Pertumbuhan turun akibat krisis utang Eropa

Terbaru  4 Januari 2012 - 15:00 WIB
Usaha money changer

Pertumbuhan ekonomi Indonesia diramalkan digerogoti krisis utang Eropa dan AS.

Meski fundamen ekonomi hampir merata diakui sebagai salah satu yang terkuat kinerjanya tahun lalu di Asia, namun sebagian besar lembaga keuangan dunia tetap mengkoreksi ramalan pertumbuhan 2012 mereka untuk Indonesia.

Bank Dunia dan Bank Pembangunan Asia masing-masing menurunkan angka ramalan pertumbuhan 2012-nya karena mengkhawatirkan krisis Eropa dan Amerika mempengaruhi kinerja ekspor dan ekonomi kawasan Asia.

Ramalan Bank Dunia untuk Indonesia melorot dari 6,2%, dari sebelumnya 6,3% pada bulan Oktober. Sementara ADB menurunkan ramalannya dari 6,8% menjadi 6,5% untuk Indonesia.

Dari dalam negeri ramalan pertumbuhan ekonomi terakhir Bank Indonesia yang diumumkan akhir November lalu, juga menyebut adanya penurunan dari 6,7% menjadi 6,3% dengan alasan munculnya krisis global dipicu kesulitan keuangan di zona Eropa.

"Tapi masih ada peluang pertumbuhan diatas 6,3% karena tahun depan tidak akan separah 2008," kata Halim Alamsyah, Deputi Gubernur Bank Indonesia, merujuk pada krisis moneter yang menghancurkan ekonomi Indonesia tahun 1997-1998.

Sementara KADIN, memperkirakan kinerja ekonomi tahun lalu jauh lebih kuat ketimbang yang akan terjadi tahun ini, juga karena ancaman krisis dunia.

"Kami merasa pertumbuhan ekonomi yang dipatok pemerintah sebesar 6,7% menunjukan terlalu percaya diri," kata Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia, Suryo Bambang Sulistio dalam paparan akhir tahun di Jakarta, Rabu (28/11).

Menurut Kadin tingkat pertumbuhan yang lebih masuk akal adalah antara 6,2%-6,4%, turun dari pertumbuhan 2011 yang mencapai 6,4%.

Suryo menyitir krisis di Eropa sebagai alasan eksternal yang bisa mengganggu kinerja ekonomi nasional, mengingat kawasan Eropa adalah salah satu tujuan ekspor utama Indonesia.

Minyak dan pangan

Dunia usaha dan pemerintah juga mesti memperhatikan unsur kelangkaan bahan baku dan energi dalam perhitungan bisnis mereka tahun ini, kata pengamat.

"Harga minyak bisa jadi fluktuatif melihat perkembangan di Timur Tengah terutama ketagangan di Iran," kata David Sumual dari BCA.

Pasar di Cina

Krisis harga pangan akan sangat mempengaruhi target pertumbuhan industri makanan.

Ketergantungan Indonesia yang besar pada impor minyak, menurut David bisa berakibat buruk pada proyeksi pertumbuhan, karena alokasi subsidi yang masih sangat besar untuk sektor BBM.

Pasokan energi juga masih jadi persoalan untuk industri terutama menyangkut kebijakan bidang listrik dan gas.

Krisis listrik mencapai puncaknya dua tahun lalu, saat kasus pemadaman di Jawa mengakibatkan kerugian ratusan miliar.

Proyek 10.000 megawatt yang dicanangkan sejak periode pertama pemerintahan Presiden Yduhoyono belum menghasilkan solusi permanen yang memuaskan bagi dunia usaha.

Kebijakan energi pemerintah, terutama untuk pasar batu bara dan gas, juga dianggap lebih mementingkan pasar global ketimbang domestik.

PLN misalnya terpaksa menggunakan BBM padahal akan lebih murah jika bisa memakai batu bara lokal, yang sulit diperoleh karena pengusaha lebih suka menjualnya ke pasar internasional.

"Kalau harga komoditi bahan pangan stabil, kita bisa lah berharap target pertumbuhan 10% (di sektor makan/minum) tercapai"

Adhi S Lukman

Sementara menurut KADIN di Sumatera Utara saja, ada 53 jenis industri terancam tutup tahun ini karena pasokan gas yang tidak menentu.

Faktor lain yang juga diwaspadai pengusaha adalah krisis harga pangan.

Kalangan industri makanan dan minuman, mengkhawatirkan dampak pemanasan global akan kembali mempengaruhi harga bahan pangan seperti terjadi pada 2010 dan menyebabkan harga naik tinggi.

"Kalau harga komoditi bahan pangan stabil, kita bisa lah berharap target pertumbuhan 10% (di sektor makan/minum) tercapai,"kata Adhi S Lukman, Ketua Gabungan Pengusaha Makanan Minuman Indonesia, GAPPMI.

Krisis pangan dua tahun lalu, menurut Adhi, telah terbukti memukul keuntungan industri ini dan mengurangi kemampuannya untuk ekspansi.

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.