Bidan Rosalinda, pemadam budaya panggang api

rosalinda delin
Image caption Rosalinda Delin menghapus budaya panggang api di Desa Jenilu, Kabupaten Belu, NTT.

Lebih dari 30 tahun silam, ketika masih kanak-kanak, Rosalinda Delin jatuh cinta kepada sosok bidan.

Di tempat tinggalnya yang sepi di pelosok Kota Belu, Propinsi Nusa Tenggara Timur, persisnya di Desa Jenilu, Rosa kecil selalu memperhatikan perangai salah-seorang saudaranya yang berprofesi sebagai bidan.

"Cara (bidan itu) merawat pasien sampai sembuh, lalu menyapa pasien dengan begitu baik, tidak kasar terhadap sesama yang sedang sakit, itu membuat saya ingin menjadi bidan," kata Rosalinda Delin kepada wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan, Rabu (04/01), melalui telepon.

Kehadiran sosok ibu bidan yang berpakaian serba putih, dan selalu terlihat berperangai baik, rupanya begitu membekas pada Rosa kecil.

Bayangan ideal ibu bidan seperti itulah, yang pertama kali dia saksikan pada saat usianya menginjak sekitar 10 tahun, kelak menjadi dorongan yang begitu kuat ketika dia akhirnya memutuskan mengikuti pendidikan bidan.

"Bidan memang cita-cita saja semenjak kecil," aku Rosalinda, ibu tiga anak, kelahiran 1972 ini.

”Karena saya ingin melayani sesama...” tandas Ros – panggilan akrabnya.

Dari ujung telepon, suaranya bergetar ketika menekankan kalimat itu.

Kini, di tengah-tengah angka kematian ibu dan anak yang masih tinggi di Indonesia, Rosalinda (yang telah menjadi bidan sejak 1995), tetap merasa diterangi oleh sinar bayang-bayang sosok ibu bidan yang “berperangai baik” tersebut.

Tentu saja, demi mengemban “melayani sesama” tersebut, bidan Rosalinda harus berjibaku sedemikan rupa, mengingat misinya itu ternyata tidak cukup semata bermodalkan pakaian serba putih atau perangai baik – seperti sosok ibu bidan yang menghiasi mimpi-mimpinya di kala masih bocah.

Dia, misalnya, harus menghadapi kenyataan budaya masyarakat di tempatnya tinggal, yang ketika itu masih mempraktekkan “budaya panggang api”...

Panggang api pasca melahirkan

Ketika disibukkan kegiatan sehari-harinya melayani calon ibu melahirkan di sebuah ruangan di puskesmas Desa Jenilu, dering telepon menyapa telinga Ros.

Saat itu barangkali terik matahari siang bolong begitu menyengat. Hawanya terasa sampai di ruangannya.

Tetapi pikirannya, toh, terfokus pada dering itu. Di layar telepon selulernya, jelas terbaca kode wilayah sang penelepon: Jakarta.

Selang beberapa menit, setelah percakapan melalui telepon itu usai, perasaannya menjadi campur aduk: antara senang dan galau.

Hak atas foto sari husada
Image caption Ritual panggang api terhadap ibu dan bayinya sudah turun-temurun.

Kepada saya, Ros tak bisa menutupi kebahagiaan.

Rupanya, perempuan kelahiran 13 April 1972 ini baru saja memperoleh kabar: dia terpilih sebagai salah-seorang bidan – dari sembilan bidan di seluruh Indonesia – yang mampu menginspirasi melalui program-programnya.

Untuk itulah, Rosa harus terbang ke Jakarta untuk meraih anugerah Srikandi Award 2011, Desember 2011 lalu. Acara ini diselenggarakan Ikatan Bidan Indonesia (IBI) dan Sari Husada.

“Saya merasa senang, karena dengar berita ini langsung dari pusat (Jakarta),” ungkapnya. Suaranya kembali terdengar renyah.

Dan, seraya menahan tawa, Rosa mengaku senang tak kepalang, karena “pesawat pulang-pergi ditanggung (panitia) Srikandi Award 2011...”

Bersama dua bidan asal Jambi dan Sulawesi Barat, Ros memenangkan untuk kategori tantangan budaya.

Sementara tujuh bidan lainnya meraih penghargaan untuk kategori pemberdayaan ekonomi.

Khusus Rosalinda, dia dianggap berhasil menghapuskan budaya panggang api pasca persalinan, yang dipraktekkan masyarakat di Desa Jenilu.

Dalam praktek itu, setelah seorang ibu melahirkan, selama 20 hari ibu dan bayi diwajibkan melakukan ritual panggang api.

“(Ini tradisi) dari nenek moyang, turun temurun,” kata bungsu dari lima bersaudara ini, mulai bercerita.

Praktek seperti ini, menurutnya, dianggap dapat menghangatkan bayi dan ibunya.

Padahal, lanjutnya, sang ibu beresiko mengalami anemia dan bayi akan terganggu pernapasannya.

Memakan waktu lebih dari 10 tahun, dan berulangkali ditolak oleh warga Desa Jenilu, Rosa akhirnya mampu menghilangkan praktek purba itu.

“Saya terus-menerus ke rumahnya (warga yang menolak), beri penjelasan. Bukan sekali atau dua kali...” ungkap bidan Ros, yang baru saja lulus program D-3 kebidanan di Kota Atambua, 2010 lalu, berterus-terang.

Metode ikan bakar

Melalui acara malam penganugerahan Srikandi Award 2011 yang meriah (20/12), Rosalinda mengenakan pakaian terbaiknya -- pakaian tradisional Nusa Tenggara Timur.

Dari foto-foto yang saya lihat belakangan, terlihat Rosa bersama delapan bidan lainnya berdiri di atas panggung. Tawa mereka terlihat lepas.

Tak henti-henti disorot lampu kamera, tatapan undangan, serta akhirnya menyandang tropi penghargaan Srikandi Award 2011, menggenapkan kebahagiaan Rosalinda pada malam itu.

Saya membayangkan sosok bidan berpakaian serba putih, yang menginspirasinya di masa kanak-kanak, juga menari-nari bahagia.

Hak atas foto sari husada
Image caption Rosa mencontohkan dengan membakar ikan.

Tetapi tentu saja, prestasi yang diraih Rosalinda ini, tidak datang tiba-tiba.

Sebelumnya, atas kegigihannya memerangi budaya “panggang api”, Rosa dipromosikan menjadi bidan kecamatan pada 2006.

Empat tahun kemudian, dia menyabet penghargaan bidan teladan tingkat Propinsi NTT.

Namun, sebetulnya, bagaimana cara bidan Rosalinda sehingga mampu meyakinkan warga desa – yang mayoritas lulusan SD – untuk menghentikan praktek panggang api?

Dengan cerdiknya, Rosalinda membakar ikan (yang dibelinya di pasar), di hadapan warga yang 'keras kepala'.

Ini dilakukannya karena warga setempat butuh contoh yang nyata.

“Kita beri penjelasan, apabila manusia dipanggang seperti ikan, maka (cairannya) airnya menetes sedikit-sedikit, hilang, dan kering,” katanya, mengulang percakapannya dengan para warga.

Biasanya, para suami juga diminta hadir saat sosialisasi ini. “Karena yang melakukan (tradisi panggang api) itu bapak mertua, maka suami harus hadir dan diberi penjelasan.”

Dan, hasilnya? “Mereka mulai mengerti,” tandas istri Narsinarus ini.

Lebih lanjut dia berkata kepada warga: “Kalau mau menghangatkan, badan bisa diselimuti, atau diberi minyak telon...”

Kematian ibu dan Tuhan

Bagaimanapun, angka kematian ibu dan angka kematian bayi di Indonesia, masih tertinggi di Asia.

Beberapa laporan mengungkapkan, penyebab tingginya tingkat kematian ibu di Indonesia, antara lain, akibat budaya patriarki yang masih kental.

Hal ini kemudian saya tanyakan kepada bidan Rosa, dan apa jawabnya?

Hak atas foto sari husada
Image caption Rosalinda dan delapan bidan lainnya meraih Srikandi Award 2011.

“Kematian itu di tangan Tuhan,” tegasnya, tanpa tedeng aling-aling.

“Jadi, kami sebagai orang kesehatan, telah memberi upaya untuk menyelamatkan ibu dan bayi, tetapi jalan satu-satunya yang terakhir dikuasai Tuhan,” jelasnya.

“Dialah yang menentukan.”

Kepada BBC Indonesia, bidan Rosalinda mengaku agama yang dianutnya sangat berperan menuntunnya dalam menjalani profesi bidan.

Secara gamblang, dia menyebut profesinya itu sebagai “berbakti, dan membantu yang lemah.”

Karena itulah, dia mengaku apa yang dilakukan selama ini tidak mengenal waktu. “Tanpa melihat masyarakat itu kaya atau miskin,” katanya.

“Kemudian, dia harus rendah hati,” sambungnya, bersemangat.

Pengalaman membekas

Sebagai bidan di daerah pelosok, yang sudah malang-melintang makan garam, Rosalinda terlihat trampil ketika menjelaskan jejak-jejak langkahnya, di sebuah wilayah yang terbilang masih terpelosok.

Dia mengawali cerita, tentang pengalamannya pertama kali melakukan pertolongan persalinan.

“Saya masih ingat, tanggal 1 Oktober 1995, saya turun pertama kali (melakukan pertolongan persalinan) pada malam hari,” ungkap Ros.

Sempat bingung, ragu, Rosalinda pada malam itu, harus melakukannya seorang diri.

“Tetapi dengan adanya kepercayaan terhadap Yang Kuasa, semuanya bisa saya lakukan, sehingga ibu dan anaknya bisa selamat,” paparnya seraya menambahkan, ibu itu akhirnya melahirkan bayi kembar tiga.

Hak atas foto sari husada
Image caption Bidan Rosa merangkul dan bermitra dengan dukun bayi.

Pengalaman lain yang menurutnya membekas, adalah ketika Rosalinda harus berinteraksi dengan dukun bayi.

Di pelosok Desa Jenilu, kehadiran dukun bayi memang amatlah jelas.

Tetapi bidan Rosalinda, tidak menolaknya.

“Kami lakukan kemitraan dengan dukun,” ungkapnya, tegas.

Caranya adalah melakukan koordinasi dengan para dukun, serta para ibu hamil.

“Jadi,” katanya dengan kalimat yang lugas,”setiap ibu hami yang datang ke dukun, maka dukun itu akan memberitahu kami...”

Demikian pula, saat masa persalinan. “Dukun itu harus memberitahu keluarganya untuk memanggil bidan.”

Pola kerjasama ini sudah dilangsungkan sejak 2000 lalu.

Menikmati hidup

Di akhir wawancara, saya menanyakan apa harapan yang ingin dia sampaikan kepada pemerintah.

Rosalinda sempat diam beberapa detik, sebelum akhirnya tertawa kecil dan menjawab pelan.

“Mau diperhatikan sesuai golongan (kepangkatan)... Kalau golongan kecil, gajinya seperti itu. Saya sudah kerja 15 tahun sekarang baru 2 B...”

Suaranya sempat menghilang. Hanya terdengar tertawa pelan dari ujung telepon.

Sebelum saya bertanya lagi, Rosalinda justru bersuara lagi – kali ini dengan nada tegas

“Apa yang telah ada dinikmati saja, pak...”

Ketika akhirnya wawancara berakhir, dan telepon saya letakkan lagi, saya dengan syahduh teringat kembali ucapan Rosalinda Delin, bidan inspiratif dari Desa Jenilu, NTT, tentang ketertarikan awalnya menjadi bidan: “...Saya ingin melayani sesama...”

Berita terkait