Sebanyak 164 buku terkait 9/11

Terbaru  6 September 2011 - 17:25 WIB
Sampul buku

Sejumlah novel lahir terinspirasi peristiwa serangan sebelas September

Banyak buku telah ditulis mengenai serangan 11 September namun adakah yang terkait dengan peringatan serangan itu?

Ketika Changez, pahlawan Pakistan dalam buku The Reluctant Fundamentalist, menyaksikan Menara Kembar rubuh, dia tersenyum.

Little Oskar Schell, anak berusia sembilan tahun dalam buku Extremely Loud and Incredibly Close, yang bergulat dengan kematian ayahnya menciptakan buku seri bergambar berisi 15 foto kabur yang disusun terbalik mengenai seorang pria yang jatuh sampai meninggal dari World Trade Center.

Ketika dia membuka halaman buku itu gambar orang yang jatuh itu kembali ke atas gedung dengan selamat.

Di dalam buku Open City, penulisnya Teju Cole melukiskan Kolonel Tassin - tokoh nyata abad ke-19 - yang menghitung jumlah burung yang mati karena terbang menabrak Patung Liberty sampai 1.400 ekor per malam.

Cerita ini mengingatkan pembunuhan karena tabrakan yang juga terjadi di New York, dua abad kemudian.

Tiga buku ini berusaha menggali fakta-fakta sebelas September untuk dijadikan fiksi.

Menurut data Books in Print yang melacak cetakan dan buku yang dipublikasikan serta diedarkan di Amerika Serikat, terdapat 164 karya bertemakan tragedi tersebut.

Pancing imajinasi

Buku-buku ini apakah langsung membahas peristiwa itu atau menggunakannya sebagai cantolan karya sastra mengenai cinta, kehidupan dan kematian.

Menurut Erica Wagner, Literary Editor of The Times, peristiwa besar itu biasanya berhasil untuk memancing imajinasi.

"Setiap orang penasaran: apa yang terjadi jika saya mengalaminya? Apa yang akan saya lakukan? Ini tugas novelis untuk menuangkannya," tuturnya.

Tragedi sering melahirkan banjir karya seni. Perang saudara Spanyol menelurkan karya Hemingway: For Whom the Bell Tolls.

"Setiap orang penasaran: apa yang terjadi jika saya mengalaminya? Apa yang akan saya lakukan? Ini tugas novelis untuk menuangkannya"

Erica Wagner

Pemboman kota Dresden di Jerman membangkitkan Kurt Vonnegut untuk menulis Slaughter-House Five.

Pertumpahan darah terbesar dalam satu hari sejarah perang umat manusia, Battle of Borodino 1812 dilukiskan dalam karya agung Tolstoy, Perang dan Damai.

Serangan 11 September mengguncang dunia dan cara kita berfikir. Masuk akal jika para novelis melukiskannya dalam karya mereka. Namun dalam rentang waktu 10 tahun, apakah ada satu novel yang menarik lebih menarik perhatian dari karya lainnya ?

Bukan Ping pong

Pencarian tampaknya masih berjalan. Satu godaan muncul bahwa setelah satu dasa warsa ini perlu memberikan penghargaan atas sebuah karya. Namun sebagai pemicu imajinasi, kata Wagner, peristiwa itu tidak langsung melahirkan karya besar.

"Sepuluh tahun bukanlah waktu yang lama dari sudut pandang karya fiksi," jelasnya.

"Jika kita melihat novel-novel Dickens misalnya, muncul pada waktu kontemporer. Namun dia sering bercerita mengenai masa kecilnya yang jaraknya 40 tahun atau lebih," katanya.

Perang dan Damai muncul lebih dari 50 tahun setelah Napoleon menginvasi Rusia.

Buku The Killer Angels karya Michael Shaara yang merupakan cerita fiksi dari Perang Gettyburg muncul 120 tahun sesudahnya.

Sebaliknya Catch-22 oleh Joseph Heller ditulis tahun 1961, 15 tahun sesudah berakhirnya Perang Dunia II.

Menurut John Sutherland, profesor Modern English Literature di University College London terdapat hubungan yang sangat dekat antara fiksi dan peristiwa.

Namun tidak seperti permainan ping-pong dimana fiksi tidak selalu merupakan tanggapan langsung sebuah peristiwa.

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.