Mengintip sekolah Islam modern berasrama

Terbaru  22 Agustus 2011 - 09:28 WIB
Siswa IIBS

Para siswa SMA di IIBS juga diwajibkan mengikuti program tinggal satu bulan di luar negeri.

Sekolah berasrama berbasis agama jelas bukan merupakan hal baru di Indonesia, namun tampaknya kemajuan ekonomi membuat munculnya sekolah berasrama modern.

Jika selama ini mungkin sudah sering terdengar pondok pesantren Islam maupun asrama sekolah Katolik dengan ajaran agama yang kuat, belakangan muncul sekolah berasrama yang masih berkarakter agama walau pelajaran agama tidak seketat sekolah asrama yang sebelumnya.

IIBS atau International Islamic Boarding School adalah salah satu sekolah yang masih menawarkan unsur agama namun tak kalah kuatnya adalah tawaran fasilitas premium.

"Di dalam asrama pendidikan berlangsung lebih lama. Di sini kami mengajarkan budi pekerti, memberikan tauziah dan cara sholat mulai pukul enam hingga delapan malam setelah itu siswa belajar mandiri," kata Zerry Novian, Kepala Sekolah SMA International Islamic Boarding School yang terletak di kawasan industri Cikarang, Jawa Barat.

Di IIBS -sama seperti sekolah tradisi sekolah Islam berasrama- semua siswa, misalnya, mengaji setiap harinya.

"Nilai-nilai agama Islam kami upayakan untuk disatukan dengan kegiatan sehari-hari," tambah Zerry.

Namun selain ajaran agama Islam yang kuat, IIBS juga menawarkan sejumlah tawaran yang berbeda dengan sekolah yang ada.

Fasilitas sekolah modern seperti tata audio di kelas dan juga perangkat komputer modern melengkapi sejumlah ruang kelas IIBS.

Siswa juga diajarkan menggunakan bahasa pengantar berupa bahasa Inggris di sejumlah mata pelajarannya.

Untuk menjamin pengajaran berkualitas tinggi, IIBS memilih untuk mempekerjakan para tenaga pengajar lulusan S2 dan S3.

"Orang tua pada umumnya semakin lama semakin sibuk sementara di boarding akan terawasi dan terbimbing selama 24 jam oleh pengawas dan tutor-tutor. Jadi aktivitasnya lebih terjamin."

Prof Dr Bambang Pranowo

"Pengajar kami hampir 25% adalah lulusan post graduate, ada yang S2, S3 dan ada yang lulusan luar negeri," kata Zerry.

Aktifitas terjamin

Letak sekolah dengan fasilitas berasrama ini umumnya berada di luar Jakarta dan setidaknya terdapat tiga hingga empat sekolah berasrama modern yang baru di sekitar Jakarta.

Zerry mengatakan kecenderungan pertumbuhan jumlah siswa di sekolah seperti itu menunjukan peningkatan yang cukup baik.

"Dari perjalanan IIBS, awalnya hanya 40 siswa namun sekarang sudah 140 untuk siswa SMA yang menjalani sekolah dengan sistem boarding."

"Siswa yang bersekolah di sini 40 persen berasal dari luar Jawa."

Didirikan empat tahun lalu, IIBS awalnya hanya mengkhusukan pendidikan pada siswa di tingkat SMA namun belakangan mereka juga mengembangkan sekolah untuk tingkat SD dan SMP.

Hanya para siswa SD belum ada tawaran untuk tinggal di asrama sedangkan siswa SMP masih diperkenankan untuk memilih tinggal di asrama atau tetap di rumahnya bersama keluarga masing-masing.

Sepertinya keinginan agar anak tetap mendapat perhatian di tengah-tengah kesibukan orang tua, menjadi salah satu alasan untuk mengirim anak ke sekolah berasrama modern.

Asrama IIBS

Kamar yang digunakan para siswa di SMA IIBS, di kawasan Cikarang.

"Orang tua pada umumnya semakin lama semakin sibuk sementara di boarding akan terawasi dan terbimbing selama 24 jam oleh pengawas dan tutor-tutor. Jadi aktivitasnya lebih terjamin," kata Prof Dr Bambang Pranowo, Guru Besar Sosiologi Islam di UIN Syarif Hidayatullah.

Dan Herman Sani, salah seorang yang mengirim tiga putranya ke IIBS, mengaku bahwa sistem pendidikan yang ditawarkan IIBS membantu mereka dalam mengembangkan pendidikan putra-putranya.

"Saya melihat karena kesibukan kami sebagai orang tua maka anak bersekolah di boarding bisa lebih berkonsentrasi dan mandiri. Dengan arahan pembimbing dan kondisi di sana anak-anak bisa lebih disiplin," kata Herman Sani.

Pengalaman luar negeri

Dengan sistem berasrama, maka jumlah jam belajar praktis juga lebih banyak, sementara pada sisi lain jumlah siswa yang relatif sedikit memungkinkan proses belajar yang lebih intensif.

Oleh karena itu IIBS bisa memadatkan pelajaran tingkat SMA bisa diselesaikan dalam waktu dua tahun, atau setahun lebih cepat dibanding dengan SMA umum lainnya.

IIBS -yang dikelola oleh PT Internasional Islamic Boarding School- kini sedang berupaya untuk membuka cabangnya di luar negeri.

Bagaimanapun keinginan agar siswa-siswa mereka mendapat pengalaman belajar dan hidup di luar negeri sudah ditempuh dengan pengiriman siswa selama satu bulan ke luar negeri.

"Itu merupakan program wajib kami, siswa boleh memilih apakah ingin mengetahui budaya barat di Kanada atau timur di kawasan Timur Tengah," kata Zerry.

"Bagi saya dengan hasil yang kami peroleh maka uang yang kami keluarkan sepertinya tidak seimbang. Saya menyukai hasilnya dan biaya bagi kami tidak masalah."

Herman Sani

"Tahun lalu kami mengirimkan siswa kami ke Kanada dan Jordania. Di Jordania kami juga melakukan misi kebudayaan dan diliput media massa di sana."

Tinggal dan belajar selama satu bulan di luar negeri memang menjadi salah satu kewajiban yang harus diikuti oleh siswa IIBS.

Biaya mahal

Untuk mendapatkan fasilitas belajar yang utama, maka siswa juga harus siap untuk membayar mahal.

"Kami ingin memberikan yang terbaik, salah satu contohnya kami membayar suplai listrik di sekolah ini dengan tarif industri sehingga terhindar dari gangguan pemadaman listrik," tutur Zerry.

Jadi jika kawasan sekitar IIBS masih terancam listrik padam, para siswa IIBS tidak usah khawatir proses belajar mereka terhenti hanya karena aliran listrik yang terputus.

Tapi itu artinya adalah orang tua membayar ekstra.

Untuk masuk SMA di IIBS, misalnya, orang tua harus merogoh rekeningnya sebesar Rp90 juta untuk tahun pertama sedangkan tahun kedua hanya membayar uang sekolah sebesar Rp5 juta per bulan.

Siswa putri IIBS

Ruang belajar untuk siswa puitra dan putri di SMA IIBS dipisahkan.

Masih ada lagi tambahan biaya untuk kunjungan belajar ke luar negeri selama satu bulan, sekitar Rp40 juta lebih.

Namun biaya tampaknya bukan masalah bagi sejumlah orang tua.

"Bagi saya dengan hasil yang kami peroleh maka uang yang kami keluarkan sepertinya tidak seimbang. Saya menyukai hasilnya dan biaya bagi kami tidak masalah," kata Herman Sani, seorang pengusaha.

Dua putranya sudah tamat dari IIBS dan melanjutkan pendidikan ke Universitas Indonesia, sedang satu lagi masih di IIBS.

Sejalan dengan pertumbuhan ekonomi di Indonesia, maka semakin banyak pula orang yang mampu untuk mengirimkan anaknya ke sekolah berasrama modern.

"Demand untuk sekolah ini memang cukup tinggi sehingga laris dan memang peminatnya banyak dari kelas menengah atas," tambah Prof Dr Bambang Pranowo.

Bagaimanapun Zerry Novian menegaskan bahwa IIBS bukan sekedar sekolah berasrama modern yang mahal dengan pengajaran seperti sekolah umum lainnya.

"Kami mengintegrasikan agama Islam ke dalam kegiatan sehari-hari," tegas Zerry kepada BBC Indonesia.

Agaknya di sebuah negara yang sedang mengalamai pertumbuhan ekonomi -dengan masyarakat yang masih kuat memegang nilai-nilai agama- terbuka peluang untuk menawarkan sesuatu yang 'mahal' dengan karakter agama.

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.