Kelangkaan pupuk

petani padi
Image caption Kelangkaan pupuk biasanya terjadi pada puncak masa tanam

Ketua Kelompok Tani Desa Hegarmanah, Kabupaten Bekasi, Entang Permana mengatakan kesulitan mencari pupuk di musim tanam 2007 dan 2008 sehingga dia terpaksa membeli di luar kabupatennya.

"Harganya dua kali lipat dari harga dasar," ujar Entang Permana.

Kusnadi Daeng Lewa, seorang petani di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, juga mengalami kelangkaan pupuk.

Dan kelangkaan itu, menurutnya, selalu berulang setiap tahun, terutama di puncak masa tanam sekitar bulan November.

Para petani mengatakan masalah kekurangan pupuk ini disebabkan oleh distribusi pupuk bersubsidi yang tidak baik.

Namun Menteri Pertanian Anton Apriantono mengatakan masalah pupuk disebabkan oleh meningkatnya permintaan akibat peningkatan produksi dan juga kebiasaan petani untuk mempergunakan pupuk secara berlebihan.

"Kami merekomendasi penggunaan Urea 250 gram, tetapi petani bisa mempergunakan hingga 500 gram," kata Anton Apriantono.

Pemerintah menurut Anton Apriantono juga akan memperbaiki jalur distribusi pupuk sehingga diterima oleh para petani yang memang berhak.

Para petani juga mengeluh karena bibit langka dan mahal sehingga seringkali mereka enggan menggunakan bibit bantuan pemerintah karena seringkali hasilnya tidak sesuai dengan yang dijanjikan.

Para petani mengatakan bibit pemerintah menghasilkan produk lebih kecil dibandingkan bibit lain.

Hal itu dibantah Menteri Pertanian.

"Petani tidak mudah menerima benih baru. Mereka pikir kalau bukan benih pilihan mereka jadi tidak cocok. Sementara program kita penanaman benih unggulan. Kalau ada laporan lebih mengenai kerusakan benih, maka langsung diganti."

Berita terkait