Paduan kearifan lokal dan Iptek untuk Merapi

Terbaru  2 November 2011 - 17:46 WIB
Asih

Asih sehari-harinya bekerja di satu universitas di Jogjakarta selain juga di Keraton

"Saat saya mau keluar, saya ditanya sama si mbah 'Sih mau kemana, kalau mau turun, silahkan turun, ajak keluarga semua."

"Tapi saya gak turun karena kalau saya turun gak bagus, kalau saya turun diketawain ayam, itu pesan Mbah Maridjan tanggal 25 Oktober tahun lalu," cerita Asih atau Sihono tentang Mbah Maridjan sebelum Merapi meletus akhir tahun lalu.

Itulah pernyataannya, mengawali perbincangan BBC dengan putra ketiga mantan juru kunci Merapi Mbah Maridjan tersebut.

Kini, Asih lah yang mengemban tugas juru kunci yang pernah dipegang oleh bapaknya itu.

Asih ditunjuk menjadi juru kunci Merapi oleh Keraton Yogyakarta awal April 2011 dan mendapat gelar Mas Lurah Suraksosihono.

"Lurah yang tidak punya kelurahan," canda Asih menanggapi gelarnya tersebut.

Meski Asih keturunan langsung Mbah Maridjan, Asih mengaku tidak serta merta langsung terpilih sebagai juru kunci Merapi, karena dia harus menjalani serangkaian tes yang dilakukan Keraton Yogyakarta bersama delapan kandidat lainnya.

Serangkaian tes dengan empat kriteria penilaian yaitu bidang keagamaan, kebudayaan, kekeratonan, dan kemasyarakatan dilakukan sejak awal tahun 2010.

"Beban ya jelas itu, karena hal baru walaupun saya sudah pernah melihat Mbah Maridjan dan ikut menjalankannya, tetapi jelas bebannya bertambah terutama beban mentalnya itu, jadi perlu persiapan juga,’’ kata Asih.

Labuhan Merapi

"Memang orang biasanya melihat juru kunci itu orang yang tahu, istilahnya ampuh, tapi tidak seperti itu, saya tidak melupakan dan mengedepankan keyakinan saya sebagai seorang Islam"

Asih

Asih mengaku dia akan meneruskan tugas Mbah Maridjan dengan cara menyeimbangkan antara budaya tradisional dengan ilmu pengetahuan dan teknologi.

"Jelas saya akan melanjutkan peran Mbah Maridjan, bapak menjalankan tugas dari Keraton ya sama saya juga, saya tidak berani mengubah, kalau tidak ada perubahan dari Keraton, saya tidak berani mengubah, apa adanya saja."

"Kalau melaksanakan Labuhan, menyampaikan Labuhan dari Keraton ke Merapi, cara-caranya ikuti peraturan Keraton," tambahnya.

Labuhan merupakan upacara tradisional yang di lakukan Keraton Yogyakarta setiap tanggal 30 Rajab (kalender Jawa) dengan memberikan sesajian ke Gunung Merapi sebagai lambang terimakasih dan memohon keselamatan kepada Tuhan bagi warga Yogyakarta.

"Saya juga ingin mengikuti jaman, memegang peran sebagai pemegang budaya menjalankan tradisi, tetapi tidak lepas dari keyakinan kita, kita harus berpedoman kepada itu. Kebudayaan itu kan hanya suatu cara atau kebiasaan saja, tapi namanya kebiasaan saya kira bisa diubah," kata Asih.

Bukan klenik

Rute evakuasi

Di desa-desa seputar Merapi, rute evakuasi ditulis dengan jelas sebagai petunjuk untuk warga

Meski sudah terpilih menjadi juru kunci, Asih yang kini berusia 45 tahun itu mengaku tidak ingin dianggap sebagai tokoh yang bersifat klenik.

"Saya tidak mengerti soal klenik. Kalau ada orang yang tanya tentang klenik saya tidak bisa jawab."

"Memang orang biasanya melihat juru kunci itu orang yang tahu, istilahnya ampuh, tapi tidak seperti itu, saya tidak melupakan dan mengedepankan keyakinan saya sebagai seorang Islam, jadi saya menjalankan ajaran Islam," tegas Asih yang telah menjadi abdi dalem Keraton selama 12 tahun.

Sementara terkait ancaman letusan Merapi, Asih yang bekerja sebagai karyawan di Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta ini mengaku tidak akan mengikuti jejak ayahnya yang tetap bertahan di puncak Merapi walau telah meletus.

"Saya kira sekarang sudah ada namanya alat yang canggih, dengan kearifan lokal kita bisa memprediksi Merapi, walau kadang-kadang tak tepat juga, istilah Jawanya ilmu titen."

"Kita tidak lepas dari teknologi, kita menghimpun informasi dari BPPPTK (Balai Penyelidikan dan Pengembangan Kegunungapian), kami bekerjasama. Kalau di sana pakai teknologi alat canggih, di sini menggunakan kasat mata dan kearifan lokal."

"Saya tidak ingin mengandalkan firasat. Kami harus mengikuti perkembangan zaman," kata Asih.

Dukungan warga

"Memang harus ada pengganti mbah Maridjan yang bukan hanya tahu soal Merapi, tetapi juga paham ilmu umum dan agama"

Wiyarto

Terpilihnya Asih sebagai juru kunci sebenarnya sudah diprediksi oleh warga Kepuharjo, Cangkringan, Sleman Yogyakarta.

Sejumlah warga yang ditemui BBC mengakui sosok Asih didukung karena dianggap sebagai keturunan Mbah Maridjan.

Selain itu menurut Wiyarto, warga Cangkringan, Asih dikenal sebagai sosok yang bukan hanya tahu tentang seluk-beluk Merapi, tetapi juga paham ilmu agama.

"Memang harus ada pengganti mbah Maridjan yang bukan hanya tahu soal Merapi, tetapi juga paham ilmu umum dan agama. Dan bisa menjadi penghubung antara warga Merapi dengan pemerintah soal kegunungapian," kata Wiyarto.

"Pak Asih bisa mengayomi masyarakat dan tahu tentang kondisi Merapi dengan pantauan ke instansi yang mengurusi Merapi," kata Wiyarto.

Asih yang merupakan lulusan Sekolah Pendidikan Agama Islam di Pakem, Yogyakarta ini, telah menjalankan fungsinya sebagai juru kunci pada awal Juli silam saat Upacara Labuhan Merapi dilakukan untuk pertama kalinya setelah Merapi meletus.

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.