Sarkozy dukung Kyoto

Presiden Perancis Nicolas Sarkozy
Image caption Sarkozy jauhkan diri dari sikap Uni Eropa yang inginkan kesepakatan baru

Presiden Prancis Nicolas Sarkozy mendukung seruan negara-negara berkembang agar Protokol Kyoto dipertahankan yaitu hanya negara-negara kaya yang disyaratkan mengurangi emisi karbon mereka.

Berbicara di Kopenhagen, dia menjauh dari sikap Uni Eropa yaitu menginginkan kesepakatan baru yang mensyaratkan semua negara harus ikut dalam mengendalikan perubahan iklim.

Dalam masalah lain, Amerika dan Cina saling berselisih pendapat soal target-target yang mengikat.

Mengingat waktu yang tersisa cuma sehari lagi, banyak pengamat meragukan KTT ini akan menghasilkan kesepakatan yang berarti.

Denmark sebagai presiden konferensi tingkat tinggi di Kopenhagen ini mencoba menurunkan harapan akan tercapainya satu kesepakatan yang lengkap dari pertemuan ini.

Tuan rumah terpaksa harus membatalkan rencana untuk mengusulkan naskah baru hari Kamis kemarin setelah ditentang banyak negara berkembang sehingga KTT sempat menemui jalan buntu hari Rabu lalu.

Menunggu 2010?

Panitia pelaksana mengatakan kemajuan masih mungkin dicapai tetapi kesepakatan internasional mungkin harus menunggu sampai KTT 2010 di Meksiko.

Dalam pidatonya kepada peserta KTT, Nicolas Sarkozy menyerukan kepada semua negara agar berhenti berpura-pura.

"Kegagalan di Kopenhagen akan merupakan bencana bagi kita semua," kata dia. "Jika kita meneruskan jalan yang kita tempuh sekarang, kita sedang menuju kegagalan."

"Jadi orang-orang ingin kita mempertahankan Kyoto, Ok. Ayo kita pertahankan Kyoto. Tetapi mari kita sepakati payung politiknya," kata Sarkozy.

Presiden Perancis selanjutnya mendesak semua menteri dan pemimpin untuk mengadopsi satu traktat iklim yang lengkap pada bulan Juni 2010.

"Mari kita beri waktu 6 bulan kepada diri kita sendiri setelah konferensi Kopenhagen ini untuk mengubah komitmen politik itu menjadi satu naskah hukum."

Tertunda 9 jam

Pembicaraaan dalam KTT perubahan iklim di Kopenhagen kembali dibuka setelah ditunda selama sembilan jam.

Image caption Perundingan Kopenhagen sampai ditunda selama sembilan jam

KTT dihentikan sementara karena perselisihan diantara para delegasi atas penggunaan kata-kata yang akan digunakan sebagai dasar pembicaraan.

Perselisihan ini timbul menyusul tuduhan dari negara-negara berkembang yang menilai Denmark selaku penyelenggara KTT mengindahkan kepentingan mereka.

Anggaran baru sebenarnya sudah disiapkan oleh Jepang yang akan menyediakan $5 miliar pertahun untuk negara miskin jika kesepakatan tercapai.

$5 miliar pertahun itu akan dibayar dari 2010-2012, angka ini menambah komitmen yang dibuat pemimpin Uni Eropa sebesar £3,5 miliar pertahun.

Tapi dana itu hanya teresedia jika sebuah kesepakatan politis tercapai, hal itu dianggap adil dan efektif bagi negara penghasil emisi terbesar dan dengan kesepakatan atas ambisi pemangkasan emisinya.

Jepang sangat menginginkan pemangkasan emisi dari negara-negara berkembang bisa terikat secara hukum.

Tapi Cina menolak usulan tersebut.

Janji lain datang dari enam negara - Australia, Perancis, Jepang, Norwegia, Inggris dan Amerika Serikat - yang secara kolektif mengumpulkan dana senilai $3,5 miliar selama tiga tahun untuk mengatasi penebangan hutan, tapi lagi-lagi komitmen ini hanya bisa dicairkan jika KTT Kopenhagen menghasilkan kesepakatan.

Menteri lingkungan Kolombia Carlos Costa, yang negaranya bisa mendapatkan keuntungan dari komitmen tersebut mengatakan "Kami menyambut inisiatif seperti ini, yang menyediakan dana bagi negara berkembang sehingga bisa bekerja langsung di lapangan''.

Terus terpecah

Penundaah pembicaraan terjadi akibat negara-negara berkembang merasa kecewa dengan Denmark selaku tuan rumah yang mencoba membuat dokumen kesepakatan baru sebagai dasar bagi negosiasi.

Negara-negara berkembang tetap bertahan untuk menggunakan dokumen yang dihasilkan dari sejumlah pertemuan sebelumnya.

Permasalahan ini menggambarkan perpecahan yang berlanjut diantara negara-negara kaya dan miskin, serta negara-negara berkembang terus menuduh Denmark mengindahkan keinginan mereka.

Sepanjang malam aksi demonstrasi juga terus berlangsung, sekitar 240 orang ditahan dalam aksi demo yang berakhir ricuh dan menyebabkan sejumlah orang luka-luka.

Sementara itu, di ruang utama berlangsung pidato dari beberapa pemimpin negara.

Perdana Menteri Ethiopia Meles Zenawi, berbicara atas nama Uni Afrika memberikan detil sebuah proposal dengan menggaris bawahi atas pentingnya keterlibatan Perancis untuk membuka jalan buntu yang terjadi di KTT ini.

"Semua orang tahu kalau Afrika tidak meyumbang sama sekali atas pemanasan global tapi mendapatkan imbas yang pertama dan terberat akibat perubahan iklim,'' katanya.

Zenawi menghubungkan sejumlah unsur dalam proposalnya, termasuk jumlah dana sebesar $50 miliar pertahun pada 2015 dan $100 miliar pertahun pada 2020 yang harus disediakan bagi negara termiskin melalui ''mekanisme keuangan kreatif'' seperti dari pajak transaksi keuangan dan biaya perjalanan udara.

Dia menegaskan kalau proposalnya ini ''akan mengecewakan bagi negara-negara Afrika yang melihat dari sisi keadilan, menginginkan kompensasi penuh atas kerusakan terhadap prospek pembangunan negara-negara Afrika''.

Hal itu jelas membuat marah kelompok perunding Afrika, karena hal itu menyebabkan banyak negara Afrika yang akan menyetujui target peningkatan suhu sebesar 2 Celcius sesuai keinginan negara maju dan Uni Eropa, padahal sejumlah negara Afrika lainnya berkomitmen peningkatan suhu hanya 1,5 Celcius.

Tidak jelas apakah proposal Zenawi mendapat dukungan dari pemimpin Afrika atau dari negara-negara kepulauan miskin lainnya.

Dampak terburuk

Pidato lain memberi contoh kegagalan yang terjadi sepanjang proses perundingan.

Presiden Nauru Marcus Stephen, menginginkan negosiasi yang lebih layak untuk menurunkan target peningkatan suhu.

"Ilmuwan mengatakan kalau kita harus membatasi peningkatan suhu dunia dibawah 1,5C untuk menghindari dampak terburuk dari perubahan iklim''.

"Menerima lebih dari batas tersebut maka berarti kerusakan bagi ekosistem laut, kita akan mengalami kekurangan makanan dan air, dan relokasi warga. Katakan kepada saya - apakah itu langkah yang praktis?''.

Sebelumnya Perdana Menteri Inggris Gordon Brown mengakui kalau KTT ini mungkin tidak akan mencapai kesepakatan.

Dia menambahkan ''jika tidak ada kesepakatan dalam pekan ini, maka warga dunia akan ragu apakah kita bisa mencapai kesepakatan sama sekali''.

Berita terkait