Ancaman pemanasan global

Pulau Bone Tambung, Makasar
Image caption Bone Tambung termasuk pulau yang terancam pemanasan global

Pemanasa global? Perubahan iklim? Jika anda membaca koran, mendengar radio, menonton TV, dan surfing internet, pastilah keduanya sudah akrab di benak.

Iklim sudah berubah dan suhu bumi meningkat, seperti kata Menteri Negara Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar.

"Ganti musim sudah tidak jelas. Musim hujan kering, musim kering hujan. Itu adalah salah satu perubahan iklim. Itu karena perubahan iklim."

"Bagi nelayan, juga ada arus air laut yang berubah, juga suhu air laut berubah dengan perubahan itu berarti ikannya berubah," tambah Rachmat.

"Ada juga karang-karang yang rusak karena pemanasan air laut sehingga mikroplankton dan biota laut rusak. Jadi sudah terjadi hal-hal yang aneh," kata sang menteri.

Semakin panas

Tapi bagaimana dalam kehidupan sehari-hari? Saya berkunjung ke beberapa tempat dengan membawa pertanyaan apa yang berubah di alam jika dibandingkan dengan keadaan 10 atau 20 tahun lalu?

Tujuan pertama Kabupaten Malinau, di Kalimantan Timur, yang disebut Kabupaten Konservasi. Dari total wilayah 4,2 juta hektar, seluas 3,9 juta, atau sekitar 90%, adalah kawasan hutan, termasuk di dalamnya Taman Nasional Kayan Mentarang dan hutan lindung. Perjalanan 4 jam dengan perahu motor dari Tarakan.

Uman, 37 tahun, sudah mencari nafkah dari perahu motor sejak tahun 1990, dan menurutnya ada yang berubah dari Sungai Sesayap yang dilaluinya selama belasan tahun ini.

"Kalau dulu jarang ada gusung, di tengah-tengah sungai muncul pulau baru dari pasir campur tanah . Mungkin disebabkan karena pengaruh banjir, kalau dulu tahun 1990-an itu jarang banjir tapi setelah tahun 1995 ke atas mulai berunculan gusung," tutur Uman.

Di Pulau Sapi, sekitar satu jam perjalanan mobil dari ibukota kabupaten Malinau, masih terasa kehijauan.

Di beberapa tempat terlihat bekas ladang yang dibersihkan karena warga Lundayah menggunakan sistem perladangan berputar.

Sesepuh Lundayeh, Belapang Baru, menceritakan pengalamannya.

Di masa lalu, demikian tutur Belapang, kalau warga berladang, padinya subur-subur, tanaman lain juga bagus. "Seperti buah, kalau pokoknya manis dan kita tanam bijinya pasti manis," katanya.

"Tapi sekarang lain, kalau pokoknya manis dan tanam biji jadinya asam. Pohon rambutan itu asam dan buah durian kalau dulu tebal, sekarang tipis," paparnya.

Belapang mengatakan, dia tidak tahu apa penyebab perubahan.

"Sekarang makin cepat kering," Kalau dulu tahun 1950-an biar kemarau 3 bulan, air tidak begitu cepat surut tapi sekarang kemarau satu bulan saja air sudah kering," tuturnya.

"Sekarang rumput-rumput di tepi sungai itu layu saat kemarau, padahal dulu tidak biarpun kemarau 3 bulan rumput di tepi sungai itu tidak layu," kata Belapang.

Petani lainnya, Martin Ukung, merasakan cuaca di kampungnya, Pulau Sapi, semakin panas.

"Ini pengalaman saya adalah akibat panas buah-buahan yang sedang berbunga begitu kena panas layu dan tidak jadi berbuah. Itu pengalaman saya selama 10 tahun terakhir. Berbunga tapi tidak jadi buah."

"Matahari sekarang ini terlalu panas tapi tidak tahu penyebabnya apa. Tapi kami merasa betul semakin panas."

Bahan peledak

Dari Kalimantan, saya beralih ke Sulawesi. Anak suku Bajoe mandi di halaman depan rumahnya. Sekitar 15 menit dari Bone, Sulawesi Selatan.

Image caption Sebagian nelayan Bajoe menggunakan bahan peledak untuk menangkap ikan

Tak jauh dari pelabuhan feri Bone-Kolaka, sekitar 400 kepala keluarga Suku Bajoe tinggal di Desa Kolaka, Kampung Bajoe.

Walau tradisi hidup di laut sudah lama ditinggal, kolam-kolam kecil air payau masih tersisa di bawah rumah panggung.

Sebagian nelayan Bajoe menggunakan bahan peledak untuk menangkap ikan, lantas kompresor Oksigen untuk menyelam, dan perahu motor saat melaut. Pancing, layar, dan ketahanan bernafas alami sudah sudah lama ditinggal.

Cara menangkap ikan berubah karena semakin sulit mendapat ikan, tutur seorang nelayan Bajoe yang sudah menjadi nelayan selama 30 tahun lebih.

"Makin susah mendapat ikan. Kalau dulu itu lima kilometer saja sudah dapat ikan, sekarang harus puluhan kilometer."

Apa penyebabnya? "Mungkin karena semakin banyak yang menangkap ikan, dengan kapal-kapal besar," tambahnya.

Amat bergantung

Di Pulau Barrang Lompo, sekitar 2 jam perjalanan perahu motor dari Makassar, Sulawesi Selatan, sebagian besar mata pencaharian penduduknya adalah menangkap ikan.

Dengan teknologi perahu motor dan jaring ikan, mereka praktis masih amat bergantung pada alam. Namun alam di sekitar Barrang Lompo sudah mulai berubah, kata Pak Hasbi, salah seseorang sesepuh desa.

"Sekarang musim hujan sepertinya datang makin terlambat. Kami dan juga warga lain, merasa makin panas," tutur Hasbi.

Sementara itu Sahbudin, seorang nelayan, masih belum melaut pada pertengahan Oktober padahal biasanya sudah mulai turun menangkap ikan.

"Seperti ini kan biasanya sudah teduh, tapi sekarang-sekarang Ini sekarang angin Timur masih kencang sekali , sehingga kami belum turun ke laut," katanya.

"Memang angin Timur bisa juga melaut, tapi kalau sekeras ini sulit," kata Sahbudin.

Dari Makassar di Sulawesi Selatan, kita ke Yogyakarta dan masih membawa pertanyaan yang sama. Pada pertengahan Oktober, hujan masih belum juga turun kata Suparno.

"Biasanya sudah ada, tapi ini belum ada. Mestinya sudah ada hujan satu atau dua kali sebulan, tapi ini belum. Dan sekarang panas sekali, cuma kalau sudah panas sekali biasanya mau hujan turun."

Walau hujan belum turun, Suparno beruntung karena masih bisa menikmati air dari Sungai Kulon Progo, tapi bagi para petani tadah hujan, terlambatnya atau kurangnya hujan mengubah pola tanam. Widyatmoko adalah petani di Ketingan, Yogyakarta.

"Kalau dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, terasa lebih kering. Biasanya kita sudah bisa menanam padi dan skarang belum. Dan bisa dilihat tebu juga mengalami kekeringan," kata Widyatmoko.

Tidak mudah

Dan apa penyebabnya? Dolvina Damus Ukung, Kepala Kebijakan Dana Satwa Liar WWF di Kabupaten Malinau berpendapat masih sulit menjelaskan kepada para petani Dayak Lundayeh tentang penyebab dari perubahan alam.

"Tidak mudah untuk menjelaskan pemanasan global dan perubahan iklim kepada masyarakat," katanya.

"Dan juga memang belum bisa dipastikan apakah banjir dan kekeringan disebabkan oleh hal tersebut," tambahnya.

"Kami di sini melakukan perhitungan curah hujan selama 10 tahun, tapi belum bisa dipastikan bahwa perubahan iklim penyebabnya, apalagi di Kalimantan ini yang relatif masih banyak hutannya," tutur Dolvina.

Namun Dr. Rizaldi Boer, Kepala Iklimatologi dari Institut Pertanian Bogor, menegaskan bahwa perubahan iklim sudah dirasakan langsung oleh manusia.

"Saya tidak setuju secara konseptual tapi memang sudah terjadi," kata Dr. Rizaldi Boer.

Terlepas dari penyebabnya, perubahan iklim atau pemanasan global, tampaknya para petani dan nelayan yang hidupnya tergantung pada alam, mulai merasakan bahwa alam sudah berubah.