Membangun tanggap bencana melalui radio HT

Batas yang tidak boleh dilewati warga
Image caption Batas di seputar kawasan Merapi yang tidak boleh dilewati warga

Ancaman bahaya Gunung Merapi masih ada walaupun gunung api paling aktif di Indonesia ini dalam kondisi tenang dan tidak lagi mengeluarkan abu vulkanik yang biasa disebut penduduk lokal sebagai wedhus gembel.

Setelah erupsi tahun lalu Pusat Vulkanologi Mitigasi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyebut masih ada ancaman sekitar 90 juta kubik lahar dingin yang sewaktu-waktu bisa menyapu kawasan yang dilalui sejumlah aliran sungai yang berhulu di Merapi.

Warga di seputar Merapi mengantisipasi bencana ini dengan menggunakan sistem komunikasi melalui radio HT dan pelatihan masyarakat.

Awal tahun ini bahkan hampir setengah Desa Jumoyo, Magelang, Jawa Tengah, hancur tersapu lahar dingin yang mengalir dari Kali Putih.

Aliran lahar dingin ini juga sempat memutuskan jalur Yogyakarta-Magelang.

Sementara di Yogyakarta aliran lahar dingin yang masuk ke Kali Code, menyebabkan sejumlah kawasan di kota Yogyakarta terendam banjir.

Sejumlah sungai yang biasa dialiri lahar dingin di antaranya kali Gendol, kali Opak, kali Boyong, dan kali Code yang melewati kota Yogya.

Masih tingginya ancaman Merapi ini membuat beberapa komunitas warga di lereng Merapi membentuk sistem komunikasi tanggap bencana, sebagai peringatan dini bagi warga yang berada di kawasan bencana.

Bunyi tut panjang

Image caption Warga di seputar Merapi menggunakan radio HT untuk mengantisipasi bencana

Jaringan Informasi Lingkar Merapi atau Jalin Merapi merupakan salah satu komunitas yang giat memberikan informasi bagi warga lereng merapi untuk mewaspadai bencana.

Salah satu cara penyebaran informasi yang telah dilakukan adalah dengan menggunakan sarana frekuensi radio HT.

Sarana radio HT ini menjadi pilihan utama karena sinyal telepon seluler tidak tembus di sebagian besar kawasan dekat puncak Merapi.

Menurut Elanto Wijoyono, kordinator Jalin Merapi Sleman Yogyakarta, banyak komunitas warga lokal yang terhubung dengan radio HT.

"Ada banyak frekuensi radio komunitas yang digunakan di Magelang, Sleman, Klaten, Boyolali untuk memantau dari hulu sampai ke bawah, ada mekanismenya untuk memantau dari radio ini," kata Elanto.

Menurut Elanto, sistem penyebaran informasi ini sangat sederhana.

"Misalnya ada relawan yang naik ke atas Merapi sewaktu hujan deras, warga yang lain memantau komunikasi radio yang disampaikan warga yang di atas, jadi jika ada situasi darurat maka mereka sudah siap," tambah Elanto.

Menurut Elanto sistem ini terbukti efektif karena bisa meminimalkan risiko lahar dingin yang melintas di aliran sungai yang berhulu dari Merapi.

Sistem ini menurut Elanto sebenarnya sudah berjalan selama 10 tahun.

"Dulu pada tahun 1990-an sudah ada tetapi hanya sedikit yang memakainya. Setelah erupsi besar tahun lalu kini semakin banyak yang punya radio HT dan jadi alat utama komunikasi warga, akibatnya kadang saluran menjadi penuh,’’ kata Elanto.

Ketika BBC menyisir kawasan lereng Merapi di Sleman Yogyakarta, banyak warga yang menenteng radio HT.

"Kalau bunyi tut panjang, artinya Merapi dalam keadaan aman. Tetapi kalau suara tutnya terputus-putus atau bergelombang berarti aktivitas Merapi sedang meningkat,’’ kata Iwan, seorang warga Kepuharjo, Cangkringan, Yogyakarta.

Iwan yang kini bekerja sebagai tukang ojek di dekat puncak Merapi juga mengaku menggunakan radio HT-nya untuk menginformasikan ancaman bahaya yang dia lihat.

"Dari sini juga bisa terlihat aliran lahar dingin kalau turun hujan deras, saya langsung informasikan melalui HT ini agar yang di bawah bersiap-siap," kata Iwan.

Elanto mengatakan apa yang dilakukan dengan radio HT ini murni swadaya masyarakat.

Patok evakuasi

Image caption Tempat kumpul warga bila Merapi mengeluarkan abu vulkanik

Komunitas lain yang juga aktif di Merapi adalah Pasak Merapi.

Koordinator Pasak Merapi, Sukiman, mengatakan komunitas ini memberikan pelatihan bagi warga Merapi untuk memahami tanda-tanda erupsi dan upaya yang harus dilakukan jika Gunung Merapi meletus atau menghadapi ancaman lahar dingin.

Pasak Merapi membentuk Tim Siaga Desa yang dikoordinir oleh Kepala Desa setempat.

"Kami telah membuat prosedur tetap untuk penanganan bencana di masing-masing dusun, di antaranya mengenai proses evakuasi warga jika sewaktu-waktu Merapi meletus," kata Sukiman.

"Patok-patok evakuasi juga dipasang di sejumlah tempat untuk memudahkan warga jika mereka harus mengungsi, jadi tinggal mengikuti patok itu saja untuk melalui jalur yang aman dan bertemu di titik kumpul sebelum dibawa ke tempat pengungsian," tambah Sukiman.

Sukiman mengharapkan jika Merapi kembali meletus di masa datang, maka jumlah korban bisa dikurangi. Komunitas-komunitas Merapi juga sering melakukan pertemuan bulanan yang bukan hanya terkait dengan pembahasan waspada bencana tetapi juga untuk penghijauan Merapi.