Pertanyaan yang masih menggantung di Burma

Terbaru  26 Maret 2012 - 22:38 WIB
Tentara Burma

Pemerintah sipil hasil pemilihan umum 2010 mendapat dukungan penuh dari militer.

Hingga sekitar dua tahun lalu, masih sulit rasanya membayangkan tokoh demokrasi Burma, Aung San Suu Kyi -yang hidup dalam tahanan rumah selama 20 tahun lebih- ikut dalam pemilihan umum.

Soalnya, penguasa militer Burma di bawah Jenderal Soe Win -yang dilaporkan menderita leukemia dan digantikan Thein Sein pada 2007- sudah berulang kali berjanji untuk menempuh langkah reformasi.

Kenyataannya para pembangkang politik tetap ditangkapi dan status tahanan rumah peraih Nobel Perdamaian, Aung San Suu Kyi, terus diperpanjang.

Bahkan ketika pemerintah Burma mengumumkan pelaksanaan pemilihan umum pada awal November 2010, masih banyak pihak yang meragukan kejujuran dari pemilu tersebut.

Bagaimanapun pemerintah Burma -yang bermarkas di ibukota pemerintah Naypidaw- berhasil juga meyakinkan negara-negara Barat, khususnya Amerika Serikat, yang memimpin pemberian sanksi atas Burma.

Suu Kyi bebas

Aung San Suu Kyi dibebaskan dari status tahanan rumah menjelang pemilihan umum dan partainya, Liga Nasional untuk Demokrasi, NLD, diperkenankan ikut pemilu walau memutuskan untuk memboikot pemilihan.

Pemilihan umum dimenangkan oleh Partai Persatuan Pembangunan dan Solidaritas, USDP -yang didukung rezim militer- dengan perolehan suara mencapai 76% lebih.

Penyelenggaraan pemilu dikritik oleh komunitas internasional karena dianggap tidak jujur maupun tidak adil dan memang tidak diamati oleh pemantau independen.

Reformasi Burma

  • 7 November 2010: Pemilihan umum pertama dalam waktu 20 tahun.
  • 13 November: Aung San Suu Kyi dibebaskan dari tahanan rumah.
  • 30 Maret 2011: Peralihan kekuasaan kepada pemerintah baru.
  • 19 Agustus: Aung San Suu Kyi bertemu Presiden Thein Sein
  • 12 Oktober: Lebih dari 200 tahanan politik dibebaskan
  • 13 Oktober: Undang-undang Perburuhan membolehkan pendirian serikat buruh
  • 23 Desember: NLD mendaftar sebagai partai politik
  • 13 Januari 2012: Sejumlah tahanan politik penting dibebaskan
  • 1 April 2012: Aung San Suu Kyi ikut pemilu

Bagaimanapun pemerintah bentukan pemilu sepertinya meneruskan langkah reformasi, antara lain dengan membebaskan sejumlah tahanan politik.

Langkah ini disambut oleh negara-negara Barat walau sejumlah pegiat hak asasi manusia menegaskan masih banyak tahanan politik yang belum dibebaskan di Burma.

Dan akhir November 2011, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Hillary Clinton, tiba di Burma, yang merupakan pejabat tinggi AS pertama ke negara itu dalam waktu 50 tahun belakangan.

Dalam kunjungannya, Clinton juga mendapat kesempatan untuk bertemu dengan Aung San Suu Kyi. Selepas kunjungan itu, pemerintah Washington mengumumkan akan menempatkan duta besar di Burma.

Namun Amerika Serikat menegaskan bahwa sanksi atas Burma masih belum akan dicabut karena masih menunggu perkembangan lebih lanjut.

Awal Januari 2012 giliran Menteri Luar Negeri Inggris, William Hague, yang berkunjung ke Burma untuk menyambut baik upaya yang sudah ditempuh dan sekaligus mendorong reformasi lebih lanjut.

Pemantau asing

Berbagai perkembangan itu yang mungkin mendorong Aung San Suu Kyi untuk ikut dalam pemilihan sela pada tanggal 1 April, untuk memperebutkan 48 kursi.

Walau NLD mengaku menghadapi sejumlah hambatan saat kampanye, banyak pihak yang berharap pemungutan suara dan perhitungan suara akan berlangsung secara jujur dan adil.

Apalagi untuk pertama kalinya pemerintah Burma mengundang pemantau asing, baik dari ASEAN, Amerika Serikat dan Uni Eropa.

Jelas tidak ada jaminan bahwa pemilihan sela berlangsung berdasarkan standard pemilu di negara-negara demokratis, namun bagi sejumlah pihak tampaknya pemilihan sela ini menjadi salah satu batu ujian penting dalam menakar reformasi Burma.

Orang sepertinya masih belum melupakan pemilihan umum Burma pada Mei 1990. Ketika itu NLD menang dengan meraih suara sekitar 58% atau jauh di atas partai-partai lainnya.

Dan ketika itu pulalah militer memutuskan untuk membatalkan hasil pemilihan umum dan mencengkram kekuasaan mutlak selama 20 tahun.

Tak ada yang bisa memastikan bahwa sejarah tidak akan terulang dan banyak mata mengamati pemilihan sela Burma sambil menanti jawabannya.

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.