Pasca rusuh Mako Brimob: Jaksa gagal hadirkan Aman Abdurrahman di sidang tuntutan berbagai kasus teror

Aman Abdurrahman Hak atas foto BAY ISMOYO/AFP/Getty Images

Namanya disebut-sebut dalam kerusuhan di Mako Brimob oleh 155 napi terorisme yang menewaskan lima polisi, Jaksa gagal menghadirkan Aman Abdurrahman untuk menjalani sidang sebagai terdakwa berbagai kasus serangan teror Jumat (11/5) ini.

Dalam kerusuhan di Mako Brimob, Selasa (8/5), polisi menyebut bahwa para napi kasus terorisme yang menyandera enam polisi (lima kemudian terbunuh), menuntut bertemu dengan Aman Abdurrahman, yang juga ditahan di rutan Mako Brimob.

Sedianya, Jumat (11/05) ini, jaksa akan membacakan tuntutan terhadap Aman Abdurrahman yang didakwa sebagai dalang sejumlah serangan teror. Namun ditunda karena Aman Abdurrahman tak bisa dihadirkan.

"Kami tidak bisa menghadirkan terdakwa karena kendala teknis, dan kami belum siap melakukan penuntutan," kata jaksa penuntut umum, Anita Dewayani di hadapan majelis hakim, sebagaimana dilaporkan wartawan BBC News Indonesia, Heyder Affan dari sidang di pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Jaksa kemudian meminta agar sidang ditunda pekan depan. Majelis hakim yang dipimpin Ahmad Zaini kemudian memutuskan sidang ditunda hingga Jumat (18/05) mendatang.

Jaksa menolak menjelaskan "kendala teknis" yang menyebabkan Aman Abdurrahman tidak bisa dihadirkan.

"Kami sudah berusaha mendatangkan, tapi karena ada kendala teknis, kami tidak bisa menghadirkan," kata Eri Riyanto, salah seorang jaksa penuntut umum, kukuh tak memberikan detil.

Ditanya BBC Indonesia, apakah Aman tidak bisa dihadirkan karena insiden di rutan Mako Brimob? "Tidak ada hubungannya dengan itu," katanya.

Hak atas foto Oscar Siagian/Getty Images
Image caption Para anggota polisi merayakan keberhasilan menyelesaikan kerusuhan dan pendudukan sejumlah sel di Mako Brimob oleh 155 napi kasus terorisme yang menewaskan lima rekan mereka.

Sementara, pengacara Aman Abdurrahman, Asrudin Hatjani membenarkan bahwa kliennya tidak bisa menghadiri sidang karena kendala teknis, walaupun kondisinya sehat.

"Karena situasi sekarang belum kondusif, karena ada kerusuhan di Mako Brimob," ungkap Asrudin.

Menurutnya, kliennya saat ini masih mendekam di LP Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah. "Tapi saya masih kesulitan berkomunikasi setelah kerusuhan itu," ungkapnya.

Aman Abdurrahman, menurutnya, bersikukuh tidak terlibat dalam serangkaian kasus bom sejak 2016 lalu, termasuk bom Thamrin.

"Dia bersikukuh tidak terlibat dalam bom Thamrin dll, tapi dia mengakui melakukan tausyiah dan meyakini Daulah itu ada," katanya.

Menurutnya, tausyiah itu dilakukan melalui medsos dan diikuti oleh para pengikutnya.

Aman Abdurrahman adalah terdakwa untuk berbagai serangan terorisme, trmasuk serangan bom Thamrin, Jakarta, 14 Januari 2016, yang menewaskan empat orang korban dan empat pelaku, serta melukai 26 orang.

Dalam sidang sebelumnya, di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis (27/4), Aman Abdurrahman menyebut Indonesia adalah negara kafir karena 'ideologinya bukan Islam dan tak menerapkan hukum Allah.' Namun saat itu, menjawab Majelis Hakim yang diketuai Akhmad Jaini, ia membantah menjadi dalang serangan bom Thamrin

Aman mengatakan ia justru tahu terjadinya serangan bom di Thamrin dari napi lain yang melihat berita itu di penjara. Menurutnya, para pelaku membaca-baca soal jihad kekerasan dari internet.

Pengacara Aman, Asrudin Atjani, mengatakan para pelaku serangan mungkin menafsirkan sendiri tulisan atau ceramah Aman.

Hak atas foto BAY ISMOYO/AFP/Getty Images
Image caption Dalam kerusuhan di Mako Brimob, polisi menyebut para napi kasus terorisme menuntut juga untuk brtemu Aman Abdurrahman.

Namun jaksa penuntut Mayasari yakin ada keterkaitan antara terdakwa Aman Abdurrahman dan bom Thamrin.

"Dia bilang tidak memerintahkan tapi juga tidak melarang (serangan di Jalan Thamrin). Dia sepaham dengan para pelaku serangan. Sebagai tokoh spiritual, dia mengamini semua tidakan (pelaku seranan)," kata jaksa Mayasari kepada BBC di sela rehat sidang.

Mayasari mengatakan Aman adalah tokoh ISIS di Indonesia, yang menulis buku Seri Materi Tauhid. Di persidangan buku yang ditulis oleh Aman itu diperlihatkan sebagai barang bukti.

"(Buku) Tauhid itu kuncinya. (Di dalamnya) dibahas banyak hal, termasuk perintah untuk jihad," kata Mayasari.

"Aman adalah tokoh. Orang beramai-ramai menjenguknya di Nusakambangan untuk mendapatkan konfirmasi ilmu, sekaligus minta di-baiat (pernyataan janji setia). Buku karangan Aman dijadikan landasan atau referensi kelompok-kelompok jihad," katanya.

Dalam pemeriksaan oleh majelis hakim, Aman menyebut bahwa dalam bukunya itu ia menyerukan orang Islam untuk tidak ikut memilih dalam Pemilihan Umum.

"Kalau punya KTP, tidak diharamkan. Tapi kalau (ikut) pemilu tidak boleh," kata Aman.

Seorang hakim bertanya, mengapa Aman menyebut Indonesia adalah negara kafir.

Itu karena, kata Aman, "pertama, ideologinya bukan Islam. Kedua, sistemnya demokrasi terbuka, dan hukum yang berlaku bukan hukum Allah."

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Aman Abdurrahman menulis buku yang disebut-sebut merupakan rujukan para pejihad.

Dalam perkara ini, Aman didakwa sebagai aktor intelektual lima kasus teror, yaitu Bom Gereja Oikumene di Samarinda tahun 2016, Bom Thamrin (2016) dan Bom Kampung Melayu (2017) di Jakarta, serta dua penembakan polisi di Medan dan Bima (2017).

Menurut jaksa, ceramah dan 'kajian' keagaman Aman mempengaruhi sejumlah orang yang kemudian menjadi para pelaku teror dengan sasaran polisi dan tentara.

Aman terancam hukuman mati, namun ia menolak didampingi pengacara.

Selain pernah divonis bersalah pada kasus Bom Cimanggis, pada 2010, Densus 88 menjerat Aman atas tuduhan membiayai pelatihan kelompok teror di Jantho, Aceh Besar, kasus yang menjerat puluhan orang, termasuk Abu Bakar Ba'asyir.

Dalam kasus itu Aman divonis sembilan tahun penjara.

ISIS pernah mengeluarkan seruan kepada pengikut mereka untuk melakukan amaliah di negara masing-masing. Amaliah ini merupakan tindakan dalam bentuk serangan.

Setelah terjadinya serangan bom Thamrin di Jakarta, tahun 2016, yang mengakibatkan delapan orang tewas, dan 26 luka-luka, ISIS mengeluarkan pernyataan bahwa tentara mereka adalah pelakunya.

Topik terkait

Berita terkait