Mengapa pemadaman terjadi di Indonesia?

Listrik Indonesia
Image caption Mengapa Indonesia menghadapi kelangkaan listrik

Pemadaman listrik terjadi di berbagai kawasan di seluruh Indonesia. Mengapa hal ini terjadi dan bagaimana mengatasinya?

Direktur Utama PLN Fachmi Mochtar mengatakan pemadamanterjadi karena sejak krisis moneter tahun 1998 kebutuhan listrik meningkat pesat akibat pertumbuhan ekonomi yang tinggi, sementara penambahan daya listrik tidak mampu mengimbangi pertumbuhan kebutuhan itu.

"PLN tidak mempunyai kesempatan untuk berinvestasi karena pada waktu itu ada 27 Independent Power Producers (IPP) yang dibatalkan, sehingga pertumbuhan yang tinggi itu tidak bisa dilayani oleh PLN dengan kapasitas yang tersedia," katanya kepada BBC.

Fachmi mengatakan PLN tidak bisa melakukan investasi karena sejak tahun 2003 tarif dasar listrik tidak naik sementara biaya produksi naik tinggi antara lain karena melonjaknya harga minyak bumi.

Dirjen Listrik dan Pemanfaatan Energi J Purwono mengakui pemerintah dan PLN kedodoran dalam membangun fasilitas - fasilitas baru seperti pembangkit, jaringan transmisi dan jaringan distribusi listrik.

Akan tetapi kalangan pengusaha yang menjadi konsumen listrik tidak menerima penjelasan itu.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Sofyan Wanandi, mengatakan lonjakan kebutuhan listrik itu sudah diprediksi banyak pihak.

Dia mengatakan pasok listrik yang tidak menentu sangat merugikan anggotanya.

"You ketahui jalan tol itu kalau tidak ada, ada alternatif jalan tikus. Tetapi kalau listrik nggak ada sudah langsung mati dan industri kita nggak bisa jalan," kata Sofyan.

Proyek 10.000MW

Terobosan pemerintah untuk mengatasi kekurangan listrik adalah proyek pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) 10.000 Megawatt tahap pertama, yang dicanangkan pada tahun 2006.

Berdasarkan proyek ini akan dibangun 10 PLTU di Jawa dan 25 PLTU di luar Jawa yang menurut rencana awal akan selesai pada tahun 2009-2010.

Akan tetapi hingga akhir tahun 2009 baru beberapa PLTU yang sudah menyumbang listrik yaitu PLTU Labuan di Banten, PLTU Indramayu di Jawa Barat dan PLTU Rembang di Jawa tengah.

Banyak PLTU lainnya masih dalam tahap pengerjaan atau belum dimulai.

Keterlambatan ini disebabkan baru pada tahun 2008 masalah pendanaan proyek bisa diatasi.

Rencana semula adalah kontraktor yang menang tender juga akan membawa dana, tetapi hal itu ternyata tidak terjadi.

"Pada akhirnya dananya harus berasal dari PLN dengan mencari dana di pasar uang internasional maupun nasional, dengan jaminan pemerintah," kata Dirjen Listrik J Purwono.

Langsung Diserap

Listrik yang dihasilkan dari PLTU-PLTU dalam Proyek 10.000 MW akan langsung diserap oleh konsumen.

Oleh karena itu pemerintah sudah mencanangkan Proyek 10.000 MW tahap ke dua.

Kalangan kelistrikan umumnya berpendapat bahwa kebutuhan listrik baru bisa dikatakan terpenuhi apabila terdapat cadangan daya sebesar 30 persen.

Ketua unit kerja presiden untuk pengawasan dan pengendalian pembangunan, Kuntoro Mangkusubroto mengatakan kebutuhan listrik Indonesia baru akan terpenuhi setelah daya listrik di Indonesia bertambah 20.000 MW.

Ini dengan asumsi pertumbuhan ekonomi Indonesia berkisar pada tingkat 6% sampai 7% seperti sekarang,

"Kita menginginkan pertumbuhan ekonomi setinggi-tingginya, karena dengan cara seperti itu kemiskinan dan pengangguran bisa dikurangi," kata Kuntoro kepada BBC.