Peran lembaga sosial untuk UMKM

Kelompok ibu-ibu
Image caption Lembaga sosial memberi pinjaman ringan berbunga murahl.

Banyak yang beranggapan bahwa kredit mikro dan kecil lebih merupakan kerja sosial dan mungkin ada benarnya juga.

Soalnya tak sedikit lembaga non-pemerintah yang memusatkan kegiatan pada pengembangan usaha mikro.

Salah satunya adalah Pekka, atau Perempuan Kepala Keluarga, yang menawarkan kredit modal ringan kepada para janda.

Dan di Lombok Barat sejumlah ibu mendapatkan kredit murah tanpa jaminan lewat Pekka.

Irianti, ibu seorang anak, mendapatkan kredit untuk memulai usaha pembibitan manggis, rambutan, maupun mangga.

"Awalnya saya perlu dana awal sekitar Rp 500.000 dan saya mendapat bantuan kredit dari Pekka," kata Irianti.

Karena pinjaman awal sudah beres, Irianti berani meminjam lagi dengan nilai Rp 3.000.000 dengan masa angsuran selama 10 bulan.

Bahkan Irianti --yang sebelumya mengaku tak tahu menahu tenang usaha pembibitan buah-- sudah merencanakan pinjaman yang jauh lebih besar untuk sewa tanah di dekat jalan besar.

"Kalau dekat jalan besar kan lebih banyak yang beli," kata Irianti, yang juga sering bernegosiasi dengan petugas dinas pertanian yang membutuhkan bibit buah.

Tanpa jaminan

Irianti, yang tidak tamat SD, sebelumnya sama sekali tidak pernah terpikir bisa mendapatkan bantuan kredit tanpa jaminan.

"Saya dan kawan-kawan tidak tamat SD, nggak tahu bagaimana caranya ke bank. Jadi kami beruntung ada Pekka," tambahnya.

Melalui Pekka, sebenarnya bukan hanya sekedar bantuan modal dengan bunga sekitar 1% per bulan yang bisa diperoleh tanpa jaminan, tapi nasabah ikut diajak menjadi pengurus tingkat desa guna menyebar luaskan program.

Juga ada pembinaan manajemen, yang sering sekali dimulai dari belajar menghitung seperti dijelaskan oleh Reini, pembina lapangan Pekka di Lombok Barat.

"Ada yang tidak tahu kalau 10.000 itu nolnya berapa, jadi saya tempel uang Rp 10.000 di dinding supaya mereka melihat langsung," kenang Reini.

"Tapi sekarang mereka sudah bisa bikin pembukuan dan bahkan mulai belajar pembukan pakai komputer."

Penerima bantuan Pekka lainnya adalah Laminah serta Rahimah yang menggunakan kredit murah tanpa jaminan dari Pekka untuk keramba ikan di tepi Kali Jangkuk, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat.

Kedua ibu ini dulu hanya buruh tani namun kini sudah menjadi pemilik keramba berkat kredit Pekka dengan penghasilan sekitar Rp 500.000 per bulan.

Pinbis di Langsa

Image caption Pengusaha kecil harus mengajukan proposal untuk mendapat pinjaman

Ada Pekka di Lombok, dan di Langsa, Propinsi Nanggroe Darusalam, ada Pusat Informasi Bisnis atau Pinbis yang menyalurkan kredit dari LSM asing, SwissContact.

Mariam pemilik kerupuk ubi Mustika mendapatkan bantuan berupa dua kuali besar dan pengarut mesin dari SwissContact.

"Kalau dulu kami marutnya pakai tangan, sekarang karena ada bantuan mesin jadi yang marut satu orang dan yang goreng satu orang," kata Mariam.

Mariam hanyalah salah satu pengusaha yang mendapat hibah atau bantuan peralatan dari SwissContact lewat Pinbis di Langsa.

Choirul Azman, pengusaha kerupuk ikan Cang Rebong, mendapat bantuan tong-tong plastik untuk menampung ikan, dan kini dia sudah menyerap sekitar 30 tenaga kerja.

Menurut Zulfadli, Manager Pinbis di Langsa, walau berupa hibah, awalnya tidaklah mudah mencari pengusaha yang bersedia mengajukan proposal.

"Di Aceh ini sangat banyak yang memberi bantuan dan kadang pengusaha mikro dan kecil itu mau cepat dan bantuan datang langsung," kata Zulfadli.

Padahal untuk mendapatkan Pinbis, pengusaha mikro dan kecil harus mengajukan proposal untuk dikaji kelayakannya. Di sisi lain, ternyata banyak yang tidak percaya bisa mendapatkan hibah dalam bentuk peralatan.

"Mereka awalnya tidak percaya, mana mungkin dapat bantuan karena ada yang sudah disurvey selama setahun tapi bantuan tidak terealisasi dan yang mensruvey sudah tidak pernah datang lagi."

"Kemudian satu terealisasi dan semua orang datang ke sini untuk minta bantuan."

Kini dalam setahun, berdasarkan kontrak dengan SwissContact hingga Juni tahun depan, Pinbis harus merealisasikan sedikitnya 10 bantuan kepada pengusaha mirko, kecil dan menengah di kawasan Aceh Timur.

Bank UMK

Upaya menyediakan kredit tanpa jaminan itu sudah diupayakan oleh Kementrian Koperasi UKM dan Bank Indonesia.

Deputi Menteri Bidang Pembiayaan, Agus Muharram, menjelaskan Bank Usaha Mikro Kecil atau BUMK berbeda dengan bank umum karena menekankan aspek perlindungan dari Lembaga Penjamin Simpanan, LPS, yang sudah dibentuk pemerintah.

"Dalam konteks BUMK ini jaminannya itu cukup kelayakan usaha, jadi bukan jaminan dalam bentuk asset."

Agus mengatakan gagasan BUMK itu sebenarnya sudah dimatangkan bersama Bank Indonesia, walau tampaknya belum menjadi prioritas pemerintah.

"Kalau dari segi modal mestinya tidak masalah. Pemerintah untuk program BLT saja setiap tahun mengeluarkan lebih Rp 15 trilyun, belum lagi untuk raskin. Untuk mendirikan BUMK ini dananya jauh lebih kecil," tambahnya.

Agus memperkirakan gagasan BUMK sudah bisa berjalan dengan modal awal sekitar Rp. 2 trilyun.

Tapi belum jelas kapan Bank UMK itu akan terwujud.

Dan sambil menunggu, maka pilihan bagi pengusaha mikro dan kecil tampaknya tidak banyak, kecuali jika ada jaminan atau agunan.