Masalah ras dalam pilpres AS

Obama
Image caption Masih ada pertanyaan apakah warga AS siap memilih presiden kulit hitam

Untuk pertama kali pertama dalam sejarah Amerika, rakyat di negara itu dihadapkan pada pilihan antara seorang calon presiden kulit putih dan seorang calon presiden kulit hitam.

Pencalonan Senator Barack Obama menimbulkan berbagai pertanyaan soal ras. Apakah Amerika Serikat siap memilih orang kulit hitam?

Apakah pemilih Afrika-Amerika yang menggunakan hak suara mereka akan melonjak gara-gara faktor Obama?

Belum lagi faktor pemilih Hispanik atau keturunan Spanyol. Barack Obama sendiri jarang menyebut ras dalam kampanye.

Dia tidak ingin dilihat sebagai calon presiden yang hanya punya daya tarik bagi pemilih kulit hitam.

Tetapi ketika berbagai khotbah pastornya Jeremiah Wright yang dianggap anti Amerika dan anti kulit putih terungkap, Obama akhirnya berkomentar soal ras.

"Meskipun orang tergoda untuk melihat pencalonan saya semata-mata dari kacamata ras, kami menang besar di negara - negara bagian yang berpenduduk mayoritas mutlak kulit putih," kata dia.

"Di Carolina Selatan, tempat bendera Konfederat masih berkibar, kami berhasil membangun koalisi yang kuat antara warga Amerika keturunan Afrika dan warga Amerika kulit putih," katanya.

Sebelum itu dan sejak pidato itu ras tidak disebut secara eksplisit oleh ke dua kandidat.

Berbau Arab

Tetapi soal latar belakang Barack Obama, entah itu ras, entah karena namanya yang berbau Arab, Barack Husein Obama, serta agamanya, merupakan tema-tema yang beredar untuk menunjukkan bahwa sang senator bukan patriot Amerika sejati.

Sekitar 12 persen warga Amerika percaya bahwa Barack Obama adalah seorang Muslim. Dalam kampanye di Minnesota awal Oktober, rasa takut akan Obama ini terlihat dalam kampanye John Mccain.

Misinformasi di sebagian kalangan partai Republik bahwa Obama adalah orang Arab, atau Muslim yang menyembunyikan identitasnya, membuat kesal mantan menteri luar negeri Jenderal Colin Powell, ketika dia menyatakan akan memilih Barack Obama.

"Saya risau bukan dengan ucapan senator McCain, tetapi dengan pernyataan para anggota partai Republik: misalnya Anda tahu kan Obama itu orang Islam?" kata Colin Powell.

"Padahal jawaban yang benar adalah 'tidak, dia Kristen dan dari dulu Kristen. Tapi yang lebih benar lagi adalah , 'kalaupun dia orang Islam, terus kenapa? Apa salah jadi orang Islam di Amerika? Tidak'," tambah Powell.

Colin Powell dikenal sebagai tokoh berhaluan tengah di dalam Partai Republik, yang tidak suka dengan pergeseran partainya yang semakin ke kanan.

Sejak krisis finansial Amerika mennjadi semakin parah dengan kebangkrutan bank dan asuransi, popularitas Barack Obama semakin jauh meninggalkan John McCain.

Para pemilih lebih percaya kepada kemampuan Senator Obama dan Partai Demokrat mengatasi masalah ekonomi.

Tetapi walaupun Obama unggul telak secara nasional maupun di negara-negara bagian yang menjadi rebutan, masih ada keraguan apakah para responden di jajak pendapat bersikap jujur ketika mereka mengatakan akan memilih Obama.

Jangan-jangan mereka hanya mengaku sebagai pendukung Obama karena khawatir dianggap rasis.