Perempuan belum bisa maju

Iran
Image caption Tidak ada calon presiden perempuan yang masuk dalam daftar resmi

Iran menggelar pemilihan presiden tanggal 12 Juni 2009.

Empat calon presiden dinyatakan bersaing untuk memperebutkan kursi presiden negara tersebut, termasuk presiden saat ini Mahmoud Ahmadinejad.

Tidak seorang pun capres tersebut wanita, meski sebenarnya 42 perempuan terdaftar sebagai bakal calon presiden.

Apa penyebabnya? Sebagian pengamat menyebut salah satu pasal memperkecil peluang wanita Iran untuk lolos dari seleksi calon presiden.

Bersama lebih dari 40 wanita lain, Jeela Shariatpanah mengajukan diri sebagai bakal calon presiden Iran.

Dalam kehidupan sehari-hari, profesi sebagai pakar nuklir melekat pada profil perempuan ini.

Jeela Shariatpanah memiliki alasan kuat saat memutuskan untuk mengajukan diri sebagai calon presiden.

Menurut dia, wanita Iran sudah sangat maju dewasa ini.

"Tentu saja peluangnya sangat sangat tipis, tapi peluang itu akan membesar terus di masa datang," katanya.

"Kalau kami tidak mencalonkan diri, kesempatan itu tidak akan pernah menjadi kenyataan."

Menurut Jeela Shariatpanah, konstitusi Iran membuka lebar pintu kepada wanita seperti dirinya yang berniat bersaing dalam pemilihan presiden Iran.

Peluang konstitusi

Sebenarnya banyak warga Iran dari berbagai latar belakang yang memanfaatkan kesempatan konstitusi Iran.

Pimpinan seksi siaran bahasa Melayu pada media penyiaran milik pemerintah Iran, Ahmad Hafid, mengatakan banyak yang mencalonkan diri sebagai bakal calon presiden.

Namun Jeela Shariatpanah dan 42 wanita lain yang mengajukan diri sebagai calon presiden tidak tercantum dalam daftar calon presiden yang lolos seleksi oleh Dewan Pengawal Konstitusi Iran.

Dewan menyebutkan empat calon presiden berhak bersaing dalam pemilihan Juni 2009.

Semua capres tersebut laki-laki, termasuk presiden Mahmoud Ahmadinejad, mantan panglima Pengawal Revolusi, Mohsen Rezai, serta dua tokoh reformis, Mir Hossein Mousavi dan Mahdi Karroubi.

Meski semua wanita tidak lolos dari seleksi capres, Jeela Ms Shariatpanah mengajak kaum wanita agar tidak kecewa dan tetap percaya diri.

Peran wanita

Sejak revolusi Islam Iran tahun 1979, semakin banyak wanita Iran yang mengenyam taraf pendidikan yang lebih tinggi.

Image caption Mahmoud Ahmadinejad kembali diunggulkan dalam Pilpres 2009

Di kampus-kampus perguruan tinggi, jumlah wanita yang belajar mencapai sekitar 60% dari keseluruhan populasi mahasiswa.

Dan, di jalan-jalan ibukota Iran, Teheran, sebagian wanita berpendapat Iran sudah saatnya mempercayakan presiden kepada wanita.

"Kami perlu presiden wanita di Iran," kata seorang wanita.

"Saya rasa ini gagasan bagus jika wanita bisa ikut berbagi semua di negara ini. Mengapa tidak dalam pemilihan presiden dan lainnya?" kata seorang wanita lain.

Meski demikian, Elaheh Koolaee, seorang dosen di universitas Teheran, yang menjadi staff calon presiden Mir Hossein Mousavi, mengatakan Iran belum akan memiliki presiden wanita dalam waktu dekat.

Elaheh Koolaee menambahkan, mengingat pandangan ril banyak warga Iran -tidak hanya kaum pria, tapi juga wanita- bangsa Iran harus bersabar dalam menjalani proses perubahan.

Warga Iran harus mengakui, Iran masih memerlukan akumulasi perubahan dan proses tersebut memerlukan waktu, kata Koolaee.

Menurut beberapa kalangan, ketentuan pasal 115 Konstitusi Iran ini merupakan pengganjal langkah wanita untuk bisa bersaing sebagai calon presiden Iran. Dalam pasal tersebut, presiden Iran harus dipilih di antara Rijal Siyasi.

Istilah politik ini bisa memiliki banyak definisi, kata Jeela.

"Rijal dalam bahasa Arab bisa ditafsirkan sebagai wanita atau pun pria. Tapi, yang dimaksud pria atau wanita yang sangat tegar, sangat terkenal, dan yang memiliki karakter yang bagus," jelas Jeela

Kata Rijal ini sudah lama menjadi bahan perdebatan politik seru di Iran. Dan, setiap kali negara yang menyatakan diri sebagai Republik Islam ini bersiap memilih presiden, debat jender ini selalu mengemuka.