Apakah puasa membantu kita bekerja lebih maksimal?

WeFast Hak atas foto Peter Bowes
Image caption Anggota kelompok WeFast bertemu setiap Rabu untuk berbuka puasa bersama.

Puasa berselang-selang telah menjadi cara populer untuk mengendalikan ukuran lingkar pinggang, namun apakah cara tersebut juga dapat membantu kita menjalani hari terbaik selama sepekan kita bekerja?

Puasa yang sudah lama dipraktikkan baru-baru ini menjadi populer berkat metode-metode diet tertentu seperti 5:2 yang melibatkan pemangkasan jumlah kalori pada hari-hari tertentu.

Dan ada bukti bahwa membatasi kalori mempunyai keuntungan jangka panjang, termasuk memperbaiki suasana hati serta kualitas tidur lebih baik.

Tetapi para pekerja teknologi di California, AS, mendapati manfaat baru dari praktik berpuasa. Mereka mengatakan pada hari ketika tidak makan, mereka merampungkan lebih banyak pekerjaan di kantor.

Mereka mengaku mengalami kelincahan mental yang lebih baik dan mampu memusatkan perhatian lebih baik pula pada pekerjaan.

Kelompok pekerja itu menyebut diri WeFast, komunitas online dari yang disebut biohackers yang berpendapat bahwa mengutak-utik biologi tubuh manusia akan membuat kita dapat hidup lebih sehat dengan hidup yang lebih terpenuhi pula.

Masing-masing orang menjalankan puasa dengan jenis berbeda, mulai dari tanpa makan selama 36 jam sampai pada puasa lebih berat selama 60 jam.

Yang lain mengikuti rezim berpuasa selama 23 jam setiap hari. Gagasannya adalah menyelaraskan akhir dari puasa dengan makan pagi di tengah pekan.

Fungsi kognitif

Sebuah perusahaan perintis di San Francisco, Nootrobox, yang muncul dengan gagasan WeFast. Perusahaan itu memproduksi apa yang disebut obat pintar atau dikenal dengan nama nootropics, yang mengandung senyawa-senyawa sah untuk memperbaiki fungsi kognitif.

Berpuasa menjadi budaya perusahaan, dan meskipun tidak wajib, setiap anggota tim yang terdiri dari 13 orang menjalankan puasa pada hari Selasa.

Hak atas foto AP
Image caption Penduduk Kabul, Afghanistan, mengantre untuk mendapatkan bantuan makanan pada bulan Ramadan 2016. Selain memiliki makna keagamaan, puasa diyakini mempunyai dampak baik bagi kesehatan.

Pada Rabu pagi, mereka berkumpul bersama anggota kelompok WeFast lain -yang jumlahnya sudah mencapai 1.200 orang- untuk menyantap makan pagi.

Makan pagi di warung sekitar itu berfungsi sebagai acara saling memberikan dukungan antara lain dengan berbagi cerita pengalaman berpuasa.

"Bagi saya, hal yang paling menarik dan bagi banyak orang di kelompok ini adalah gagasan untuk lebih produktif di kantor," kata Geoff Woo, salah satu pendiri dan CEO Nootrobox.

Mereka mungkin mengetahui sesuatu.

Sejumlah penelitian menunjukkan puasa dalam bentuk berbeda-beda dapat berdampak besar bagi tubuh manusia. Puasa membuat berbagai perubahan pada level sel, mempengaruhi banyak sistem metabolisme, seperti memberikan bahan bakar ke otak dan mempengaruhi cara tubuh mengatasi stres.

Dan meskipun dampak puasa pada performa kerja belum dibuktikan secara ilmiah, banyak orang yang menjalani rezim puasa -seperti di komunitas WeFast - melaporkan bahwa mereka mengalami rasa waspada yang lebih tinggi -yang mirip dengan rasa senang setelah kita berlari jarak jauh.

Penelitian laboratorium menunjukkan bahwa perubahan-perubahan biokimia di otak bisa jadi penyebab dasar. Mark Mattson, profesor ilmu saraf di Universitas Johns Hopkins, mengatakan penelitiannya menunjukkan bahwa perubahan kimia di otak menyebabkan kemampuan kognitif yang lebih baik.

Diperkirakan bahwa orang merasa lebih enak ketika mereka mulai membakar lemak tubuh -dan bukannya karbohidrat dari makanan- untuk sumber energi, kata Dr Eric Verdin, peneliti di Institut Gladstone, San Francisco. Proses ini dikenal dengan nama ketosis.

Penyesuaian

Hak atas foto AFP
Image caption Setelah menjalankan puasa, tubuh manusia dapat menyesuaikan diri dengan jumlah makanan yang dikonsumsi.

Jadi bagaimana dengan rasa lapar tiba-tiba, mudah kesal, atau 'rasa kesal karena lapar'? Mungkin akan sulit pada awalnya, tetapi tubuh kita menyesuaikan keadaan.

"Ketika seseorang yang tidak pernah berpuasa mulai berpuasa, mereka akan mengalami sakit kepala ringan dan tidak nyaman," jelas Dr Verdin.

"Namun, setelah berpuasa lagi terjadi perubahan metabolisme dari seluruh organisme dan penyesuaian diri. Kami menduga, adaptasi ini merupakan salah satu alasan mengapa kita merasa lebih baik dan lebih baik setelah berpuasa selama waktu tertentu, sampai pada puasa keempat atau kelima, kita merasa jauh lebih enak dibandingkan sebelum berpuasa."

Kendati demikian, berpuasa tidak selalu aman bagi setiap orang, khususnya perempuan yang sedang hamil atau menyusui, maupun orang yang mengalami diabetes dan gangguan-gangguan metabolisme lain.

Ketika tubuh sudah mengalami stres, dan fungsi normal dipertaruhkan, maka membatasi nutrisi ke dalam tubuh kita dapat memperburuk kondisi.

Bagi siapa pun yang ingin mencoba 'biohack', mereka lebih baik berkonsultasi dengan dokter dulu.

Tulisan dalam bahasa Inggris berjudul Can giving up food make you work better? dan artikel-artikel lain dapat Anda baca di BBC Capital.

Topik terkait

Berita terkait