Kalangan menengah melirik sekolah Islam terpadu

Wen Jiabao Hak atas foto AFP
Image caption PM CIna Wen Jiao Bao sempat mengunjungi Al Azhar pada bulan April lalu.

Sekolah Al-Azhar yang didirikan oleh Yayasan Pesantren Islam Al-Azhar pada tahun 1963 merupakan salah satu pelopor sekolah Islam modern di Jakarta.

Berawal dari sekolah madrasah dengan satu kelas yang berisikan tidak lebih dari 20 murid, kini YPI Al-Azhar memiliki 103 sekolah di seluruh Indonesia.

Dilengkapi dengan fasilitas pendidikan lengkap dan tenaga pengajar berkualitas, YPI Al-Azhar berhasil mengembangkan pendidikan dengan 26.000 murid dari berbagai tingkatan mulai TK, SD hingga SMU.

Bahkan belakangan Universitas Al-Azhar juga berdiri di Jakarta dan dikunjungi Perdana Menteri Cina, Wen Jiabao, saat lawatannya di Indonesia, April 2011.

Kunjungan Wen Jiabao itu mencerminkan posisi pendidikan Al-Azhar dalam pendidikan berwarna Islam di Indonesia: moderat dan bergengsi.

Al-Azhar agaknya tidak bisa dilepaskan lagi dari sebagian kelompok menengah masyarakat Islam di kota-kota besar Indonesia, yang masih terikat pada nilai-nilai Islam namun juga tak ingin tertinggal dari modernitas.

Daya tarik

Konsep pendidikan Al-Azhar memang didasarkan pada pemantapan akidah atau keyakinan.

"Pemantapan akidah ini harus ditransfer kepada kurikulum pendidikan yang ada. Kurikulum di sini dikenal dengan kurikulum nasional berbasis pada keimanan dan ketaqwaan terhadap Allah," kata Direktur Pendidikan Dasar dan Menengah YPI Al Azhar, Cecep Kurnia Sogoz.

Menurut Cecep konsep pendidikan seperti inilah yang sekarang dibutuhkan oleh banyak orang tua.

"Itulah salah satu yang menarik bagi masyarakat di tengah hedonisme, materialisme, kekerasan dan pragmatisme."

"Dalam seminggu kami berikan tujuh jam pelajaran bermuatan agama, diantaranya kajian Al Quran, bahasa Arab, pendidikan agama, dan pembangunan karakater. Jadi melebihi apa yang diberikan oleh sekolah negeri."

Orang tua siswa menilai konsep pendidikan Al-Azhar ini mampu menjawab sejumlah kekhawatiran mereka.

"Keuntunganya dari sisi disiplin ilmu umum mereka tetap memperhatikan, tetap ada target dan dari sisi pendidikan agama. Juga ditail terutama untuk akhlak dan kebiasaan ibadahnya. Karena mau tidak mau kebiasaan ibadah di sekolah akan membiasakan anak di rumah," kata Ririn, yang mengirim putrinya bersekolah di SMP Al Azhar di Jakarta.

Pengamat pendidikan Darmaningtyas juga menilai sekolah berbasis agama seperti Al-Azhar bisa bertahan karena konsistensi dalam pendidikan berkualitas yang bersanding dengan pendidikan moral keagamaan.

"Golongan mapan di kota besar sangat menginginkan anak-anak bersekolah dengan pendidikan berkualitas dan basis agama yang kuat," kata Darmaningtyas.

Kelas menengah

Image caption Kelompok kelas menengah di Jakarta tertarik dengan pola pendidikan Al Azhar.

Dengan fasilitas seperti ruang kelas yang dilengkapi mesin penyejuk, maka biaya yang dikeluarkan orang tua jadi tidak sedikit.

Orang tua siswa di salah satu SMP Al-Azhar di Jakarta, misalnya, harus mengeluarkan biaya masuk dan uang pangkal di tahun pertama sekitar Rp25 juta sementara di tahun kedua siswa akan dikenakan uang sekolah bulanan sekitar Rp650.000. Biaya ini sudah meliputi buku dan seragam sekolah serta sejumlah kebutuhan lain.

Biaya pendidikan ini terasa tinggi jika melihat upah minimum regional Jakarta yang berkisar pada Rp1,2 juta rupiah lebih.

Namun YPI Al-Azhar menilai biaya pendidikan itu terhitung wajar jika melihat fasilitas dan kualitas pendidikan yang diberikan kepada murid-muridnya.

"Ada yang mahal tapi murah, ada yang murah tapi mahal. Semua biaya di sini sudah tertutupi semua mulai dari buku, seragam dan kegiatan ekstrakuler. Di sekolah lain mungkin biayanya kecil tapi terus mengutip sehingga bisa melebihi biaya di sini. Kami juga tidak dapat dana dari pemerintah," tutur Cecep Kurnia Sogoz.

"Sebagian besar memang untuk biaya tenaga pengajar," jelasnya.

Cecep juga menjelaskan biaya di masing-masing sekolah Al-Azhar kadang berbeda walau berada di bawah satu yayasan.

"Kami tidak bisa memberikan standar biaya yang sama antara SMA 1 yang kami beri label unggul dengan misalnya SMA 3 yang punya keunggulan lain atau SMA 2 di Pejaten. Tergantung wilayah mereka berada."

Meski biaya pendidikan di sekolah tinggi, orang tua para siswa tampaknya tidak keberatan.

"Pertimbangannya supaya anak-anak bisa belajar agama lebih ditail. Misalkan di Al-Azhar itu kan pelajaran Al Quran dan bahasa Arab sudah jadi modul sehingga tidak perlu tambahan pelajaran ekstra lagi untuk pelajaran agama dan biaya pendidikannya juga sepadan karena kami tidak lagi repot untuk mencarikan guru agama di luar jam sekolah misalnya," kata Ririn.

Bagaimanapun Al-Azhar menegaskan tetap menyediakan bantuan bagi siswa yang tidak mampu.

"Kita fleksibel, jika ada anak berprestasi tapi tidak mampu ya ada pertimbangan seperti itu juga," kata Cecep.

Kerjasama lembaga

Minat masyarakat yang terus tumbuh membuat Al-Azhar berencana untuk mengembangkan sekolah dengan standar internasional. Selama rencana itu disiapkan, YPI Al-Azhar juga mengembangkan kerjasama dengan sejumlah yayasan lain untuk menumbuh kembangkan Al-Azhar

Cecep mengatakan yayasan mitra tersebut kelak akan diberikan semacam hak pengelolaan sebuah sekolah dengan menggunakan nama Al-Azhar.

"Yayasan itu, misalnya ada namanya Yayasan Al-Muhajirin di Bekasi, yang merupakan yayasan wakaf dan bukan merupakan yayasan keluarga atau pribadi. Kami berikan persetujuan untuk mengelola SMA Islam Azhar 4, SMP Islam Al Azhar 8, dan 9 serta TK Islam Al Azhar 11," kata Cecep.

"Meski pengelolaannya di tangan mereka namun konten, kurikulum dan gurunya dari pusat. Begitu juga dengan kesejahteraan gurunya harus sesuai dengan standar kami."

Minat kerjasama model ini semakin tumbuh dan Cecep mengatakan banyak yayasan wakaf lain maupun perusahaan property yang ingin melakukan kemitraan yang sama.

Dengan konsep seperti ini apakah kemudian memang sekolah berbasis agama seperti Al-Azhar akan masuk dalam jebakan untuk menjadi sekolah yang semata-mata mengedepankan bisnis?

"Saya pikir kita juga tidak boleh arogan bahwa sekolah agama tidak mungkin terjebak dalam hal pragmatis. Saya kira tidak tertutup kemungkinan bahwa ada kepentingan pragmatis, dan mengembangkan sekolah sebagai ladang bisnis menjadi tidak terhindarkan," kata Darmaningtyas.

Berita terkait