Tarawih berjamaah di Monas "rawan digunakan untuk mobilisasi politik"

Monas Hak atas foto ADEK BERRY/AFP/GETTY IMAGES
Image caption Sebelum pemerintahan Anies-Sandi, Monas dilarang digunakan untuk kegiatan keagamaa.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno akan memindahkan lokasi salat tarawih akbar dari Monumen Nasional ke dalam masjid setelah rencananya dikritik oleh beberapa pihak.

"Kemungkinan ke Istiqlal, bisa juga ke Jakarta Islamic Center, atau bisa ke Masjid Raya Hasyim Asyari. Bisa di mana saja. (Kritik) ini masukan buat kami," kata Sandiaga Uno seperti dilaporkan berbagai media.

Pemprov DKI Jakarta awalnya berencana mengadakan salat tarawih akbar di Monumen Nasional pada 26 Mei mendatang.

Namun Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia Pusat Cholil Nafis mengkritik rencana itu, mengatakan bahwa salat lebih baik dilakukan di masjid yang memang adalah tempat sujud. Terlebih lagi ada masjid besar di dekat Monas yang bisa menampung - Masjid Istiqlal.

"Shalat tarawih itu menurut sebagian ulama, adalah salat malam. Maka lebih baik sembunyi atau di masjid," ungkap Cholil Nafis.

"Makanya kalau salat di Monas karena (alasan demi) persatuan, sama sekali tak ada logika agamanya dan kebangsaannya. Pikirkan, yang mau disatukan itu komunitas yang mana?"

Hak atas foto SYAMSUL BAHRI MUHAMMAD
Image caption Sebelumnya, berbagai aktivitas umum kerap diadakan di kawasan Monas, termasuk Jakarta maraton.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta Tinia Budiati mengungkapkan bahwa belum pernah Monas dijadikan lokasi salat tarawih, dan jika rencana itu terwujud, maka akan menjadi salat tarawih pertama di areal monumen seluas 80 hektar itu.

Meski begitu, Monas sudah sering dijadikan tempat acara-acara keagamaan di masa lalu dan sesudah pemerintahan Jakarta di bawah Anies Baswedan-Sandiaga Uno.

Sebelumnya, kegiatan keagamaan dilarang diadakan di cagar budaya dan zona netral tersebut.

"Rawan digunakan untuk mobilisasi politik"

Menurut pengamat politik Islam Dwi Rubiyanti Kholifah, sedang terjadi penguatan simbol-simbol keagamaan dan terus dibesarkan, salah satunya dengan wacana salat tarawih akbar di tempat publik seperti Monas.

"Harusnya ini dihindari. Karena mungkin akan memberikan ekspresi berbeda di Indonesia," papar Dwi Rubiyanti.

Hak atas foto ADEK BERRY/AFP/GETTYIMAGES
Image caption Monas dipilih untuk tempat salat atau tabligh akbar karena lokasinya yang strategis dan bisa menampung jumlah yang masif.

Ditambahkan Country Director Asian Muslim Action Network itu, bahwa sesudah kencangnya politisasi agama jelang pemilihan gubrnur beberapa waktu lalu, terjadi pengerasan simbol agama di ranah publik.

"Saya sangat khawatir kalau ini dilanjutkan akan semakin mengkristal. Dan sangat rawan dipakai untuk mobilisasi politik."

"Kalau sudah kerumunan banyak, kita itu tidak bisa mengendalikan lagi agendanya apa. Sehingga memungkinkan sekali atas nama agama, orang bisa melakukan mobilisasi politik."

Monumen Nasional dapat digunakan untuk kegiatan keagamaan disahkan dalam Peraturan Gubernur DKI Jakarta Nomor 186 Tahun 2017 Pasal 10 ayat 1 yang dikeluarkan pada 24 November 2017.

Sandiaga menambahkan pada Senin (21/05) bahwa alasan awalnya saat berencana mengadakan tarawih di kawasan Monas karena area itu, "Sangat instagramable gitu. Mempersatukan (umat) dan sangat instagramable," katanya.

Atas komentar itu, warganet pun menanggapi dengan menggunakan tagar #TarawihInstagrammable.

Berita terkait