Pengeboman di Surabaya: 'Marah, sedih, dan trauma' jemaat gereja

gereja Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Jemaat Gereja Santa Maria Tak Bercela dan dari gereja lainnya berdatangan guna memberi dukungan doa kepada para keluarga korban serangan bom.

Setelah bom mengguncang pada Minggu (13/05), sejumlah pekerja tampak memperbaiki dan membersihkan Gereja Santa Maria Tak Bercela—salah satu dari tiga gereja yang diserang.

Secara perlahan, umat gereja berkapasitas 1.500 orang itu mulai bangkit kembali, termasuk Pastur Rekan Aloysius Widyawan yang kehilangan enam jemaatnya.

"Kaget, marah, kok bisa seperti itu, sedih luar biasa, campur aduk," ungkap Romo Widyawan mengomentari serangan yang terjadi di gereja.

"Ditambah lagi, dengan suasana mencekam, harus memikirkan apa yang akan terjadi karena pasti orang pasti trauma, anak-anak terutama," tambahnya ketika diwawancarai wartawan BBC News Indonesia, Mehulika Sitepu dan Oki Budhi.

Perkataan Romo Widyawan merujuk kepada keluarga korban, semisal Wenny dan Erry Hudojo. Serangan bom pada Minggu (16/05) merenggut nyawa kedua anak mereka, Vincentius Evan dan Nathaniel Ethan.

Bom meledak ketika Evan dan adiknya hendak memasuki gereja. Erry, ayah kedua anak itu, sedang memarkir mobil. Wenny, sang ibu juga terluka.

Pada Rabu (16/05), ratusan orang menghadiri ibadah penutupan peti jenazah Evan dan Ethan di persemayaman Adijasa Surabaya.

Sebelum ibadah, Wenny, dengan kursi roda dan infus yang masih melekat di tubuhnya, memilah barang-barang pribadi kedua anaknya.

Meski pucat, Wenny tampak berupaya tegar, begitu pun suaminya.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Jenazah Nathaniel Evan dan Vincentius Evan telah dimasukkan ke dalam peti untuk kemudian dimakamkan. Mereka adalah dua kakak-beradik yang menjadi korban serangan bom di Gereja Santa Maria Tak Bercela.
Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Ratusan orang menghadiri ibadah tutup peti dua kakak-beradik yang menjadi korban serangan bom.

Bagi para umat di Gereja Kristen Indonesia Jalan Diponegoro, yang juga diserang pada Minggu pagi, pemulihan trauma adalah langkah penting.

"Nanti malam kita akan mulai melakukan pendekatan ke jemaat. Adakah jemaat-jemaat yang memerlukan layanan-layanan itu, pasti banyak anak-anak terutama dan orang dewasa yang mengalami trauma akibat kejadian kemarin ini," terang Daniel Theopilus Hage, Ketua Umum Majelis Jemaat GKI.

Dia mencontohkan trauma yang dihadapi seorang ibu di gerejanya yang ditemuinya saat evakuasi.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Sejumlah pekerja memperbaiki dan membersihkan Gereja Santa Maria Tak Bercela—salah satu gereja yang dilanda serangan bom.

"Ketika saya mengatakan, 'Bu, bisa pulang, bisa naik mobil sudah dijemput', dia ketakutan untuk naik mobil. Dia bilang, 'Pak bisa dicek di mobil saya ada bom atau tidak?'. Memang ekspresi wajahnya sangat ketakutan saat itu," kisah Daniel.

Di Gereja Santa Maria Tak Bercela dan GKI Jalan Diponegoro tampak hadir beberapa wakil dari Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) serta dari perwakilan beberapa gereja di kota lain untuk memberi dukungan kepada para jemaat.

Hak atas foto ANTARA FOTO/ADITYA PRADANA PUTRA
Image caption Ketua GP Ansor Jateng, Sholahudin Aly (kiri), rohaniawan Katolik Romo Aloys Budi Purnomo (kedua kiri), rohaniawan Romo Notowardoyo (ketiga kiri), bersama sejumlah anggota Banser berdoa bersama untuk korban peristiwa bom Surabaya, Minggu (13/5).

Nahdlatul Ulama, organisasi Islam terbesar di Jawa Timur dan Indonesia, juga memberi dukungan dalam hal pengamanan.

"Tapi nanti apapun yang diperlukan dalam koordinasi aparat kepolisian dan pemerintah kota, (walikota) Bu Risma dalam hal ini, kita siap akan bantu, untuk fasilitas umum, keamanan di sekitarnya," kata Muhibbin Zuhri, Ketua PCNU Surabaya.

Dengan semua dukungan yang diberikan, Gereja Santa Maria Tak Bercela mengaku sudah siap untuk beribadah pada hari Minggu seperti biasa, namun masih menunggu instruksi dari kepolisian.

Gereja Kristen Indonesia juga sudah bisa beroperasi seperti biasa.

Adapun Gereja Pantekosta Pusat Surabaya di Jalan Arjuno yang menderita kerusakan paling parah, masih diberi garis polisi.

"Misalnya potongan-potongan tubuh, itu masih berceceran, itu yang kita cari. Untuk kita satukan, kita identifikasi," papar Juru bicara Polda Jatim, Frans Barung Mangera.

Hingga saat ini, bom bunuh diri di tiga gereja memakan 13 korban sipil. Di antara para jenazah, terdapat terduga pelaku, yakni keluarga yang terdiri dari enam orang— termasuk dua anak perempuan.

Berita terkait