Ketergantungan penduduk

Keluarga Gabriel Praso di Kupang, NTT
Image caption Semakin besar beban semakin kecil peluang menyisihkan pendapatan

Angka ketergantungan penduduk Indonesia dewasa ini tercatat 47%, artinya setiap 100 penduduk produktif menanggung beban 47 jiwa tidak produktif sehingga pendapatan keluarga tersedot untuk memenuhi kebutuhan pokok.

Saya mengambil contoh keluarga Gabriel Benediktus Praso, yang memiliki sembilan anak, untuk menggambarkan betapa besar beban penduduk produktif, usia 15-64 tahun.

Bapak berusia 62 tahun ini telah pensiun dari PT Pos dan Giro dengan uang pensiun Rp 700.000 per bulan. Itulah satu-satunya sumber pendapatan untuk menghidupi sembilan anak, istri, diri sendiri dan tiga anggota keluarga lainnya.

"Saya atur sedemikian gaji ini...untuk membeli beras satu bulan 60 kg. Kita harus makan bubur malam hari, siang makan nasi," tutur Gabriel.

Pendapatan Gabriel nyaris habis untuk keperluan makan dan biaya sekolah anak-anak pada tingkat sekolah dasar. Dua anaknya mengalami kelainan mental dan karena tidak ada biaya sekolah, mereka tinggal di rumah saja.

Tidak produktif

Rumahnya mungil menghadap sungai di Oebobo, Nusa Tenggara Timur. Di halaman terdapat empat tiang bambu menyangga terpal biru untuk menaungi sebuah meja kecil.

Image caption Anak-anak Gabriel belum ada yang bekerja, istrinya berjualan cabai

Di atas meja ini, istri Gabriel menempatkan beberapa onggokan tomat dan cabai.

"Kadang-kadang ada tetangga beli tomat dan cabai. Lumayan untuk menambah penghasilan," kisahnya.

Sebagian besar anggota keluarga Gabriel masih anak kecil, hanya beberapa saja yang masuk kelompok usia produktif .

Itupun sesungguhnya mereka tidak produktif karena menganggur walau dari segi usia mereka masuk kelompok produktif.

Kepala Pusat Penelitian Kependudukan Universitas Nusa Cendana Kupang Jakobus Yakob mengatakan keluarga Gabriel merupakan cermin betapa masih tinggi rasio ketergantungan di Indonesia dan betapa buruk dampaknya bagi generasi mendatang.

"Tingkat ketergantungan yang tinggi itu berarti bahwa beban tanggungan keluarga untuk membiayai kehidupan yang layak bagi semua anggota keluarga tidak tercapai. Penghasilan keluarga seluruhnya dihabiskan bahkan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari," kata Yakobus.

Akibatnya, kata Yakobus, keluarga tidak mampu menyisihkan uang bagi pengembangan sumber daya manusia dan bagi peningkatan kualitas hidup.

Bonus demografi

Rasio ketergantungan nasional saat ini masih 47%, artinya setiap 100 penduduk produktif menanggung 47 penduduk tidak produktif di bawah umur 15 tahun dan 65 tahun ke atas.

Namun rasio ketergantungan cenderung menurun belakangan setelah sempat mencapai 70% dan diperkirakan akan mencapai titik terendah pada 2020-2030.

Pada periode itu akan terdapat peluang lebih besar untuk melakukan investasi manusia guna mendorong produksi.

Bagaimanapun, apa yang disebut sebagai bonus demografi ini bagaikan pisau bermata dua seperti dikatakan oleh Sonny Harry Harmadi, Kepala Lembaga Demografi, Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia.

"Di satu sisi mereka bisa mendorong ekonomi untuk tumbuh kalau mereka bekerja tetapi di sisi lain mereka bisa menciptakan instabilitas sosial dan politik kalau mereka tidak bekerja. Jadi mereka itu produktif tapi tidak bisa menyalurkan produktifitasnya karena tidak terserap di pasar kerja," tegas Sonny.

Bonus demografi ini diproyeksikan akan mengalami titik balik ketika angka kelompok lanjut usia menjadi lebih besar dibandingkan generasi muda dan bahkan, kata mantan Menko Kesra Haryono Suyono, ketergantungan penduduk lansia yang jumlahnya akan mencapai 30 juta, lebih mahal.

"Kalau 30 juta ini tidak bekerja akan menjadi tanggungan baru sehingga beban ketergantungan yang menurun sampai tahun 2015 akan naik lagi. Bedanya dengan dulu, kalau dulu yang menjadi tanggungan anak di bawah 15 tahun. Anak-anak sakit dibawa ke dokter ongkosnya murah tetapi orang tua yang sakit itu sakitnya lebih mahal," katanya.

Hari tua

Persoalannya, kata Kepala BKKBN Sugiri Syarief, program-program pemberdayaan lansia di Indonesia belum semaju di negara-negara yang mengalami ledakan lansia seperti Jepang. Bahkan pada umumnya mereka juga tidak memiliki jaminan hari tua.

Image caption Dinas Sosial menampung lansia yang terlantar ekonomi dan sosial

Jadi mungkin beberapa puluh tahun lagi lansia akan memenuhi panti-panti jompo seperti yang saya lihat ketika mengumpulkan bahan laporan ini di Jawa Barat, provinsi dengan penduduk terbanyak di Indonesia.

Saya mengunjungi beberapa panti yang dioperasikan oleh lembaga-lembaga keagamaan dan juga sebuah panti milik Dinas Sosial. Panti yang terakhir, Balai Perlindungan Tresna Werda, Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung ini dihuni oleh 150 nenek dan kakek.

Menurut pekerja sosial di panti, Sobirin Rahmat, pihaknya hanya bisa mengakomodasi 150 orang berdasarkan kuota daya tampung padahal banyak lansia yang masuk daftar tunggu.

"Mereka yang bisa diterima di sini adalah mereka yang terlantar ekonomi, terlantar sosial dan mereka di sini bisa melakukan berbagai aktivitas," kata Sobirin.

Pada umumnya penghuni panti mengaku tidak mau meninggalkan Balai Tresna Werda.

"Ini adalah rumah saya yang terakhir sebelum dipanggil oleh Yang Maha Kuasa," tutur Suwarni, 60 tahun, sambil menjahit sprei panti meski jari-jemarinya tidak lentik lagi karena radang sendi.

Berita terkait

Tautan inernet terkait

BBC tidak bertanggung jawab atas konten internet luar