Kursus Bahasa Cina di Liberia

Kursus Bahasa Cina
Image caption Sudah ada radio Bahasa Cina yang menjangkau hampir semua wilayah Liberia

Cina sering dikritik mengambil banyak dari Afrika namun hanya memberi sedikit. Namun tidak begitu halnya kepada Liberia.

Di negara itu, para pejabat Cina memasuki wilayah kerjasama yang baru, yaitu pelajaran bahasa.

Di depan kelas yang dibangun dari dari tenda di stadion utama ibukota Monrovia, seorang guru asal Cina, Li Peng, mengajarkan ucapan salam yang ingin diserap para muridnya, seperti selamat pagi, selamat malam, mohon, maupun terimakasih.

Duduk di barisan kursi plastik dihadapannya adalah belasan warga Liberia. Sebagian adalah kamu munda yang ingin berkunjung ke Cina dengan harapan mungkin bisa bersekolah di sana.

Beberapa murid tampak ragu-ragu dan malu pada awal pelajaran.

Mengucapkan bahasa yang baru memang tidak mudah, namun Pak Guru Li Peng bertekad

"Belajar Bahasa Cina memang sulit namun jika mereka bekerja keras maka mereka akan bisa," kata Li.

"Jika anda semua ingin pergi ke Cina –karena Cina adalah tempat yang indah- anda harus belajar Bahasa Cina," tambahnya.

Persekutuan yang berubah

Sama seperti di sejumlah kawasan Afrika lain, di Liberia Cina banyak terlibat dalam pekerjaan paska perang seperti pembangunan jalan dengan bantuan Bank Dunia, mengelola hotel dan restoran, serta berdagang obat-obatan dan bisnis lain.

Perusahaan mineral Cina Union merupakan investor terbesar di Liberia dengan menanda tangani kesepakatan US$ 2,6 milyar untuk pertambangan bijih besi awal 2009.

Kini ada sebuah radio berbahasa Cina yang menjangkau hampir semua wilayah Liberia, sejalan dengan makin meningkatnya jumlah ahli maupun imigran dari Cina.

Berkembangnya perdagangan antar kedua negara yang menjadi alasan dibukanya kelas gratis selama 2 jam sehari dan 5 hari seminggu, yang dikelola bersama oleh Kedutaan Besar Cina serta Kementrian Pemuda dan Olahraga Liberia.

Walau murid yang hadir pada masa-masa awal amat sedikit -karena musim hujan yang lebat di Monrovia- para siswa yang ikut tampak serius mengerjakan tugas yang diberikan.

John Cooper, penduduk Monrovia yang berusia 57 tahun, mengatakan pelajaran Bahasa Cina mencerminkan persekutuan politik Liberia yang berubah.

"Secara tradisional warga Liberia lebih dekat dengan Amerika dibanding Cina namun ironinya adalah Cina lebih terbuka kepada kami dibanding Amerika," tuturnya.

"Jika Cina bersama kami di sini selama sekitar 25 tahun, akan bagus buat kami."

Pendapat Cooper itu didukung oleh seorang perempuan setengah baya lainnya.

"Di Liberia kami hanya menggunakan Bahasa Inggris dan bukan belajar Bahasa Prancis walau kami bermain dengan warga Prancis. Itu tak bagus untuk sebuah bangsa," tambahnya.

Sedangkan bagi Tubman Nyennety, yang berusia 40 tahun, motivasi untuk belajar adalah demi tujuan pribadi.

"Kami perlu belajar Bahasa Cina karena kita bisa saja mendapat kesempatan untuk berkunjung ke Cina."

Seorang siswa, Musu Woodfor, mengenang kesulitan yang dialami ketika mengungsi ke negara tetangga yang menggunakan Bahasa Prancis.

"Kami saat itu belajar Bahasa Prancis, jadi kenapa tidak Cina. Keterbatasan Bahasa menjadi masalah kalau kita mengungsi akibat perang."

Harapan Cina

Walau para pejabat Cina akan senang mendengar pandangan para siswa, mereka sebenarnya berharap para pejabat pemerintah Liberia juga ikut belajar.

Duta Beasr Cina, Zhou Yuxiao, yang membantu pembukaan kelas-kelas ini mengatakan lemahnya ketrampilan Bahasa Cina di kalangan para pejabat Liberia bisa meniadi masalah.

"Bahkan di Kementrian Luar Negeri Liberia, tidak ada yang bisa berbahasa Cina,” tambahnya.

"Jika para pejabat berkunjung ke Cina mereka harus didampingi penterjemah dari pihak Cina, jadi ada jurang."

Dia mengaku tidak terlalu senang dengan pejabat Liberia yang tidak memahami kesepakatan dalam versi Bahasa Cina yang mereka tanda tangani.

"Tidak ada pejabat Liberia yang bisa membaca dokumen yang mereka tanda tangani. Mereka tidak mengeri versi Cina dan hanya menanda tangani saja," katanya.

Hal itu tidak tepat, kata Zhao Yuziao, karena orang sebaiknya memeriksa dokumen yang akan ditanda tangani.

Jurubicara Kementrian Pemuda dan Olahraga Liberia setuju bahwa keterbatasan bahasa menjadi masalah.

"Cina berada di sini untuk pekerjaan konstruksi dan sebagainya. Jika harus berurusan dengan mereka dan sebaliknya, maka jelas kami harus saling mengerti satu sama lain, kata Macaulay Paykue.