Sponsor rokok masih diharapkan

Terbaru  1 Juli 2011 - 18:00 WIB
Pentas musik

Pertunjukan musik di Indonesia sudah memiliki banyak pilihan sponsor.

Pentas Kelly Clarkson di Jakarta pada akhir April 2010 mungkin bisa disebut sebagai salah satu tonggak dari pertunjukan musik di Indonesia.

Waktu itu Clarkson mengaku terkejut ketika mengetahui konser musiknya ternyata disponsori oleh industri rokok dan akhirnya PT Djarum mundur.

Setelah itu, Java Musikindo -yang mendatangkan Clarkson dan juga beberapa artis dunia lain ke Jakarta- juga menerima beberapa permintaan dari pemusik internasional yang tidak bersedia jika pentasnya menggunakan sponsor rokok.

Salah satu contohnya, kata pemilik Java Musikindo, Adri Subono, adalah Maroon 5 yang secara tegas menyatakan tidak bersedia disponsori oleh rokok.

"Saya menyelenggarakan konser Marron 5 sama sekali tidak menggunakan sponsor rokok dan tiketnya habis dalam satu hari," kada Adri Subono.

Adri Subono menambahkan bahwa dengan situs jejaring sosial maka dia bisa melakukan pemasaran secara langsung dan tiket bisa terjual habis, maka sebenarnya kehadiran sponsor tidak mutlak lagi.

"Sekarang saya bisa menggunakan facebook dan twitter sehingga bisa melakukan pemasaran langsung dan ternyata sangat efektif."

Olahraga masih perlu rokok

Olahraga masih mengandalkan sponsor rokok sebagai sumber utama walau musik sudah punya banyak pilihan, seperti dilaporkan wartawan BBC, Liston Siregar

Untuk melihat materi ini, JavaScript harus dinyalakan dan Flash terbaru harus dipasang.

Putar dengan media player alternatif

"Sponsor itu kan bukan hanya melulu untuk membawa fresh money tapi juga untuk mempromosikan event itu, ketika saya sudah bisa menggunakan twitter dan saya memiliki 500.000 pengikut, itu promosi yang sangat efektif sekali."

Berbagai sumber

Adri Subono menegaskan bahwa industri rokok masih banyak mendukung kegiatan-kegiatan di Indonesia, namun jelas bukan satu-satunya lagi.

"Sekarang bukan hanya rokok, banyak sekali. Mulai dari bank, operator telepon, minuman, bahkan makanan juga mulai terjun ke pertunjukan sebagai sponsor."

Beragamnya produk yang mulai masuk ke pertunjukan musik, menurut Adri Subono, antara lain karena para produsen melihat bahwa produk mereka memang digunakan oleh para penonton musik.

Dan diyakini pertunjukan musik tidak akan menghadapi kesulitan jika kelak nanti diiberlakukan larangan bagi industri rokok dalam mendukung sebuah kegiatan umum, seperti yang sudah ditempuh beberapa negara maju.

"Tidak ada masalah karena banyak sekali produk-produk yang mau mensponsori pertunjukan musik. Mungkin harga tiket agak mahal sedikit."

"Sekarang bukan hanya rokok, banyak sekali. Mulai dari bank, operator telepon, minuman, bahkan makanan juga mulai terjun ke pertunjukan sebagai sponsor."

Adri Subono

Soalnya sponsor biasanya memberikan uang segar langsung kepada promotor, terlepas dari kemungkinan pendapatan yang akan diterima lewat tiket.

"Ketika tidak mendapat fresh money, kita kan harus mendapat pendapatan lebih besar supaya bisa kembali modal. Jadi harga tiket lebih mahal."

Namun Adri Subono -yang sudah menggeluti pertunjukan musik selama 15 tahun- tidak melihat hal itu sebagai masalah karena kenyataan adalah beberapa pertunjukan tanpa iklan rokok tetap diminati para penonton.

Masih penting

Jika musik sudah mengandalkan berbagai produk, pertandingan olahraga hingga saat ini masih mengandalkan industri rokok sebagai sumber utama.

"Selama ini kami mengetuk pintu hampir semua perusahaan besar, tetapi yang kita lihat adalah perusahaan-perusahaan rokok yang secara konkrit membuka pintu dan memberi kontribusi yang signifikan dibanding perusahan-perusahan besar lain," tutur Joko Driyono, CEO Liga Indonesia yang juga menjabat Ketua Panitia Piala AFF 2010 di Indonesia.

Joko menambahkan pendekatan yang digunakan memang praktis dan tidak ingin mengkonfrontir isu olahraga dan kesehatan.

Tantowi Ahmad dan Liliyana Natsir

Olahraga masih mengandalkan industri rokok sebagai sumber dana yang penting.

"Kami sendiri awam dengan perdebatan yang ada sekarang, karena ada rokok putih, rokok kretek. Banyak isu yang muncul di sana. Oleh karenanya pendekatan kami bersifat pragmatis dengan pendekatan regulasi, bukan isu kesehatan dan olahraga."

Sejauh ini, tambah Joko, bahwa olahraga, khususnya sepakbola, menarik penonton yang cukup besar.

"Itu saya anggap sebagai daya tarik mereka (industri rokok) untuk promo karena ruang-ruang untuk promo mereka yang semakin dibatasi," tambahnya.

Di masa depan jelas bahwa olahraga -dan juga sektor-sektor lainnya- harus mencari sumber-sumber lain.

"Kami tidak dalam posisi mendorong perubahan-perubahan atau kebijakankan rokok mau bergeser ke mana. Kami tidak mau masuk ke sana karena itu bukan dunia kami, tapi kami melihat potensi sponsorhip harus digali dari beberapa sumber non-rokok."

Yang jelas Joko menyadari baha volume dana yang beredar di sektor periklanan amat besar sehingga tetap saja ada peluang yang tersedia dari produk bukan rokok.

Kontribusi 'positif'

Cabang tinju juga masih amat mengandalkan industri rokok, seperti diakui oleh Ketua Harian Komisi Tinju Profesional Indonesia, KTPI, Dr Tommy Halauwet.

"Selama ini kami mengetuk pintu hampir semua perusahaan besar, tetapi yang kita lihat adalah perusahaan-perusahaan rokok yang secara konkrit membuka pintu dan memberi kontribusi yang signifikan dibanding perusahan-perusahan besar lain."

Joko Driyono

"Saya kira kita mesti mengakui bahwa, terutama di Indonesia, sponsor-sponsor untuk olahraga itu memang untuk sponsor selain rokok itu terlalu kecil. Artinya sangat kecil sponsor di luar rokok yang mau berpartisipasi."

Dr Tommy Halauwet menegaskan hal itu tidak menjadikan iklan rokok bisa dituding langsung sebagai penyebab kecanduan merokok.

"Kita tahu walaupun sponsornya rokok, tidak lantas olahragawan merokok."

"Saya sebagai dokter, kalau ditanya akibat rokok pada manusia memang jelek. Tapi pada olahraga, dia membantu mensponsori untuk menyelenggarakan event yang besar. Sementara industri yang lain kecil sekali kemungkinannya."

Bagaimanapun jika ada larangan untuk sponsor rokok, jelas dunia olahraga harus mencari jalan ke luar. Namun sejauh ini Dr Tommy Halauwet melihat kontribusi positif dari industri rokok dalam penyelenggaraan peristiwa olahraga.

"Soal penyakit ya pastilah, dari sekian orang perokok berapa banyak yang menderita. Tapi dia (industri rokok) memberikan hasil yang positif.

"Akibat dia bikin pertandingan atau event olahraga yang besar, berapa banyak anak remaja kita yang ikut olahraga, itu kan positif dan tidak terbawa dengan narkoba dan yang lain-lain. Kita harus seimbang melihatnya," tambah Dr Tommy Halauwet.

Bagaimanapun di tengah-tengah tekanan agar rokok tidak menerapkan promosi yang besar, Ketua Aliansi Masyarakat Tembakau Indonesia, Sudaryanto, berpendapat yang menjadi dasar harus tetap perundangan.

"Hak pribadi masing-masing, ada yang anti ada yang pro. Tapi rokok adalah produk legal yang dilindungi oleh undang-undang," tegasnya.

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.