Krisis rumit dan berdarah di Suriah

Terbaru  20 Februari 2012 - 19:10 WIB
Protes Suriah

Perlawanan menentang rezim Suriah menyebar dari Homs ke daerah-daerah lain.

Setelah Suriah terjerumus ke dalam krisis berdarah, tampaknya sekarang hanya ada sedikit kepastian atau kemungkinan.

Masalah ini merupakan wilayah yang penuh ketidakpastian bagi semua pihak, baik itu bagi penduduk Suriah, negara-negara Arab, negara-negara tetangga non-Arab yaitu Turki dan Israel, dan dunia internasional.

Berbagai hal besar dipertaruhkan dalam perjuangan yang semakin mendalam.

Keruntuhan rezim dan kekacauan yang terjadi di sebuah negara yang sarat akan pertentangan sektarian dan etnik tentu akan berdampak besar bagi kawasan.

Hal tersebut akan menciptakan peta geopolitik baru. Iran hampir dipastikan akan kehilangan saluran penting untuk menyalurkan dukungan ke sekutunya di Lebanon, Hisbullah. Rusia kemungkinan juga akan kehilangan mitra paling penting di dunia Arab.

Dan kemungkinan munculnya pemerintah Suriah yang dikuasai Sunni -mungkin dengan didominasi politik beraliran Islam seperti yang tampak terjadi di Mesir dan sejumlah negara lain- mungkin tidak bisa diterima oleh Barat dan Israel.

Tekad menumpas

Satu hal yang mungkin bisa diprediksi adalah upaya rezim berkuasa untuk menumpas pemberontak bersenjata akan terus dilakukan sampai pihak berwenang berhasil menguasai daerah-daerah yang lepas dari genggaman selama beberapa bulan terakhir.

Rezim Suriah secara resmi telah menyatakan tekad untuk mewujudkan tujuan itu, setidaknya di Homs. Tekad tersebut dikeluarkan oleh Kementerian Dalam Negeri.

Kunjungan Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, ke Damaskus baru-baru ini jelas tidak menghentikan penumpasan terhadap pemberontak. Sebaliknya, penumpasan menyebar jauh di luar Homs dan daerah-daerah sekitarnya.

Penumpasan dilancarkan beberapa hari setelah para menteri luar negeri Liga Arab bertemu di Kairo pada 22 Januari 2012 dan menyetujui rencana perdamaian baru bagi Suriah.

Prakarsa ini meliputi seruan agar Presiden Suriah, Bashar al-Assad, menyerahkan kekuasaan kepada wakil presiden dan selanjutnya membentuk pemerintah nasional bersatu yang juga memasukkan kubu oposisi.

'Segala cara'

Poster Presiden Assad

Sebagian warga Suriah menggelar aksi guna memberikan dukungan kepada Presiden Assad.

Rencana perdamaian baru ini secara implisit meniadakan rencana perdamaian Arab sebelumnya yang disetujui pada 2 November 2011. Suriah menerima prakarsa ini yang sampai sekarang masih didukung Suriah sendiri dan Rusia.

Bulan November usulan perdamaian yang diajukan menyerukan diakhirinya kekerasan dari manapun sumbernya, penarikan pasukan militer, pengiriman peninjau Liga Arab, pembebasan tahanan, dan langkah cepat menuju dialog nasional.

Persetujuan rencana baru yang berbeda sekali dengan prakarsa sebelumnya dan langkah untuk mengusung masalah Suriah ke Dewan Keamanan PBB tampaknya membuat yakin Presiden Bashar al-Assad bahwa lawan-lawan tangguh Suriah di dunia Arab -negara-negara Teluk dan khususnya Qatar- dengan didukung negara-negara Barat, akan menempuh segala cara guna menggulingkan rezim Assad.

Pemerintah Suriah sudah menuduh negara-negara Arab memberikan senjata dan dana kepada kelompok-kelompok pemberontak lewat perbatasan dengan Turki, Libanon, Yordania dan Irak.

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.