Ancaman tenggelamnya pulau

sea

Bersama Muhamad Ali, seorang pemuda Bone Tambung, kami melihat salah satu ruas yang terputus.

"Ini dihantam waktu sebelum Lebaran lalu. Ada tiga kali mungkin ombak menghantam dan hancur temboknya," kata Muhammad Ali.

Muhammad Ali menambahkan walau banjir memang sudah biasa, namun terasa ombak semakin tahun semakin kuat dan semakin tinggi.

"Lebih tinggi dibandingkan yang dulu. Ombak lebih tinggi dan lebih kuat dibandingkan yang dulu-dulu," kata Muhammad Ali

Di salah satu kolong rumah panggung, beberapa ibu sedang ngobrol, salah satunya Wapi asal Kepulauan Pangkep yang pindah ke Bone Tambung tujuh tahun lalu karena menikah dengan pemuda Bone Tambung.

Waktu banjir terakhir selama tiga malam, dia mengungsi ke rumah panggung yang lebih jauh dari pantai.

"Kami harus mengungsi ke rumah yang lebih tinggi. Kalau pagi kami air surut kami kembali ke rumah dan beres-beres, tapi nanti kalau sudah sore air naik lagi dan kami mengungsi lagi," tambahnya.

Tapi bagaimana kalau nanti air naik terus dan tidak turun-turun sehingga menggenangi rumah mereka?

"Ya pulang sajalah, pulang kampunglah," tuturnya disambut tawa teman-temannya.

Buat mereka pindah karena bayangan pulau mereka akan tenggelam memang masih amat jauh dan lebih melihat perkiraan para ahli dengan sedikit bercanda.

Jalar keluar

Bagaimanapun ada jalan keluar yang ditawarkan oleh warga, seperti dituturkan oleh, Zaenal, yang rumahnya persis di sebelah jalan tembok, yaitu dengan membangun tanggul

"Perlu sekali dibangun tanggul setinggi tiga meteri di sekeliling pulau ini karena semakin hari semakin hancur pulau ini dihantam ombak," kata Zaenal.

Zaenal mengatakan enggan untuk pindah dari Bone Tambung, tempat kelahirannya, dan dia yakin sebagaian besar orang Bone Tambung mau pindah dari pulau ini.

Image caption Warga juga membuat tanggul untuk menahan ombak

Bone Tambung merupakan pulau yang sudah puluhan tahun dihuni.

Asalnya adalah nelayan Bone yang melaut sampai ke lepas pantai Makassar dan mereka menemukan pulau ini.

Ada 2 keluarga asal Bone yang pertama kali tinggal di pulau ini, dan semua penduduk adalah keturunan keluarga itu dengan ditambah penduduk baru karena perkawinan.

Di kampung ini terdapat juga sat sekolah dasar negeri.

Menurut Zaenal, ombak semakin tinggi dan semakian kuat menghantam Bone Tambung karena karang di dekat pantai diambili penduduk.

"Karena bebatuan di dekat pantai sudah semakin berkurang karena diambil untuk bikin rumah. Kalau beli dari Makassar terlalu mahal, jadi kalau bikin rumah ambil karang dari pantai situ," tuturnya.

Pulau Bone Tambung memang dikeliling karang, dan perahu motor tak bisa merapat ke pantai karena tidak ada dermaga yang dibangun.

Jadi orang harus berjalan kaki di sekitar karang-karang sekitar 50 meter untuk bisa merapat sampai ke darat, atau meggunakan perahu kecil yang didayung.

Rumah panggung

Ancaman ombak juga dialami penduduk Barrang Caddi, pulau tetanga Bone Tambung, sekitar 45 menit perjalanan dengan perahu motor.

Di pantainya sebelah Barat, sudah 12 lebih rumah yang hilang dihantam ombak. Dan tak ada jaminan rumah yang masih bertahan akan aman.

Salah satu rumah tembok, sekarang tinggal setengah dari luas awal karena hancur dihantam ombak.

Untunglah saat itu tak rumah itu sedang kosong, kata Hamsah, Sekretaris Kelurahan Barrang Caddi.

"Untung waktu kejadian tahun lalu itu mereka sedang di rumah keluarganya. Kalau tidak ditakutkan jatuh juga korban karena hantam menghombak dan langsung rubuh sebagian rumah itu. Terasnya juga ambruk, dan sekarang tinggal satu kamar saja yang bisa dipertahanakan."

Image caption Rumah panggung di Bone Tambang banyak yang dibangun jauh dari pantai

Sementara itu, beberapa rumah lain dirubah jadi rumah panggung, setelah digeser agak menjauh dari ujung pantai, seperti rumah Hamid yang sudah pindah tiga kali.

Tahun lalu fondasi rumahnya yang ambruk.

"Ombak datang dan langsung hancur fondasinya. Sekarang rumah itu kami geser dan dibuat lebih tinggi," tutur Hamid.

Dan kalau masih diserang ombak apakah masih mungkin untuk bergeser?

"Tidak mungkin lagi karena ada rumah di sebelah sana. Sudah pas, sudah benturan dengan rumah itu. Mau pindah, tak ada tempat lagi di pulau ini."

Rumah Hamid dan barisan rumah di Pantai Barat Barrang Caddi memang tinggal berharap ombak tak semakin naik mengejar rumah mereka lagi karena tak ada lagi ruang untuk bergesar.

Harapan lainnya, adalah usulan pembangunan tanggul disetujui, seperti di pantai sebelah Timur. Di pantai sebelah Timur, sebelum tanggul dari kayu ulim dibangun, ombak menghantam kantor kelurahan dan satu ruangan hilang.

Lantas satu ruang kelas di SD Negeri Barrang Caddi juga lenyap dimakan ombak. Tapi setelah dibangun tanggul, praktis kawasan pantai Timur sudah aman dari hantaman ombak.

Oleh karena itulah mereka juga ingin agar tembok serupa dibangun di Pantai Barat, seperti dijelaskan Sekretaris Kelurahan Hamsah.

"Kami sudah hitung dan panjangnya sekitar 750 meter. Supaya aman tinggi tanggul sebaiknya tiga meter ke atas dan satu meter ke bawah. Itu sudah bagus karena fondasinya makin lama akan makin kuat," kata Hamsah.

Sedang ditinjau

Kini usulan itu sedang ditinjau kembali oleh pemerintah kota Makassar dan DPRD II Makassar.

Tapi di Jakarta, Menteri Negara Lingkungan Hidup berpendapat bahwa system bangunan bukanlah jalan keluar bagi pulau-pulau di Indonesia yang terancam tenggelam.

"Tidak mungkin kita melindungi pulau dengan terstruktur seperti negeri Belanda. Indonesia mana pulaunya sebanyak 17.000 dan juga tidak ada teknologinya," kata Rachmat Witoelar.

Menurut Rachmat Witoelar yang perlu dilakukan adalah melakukan penyesuaian dari pola kehidupan pesisir menjadi hidup yang lebih bersahabat lahan-lahan bukan pesisir, karena akibat instrusi air laut akan membuat pulau-pulau jadi kemungkinan tenggelam.

Direktur Pulau Pulau Kecil Departemen Kelautan dan Perikanan Dr. Alex SW Retraubun MSc juga tidak mendukung pembangunan struktur untuk melindungi pulau dari kenaikan permukaan laut.

"Saya pikir kemampuan teknologi Indonesia untuk menghindar dari bencana itu sangat minim. Belanda itu kan punya teknologi dan sumber daya manusia untuk mengleminir bencana itu. Apakah anda yakin kalau sumber daya dan teknologi kita bisa untuk itu?"

Jadi selain memindahkan penduduk, kata Dr. Alex Retraubun, bisa juga ditempuh kawasan karang buatan di pantai.

"Di Maladewa mereka bikin 'karang buatan' untuk melindunginya dan mereka sudah menyiapkannya dari sekarang sebelum bencana itu tiba.

Kenaikan air laut ini kan tidak tiba-tiba 1 meter tapi proses panjang.

Maladewa itu akan tenggelam satu negara kalau permukaan air laut naik, oleh karena itu mereka dari sekarang sudah menempuh kebijakan seperti itu, tutur Dr. Alex Retraubun

Jauh di seberang lautan, warga Bone Tambung dan Barrang Caddi mungkin tak terlalu antusias mendengar kebijakan yang ditempuh pemerintah Jakarta.

Tapi siapa tahu pemerintah kota Makassar memutuskan lain, melihat ombak yang masih terus memukul kedua pulau itu, dan 2.000 pulau lainnya.