yang tak dipenuhi selama 18 tahun terakhir.

Sebelum naik ke pesawat, Parinah mengatakan, "Pesan saya, bagi mereka yang ingin mencari pekerjaan, cari saja pekerjaan di dalam negeri agar bisa dekat dengan keluarga..."

Berita terkait