Perempuan di kerumunan supir pria Busway

Terbaru  7 Maret 2011 - 18:33 GMT
Siti Maria, supir Busway

Siti Maria adalah satu dari 80 supir perempuan di Transjakarta Busway.

Bus Transjakarta Busway yang besar ternyata tidak menghalangi puluhan perempuan untuk menjadi pengemudinya.

Meski masih sedikit, Badan Layanan Umum Transjakarta Busway sejauh ini telah mempekerjakan 80 perempuan dari 1.300 pengemudi armadanya.

"Pramudi perempuan kebanyakan ada di koridor I untuk shift pagi, yang operasi hari ini ada Nurbayani, Sumiati, Nuryanti, Siti Maria, Laksmi, Nurjannah...," Sarbini, salah seorang koordinator di pemberhentian akhir halte Blok M menjelaskan ketika dikunjungi BBC Indonesia.

Pada shift pagi, seorang supir perempuan busway akan bertugas dari pukul 05.00 hingga 13.00, yang dianggap sangat cocok bagi pengemudi busway perempuan.

"Saya bisa tenang bekerja karena waktunya sangat ramah untuk keluarga. Dari Jam 13.00 siang sudah bisa pulang ke rumah kumpul dengan anak-anak," kata Siti Maria yang sudah dua tahun berprofesi sebagai pengendara busway.

Ibu empat anak ini mengatakan pengalaman kerja sebagai supir taksi sebuah armada taksi terkenal makin meneguhkan niatnya untuk menekuni pekerjaan ini.

"Dari kecil saya memang senang nyetir, jadi kerja di sini cocok sekali buat saya," tambah Maria sambil tersenyum.

Transjakarta Busway kini memiliki 10 rute angkutan dan mengklaim mengangkut sekitar 250.000 penumpang setiap hari, dari dan ke arah pusat kota Jakarta.

Takut kecelakaan

Dengan rekan kerja yang sebagian besar adalah laki-laki, tidak ada perbedaan yang mencolok pada dalam peran supir busway perempuan.

"Sedih saya kalau ada kecelakaan, pasti busway yang disalahkan. Saya juga takut itu terjadi pada saya."

Siti Maria

"Kerjanya sama, tugasnya sama, gajinya juga sama," kata Nur Jannah, pengemudi perempuan yang masih berstatus lajang.

Nur Jannah mengatakan bahwa rekan kerja laki-laki di busway juga tidak membedakan perlakuan terhadap supir perempuan.

Bergaul dengan kebanyakan rekan laki-laki tampaknya juga tidak membuat Maria dan Nur Jannah kehilangan sifat-sifat feminin.

Maria kerap mengecek dandanannya sebelum turun dari bus atau saat berada di ruang ganti.

Beberapa rekan kerja laki-laki nampak menggoda supir perempuan yang sedang berdandan di ruang pengemudi yang sempit di halte Blok M.

Namun peran perempuan menjadi sorotan saat terjadi kecelakaan yang mengakibatkan korban meninggal, jika busway tersebut dikemudikan oleh pengemudi perempuan.

"Sedih saya kalau ada kecelakaan, pasti busway yang disalahkan. Saya juga takut itu terjadi pada saya," kata Siti Maria.

Supir Busway

Sebagian besar supir Transjakarta Busway adalah kaum pria.

Tingkat kecelakaan di jalur busway yang melibatkan mobil berbadan lebar itu memang terhitung kerap terjadi.

Pada periode Januari-April 2010 saja, tercatat 109 kasus kecelakaan dengan 3 korban tewas, 6 orang luka berat, dan 28 luka ringan.

Penumpang juga kerap menjadikan supir busway sebagai sasaran akibat antrian panjang calon pengguna busway.

"Penumpang marah, mengeluh, dipikir kami penyebabnya padahal di jalan sedang ada perbaikan, ada demo, macam-macam lah," tambah Maria.

Situasi umum lalu lintas Jakarta yang sangat padat dan rumit juga membuat pengoperasian busway menjadi sulit.

Begitu sekelompok orang melakukan aksi demonstrasi, misalnya, lalu lintas akan langsung terpengaruh termasuk jalur khusus seperti busway.

"Sedihnya itu kalau jalur dialihkan ke jalan biasa, jadi harus bersaing langsung dengan kendaraan umum, macet sama-sama lah," Nur Jannah berkomentar sambil tertawa.

Target masa depan

Memiliki pengemudi perempuan juga dimanfaatkan Transjakarta Busway untuk melakukan beberapa aksi khusus seperti mengenakan kebaya pada hari Kartini, setiap April.

Melalui layanan semacam ini, diharapkan penumpang makin mengenal profesi supir perempuan serta merasa nyaman berkendara dengan busway.

"Banyak lho yang masih merasa aneh melihat perempuan duduk dibelakang setir busway. Keluarga saya juga bangga sekali," kata Maria yang mengaku di kampung halamannya, Cirebon, profesi pengemudi busway masih menimbulkan kekaguman orang.

Jika Nur Jannah mengatakan penghasilannya dari menyetir cukup untuk menghidupi kedua orangtuanya, maka Maria mengatakan penghasilan dari menyetir menyelamatkan pendidikan anaknya.

"Tadinya berhenti kuliah karena tak ada biaya, sekarang bisa dilanjutkan kembali."

Transjkarta Busay menargetkan mempekerjakan 30% perempuan untuk profesi pengemudi, namun tidak menyebutkan batas waktu pencapaian target ini.

Ini target yang disambut senang oleh Maria maupun Nur Jannah.

"Selama masih bisa, saya akan terus bekerja disini," tekad Maria.

Link terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.