Pernah dendam, tapi kini hidup untuk pesan perdamaian

Terbaru  11 Oktober 2011 - 17:34 WIB
Kisah Iwan dan istri dalam komik

Kisah Iwan dan almarhumah istrinya, ditulis dalam komik untuk memerangi terorisme.

Iwan Setiawan, 36 tahun, Depok, Jawa Barat

Kamis, 9 September 2004, tak akan terlupakan dalam hidup Iwan Setiawan. Bapak satu anak ini tengah melintas jalan raya HR Rasuna Said, Kuningan, dalam perjalanan menuju rumah sakit, memeriksakan kandungan istrinya, Halida, yang sudah berusia delapan bulan.

"Saya berharap bisa berbagi cerita, agar kelak tidak ada lagi korban kekerasan yang harus menderita seperti saya"

Iwan Setiawan

Pukul 09.45, sebuah ledakan keras terdengar dari arah belakang persis saat pasangan ini melewati Gedung Kedubes Australia.

Bola mata kiri Iwan pecah, jaringan sarafnya terbakar tak terselamatkan sehingga kemudian buta total. Halida menderita patah tulang belakang dan dalam tempo 15 jam setelah ledakan bom, anak yang dikandungnya lahir lebih cepat karena kejutan emosional berat dan trauma.

Kehidupan pasangan ini berubah cepat setelah itu. Dari rangkaian pengobatan dan operasi di rumah sakit, Iwan mendapat kesembuhan meski harus merelakan mata kirinya diganti mata palsu. Tetapi dua tahun setelah kejadian, istrinya meninggal dunia akibat infeksi tulang belakang, berkaitan dengan luka awal yang dideritanya saat pengeboman terjadi.

Keluarga ini harus memutar otak mengatasi kesulitan biaya berobat bahkan kemudian harus merelakan rumah untuk dijual. Iwan harus berjuang mencari pekerjaan baru karena status kerja sebelumnya hanya pegawai kontrak.

Setelah Halida tiada, Iwan juga harus berperan sebagai orangtua tunggal untuk dua anak, sementara si bungsu masih balita. Tetapi Iwan mengaku "tidak marah atau benci" pada teroris yang menyebabkan hidupnya penuh derita.

Kini Iwan memiliki sebuah usaha servis komputer di bilangan Margonda, Depok, dan ia memilih memusatkan perhatian pada pertumbuhan dua anaknya, terutama si bungsu Mohammad Rizki Nurhidayat, yang sudah kelas dua sekolah dasar dan hanya sempat merasakan dua tahun belaian bunda.

Di sela waktunya, Iwan juga banyak berkeliling lokasi di Indonesia untuk ikut mengkampanyekan upaya mengatasi pengaruh faham terorisme dan kekerasan.

Iwan bertekad: "Saya berharap bisa berbagi cerita, agar kelak tidak ada lagi korban kekerasan yang harus menderita seperti saya".

Wayan Sudiana, 45 tahun, Denpasar, Bali

Lokasi bom Bali I, Kuta

202 korban tewas termasuk istri Wayan, Widayati, dalam ledakan di Sari Club, Kuta.

Wayan dan istrinya Widayati, sudah menikah beberapa tahun dan dikaruni dua anak masing-masing sembilan dan enam tahun, saat teroris meledakkan bom di Sari Club, sebuah tempat hiburan malam di jalan Legian, Kuta 22 Oktober 2002.

Widayati, seperti biasa malam itu berjaga di belakang meja kasir bar depan klub, menghadapi ratusan tamu yang membanjir di tengah suasana malam minggu. Tak ada yang tahu, petang itu pengebom memilih menyalakan pemicu ledakan, persis lima meter dari tempat duduknya.

Wayan sedang menuju lokasi untuk menjemput Widayati saat mendengar ada ledakan, namun baru tiga hari setelah itu benar-benar menemukan istrinya, tetapi sudah dalam keadaan tak bernyawa dan jasadnya hancur tak dapat dikenali.

Tidak banyak yang bisa diingatnya dari tiga hari yang penuh kekalutan itu, tetapi belakangan teman dan kerabat mengatakan Wayan sering pingsan dan mudah tersulut amarah akibat shock berat yang dialaminya.

Wayan menolak permintaan polisi untuk identifikasi jenazah. Laki-laki pemandu wisata itu nekat meminta jenazah istrinya dibawa pulang untuk proses kremasi sesuai adat Hindu. Anak-anak yang masih belia tidak percaya ibu mereka tiada, karena kondisi jenazah yang sangat parah dan menghitam sama sekali tak mirip wajah asli sang bunda.

Dalam setahun Wayan hidup tanpa arah, tak sanggup melihat keramaian, dan melepaskan pekerjaan sebagai pemandu wisata. Seorang kerabat yang merasa kasihan berusaha menghibur, dan mengajak berburu belut di sawah tengah malam dengan alat listrik sederhana yang mengeluarkan sinar.

Rupanya pertolongan inilah yang menyelamatkan Wayan. "Saya tiba-tiba merasa melihat metafora, kok ada cahaya juga ditengah kegelapan", katanya.

Pelan-pelan dia kembali ke dunia nyata dan dengan bantuan sanak keluarga, mulai lagi bekerja. Kini dunia wisata kembali digelutinya, meski degan terus terang Wayan mengaku masih trauma menjelaskan kepada para turis yang jadi tamunya, sejarah bom bali di jalan Legian, Kuta.

Tetapi seperti para korban lain, Wayan juga tak mengaku dendam kepada pelaku. "Istri saya juga muslim, saya tahu (tindakan) itu bukan ajaran Islam," tegasnya.

Lewat berbagai forum yang dihadirinya, Wayan berharap menyebarkan pesan perdamaian terutama pada pelaku teror yang sudah tertangkap.

"Tolong hentikan aksi teror ini, hentikan semuanya. Ini cuma merugikan seluruh rakyat Indonesia".

Hayati Eka Lakshmi, 41 tahun, Badung, Bali

Aksi untuk Bom Bali

Keinginan untuk menyebar pesan damai, adalah salah satu tujuan hidup Eka sekarang.

Dalam dua tahun, Eka melahirkan dua anak dan pada 2004, si sulung sudah berusia empat tahun, sementara si bungsu 2,5 tahun. Adalah sang ayah, Himawan Sardjono, yang banyak merawat si sulung karena Eka harus konsentrasi mengurus si adik yang masih menyusu.

Tiba-tiba muncul berita, suaminya jadi korban ledakan bom. Kenapa ada bom di bali, siapa yang mau meledakkan bom di pulau yang terkenal cinta damai dan penuh solidaritas itu, serta bagaimana nasib suaminya memenuhi isi kepala Eka dalam beberapa hari pertama kejadian.

Tak makan, tak tidur, hidup nyaris seperti robot dijalani perempuan yang semula menjalankan peran ibu rumah tangga itu. Untunglah keluarganya terus-menerus tak kenal lelah membantu mencari kepastian nasib suaminya.

Nasib juga akhirnya mempertemukan Eka dan Himawan, tujuh hari setelah pencarian, di ruang jenazah RS Sanglah, Denpasar. Tak ada yang bisa dikenali dari jasad suaminya, kecuali ciri fisik dan sisa pakaian karena suaminya anggota satuan pemadam kebakaran di bandara Ngurah Rai.

"Tolong hentikan aksi teror ini, hentikan semuanya. Ini cuma merugikan seluruh rakyat Indonesia"

Wayan Sudiana

Begitu buruk kondisi jenazah suaminya, sampai Eka tak membolehkan anak-anak melihat karena khawatir mereka merekam pemandangan mengerikan itu sebagai potret tentang sang ayah.

Hidup Eka berlanjut dalam kekalutan, mimpi buruk, tangis dan putus asa. Pada saat yang sama, selain kehilangan sosok ayah, keluarga ini juga tak punya pencari nafkah. Eka bersyukur segera mendapat pertolongan.

Lulusan Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang ini berhasil mengatasi kesedihan dengan konseling dan terapi psikologi, hingga akhirnya bangkit kembali.

"Sudah kehilangan satu orang, saya masih diberi amanat menjaga dua orang anak balita. Saya tidak bisa terus-menerus terpuruk," katanya.

Wajah anak-anak lah yang menurutnya menjadi kekuatan utama, pendorong untuk 'hidup' kembali. Eka yang sempat menyimpan amarah dan dendam kepada pelaku pembunuhan suaminya, bingung dan bertanya-tanya: kenapa pelaku mengatasnamankan Islam, agama yang juga diyakini keluarganya?

"Jihad mana yang mereka wakili? Kenapa mereka malah menyebabkan ratusan anak jadi yatim-piatu?" gugat ibu guru ini.

Belakangan Eka merasa perlu memaafkan para teroris itu karena merasa akan membuatnya lebih mudah berdamai dengan nasib.

Eka bersyukur tahun 2006 mendapat kesempatan bekerja sebagai guru sebuah sekolah menengah di Badung, yang memberinya kesempatan menyebarkan pesan damai menolak kekerasan pada anak didik.

"Pokoknya saya bertekad, dengan lembaga manapun, organisasi apapun saya siap sharing dan bicara, kalau itu untuk mencegah radikalisme dan memerangi kekerasan."

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.