Antara tahta kerajaan dan Skotlandia merdeka

Tricia Marwick Hak atas foto BBC World Service
Image caption Ketua Parlemen Skotlandia Tricia Marwick menanam pohon oak untuk merayakan 60 tahun Tahta Ratu Elizabetth II.

SNP yang menguasai mayoritas parlemen Skotlandia meluncurkan kampanye mendukung kemerdekaan, dua minggu sebelum peringatan 60 tahun tahta Ratu Inggris.

Upacara penanaman Pohon Oak (Ek) di depan Gedung Parlemen Skotlandia, Rabu 30 Mei siang itu, hanya dihadiri belasan orang.

Ketua Parlemen Skotlandia, Tricia Marwick, menyekop beberapa gumpal tanah yang sudah disiapkan di bagian akar pohon, disaksikan beberapa anggota parlemen dan wartawan yang bertugas di parlemen Skotlandia.

Penanaman pohon ini dilakukan untuk meramaikan perayaan 60 tahun tahta Ratu Elizabeth II atau yang disebut Diamond Jubilee, yang sudah berlangsung sejak beberapa waktu lalu dan akan berpuncak pada Selasa 5 Juni.

Dalam pernyataannya, Tricia Marwick mengatakan penamanan Pohon Ek merupakan penghormatan atas hubungan erat masyarakat Skotlandia dengan Ratu Elizabeth II.

“Rasa sayang Ratu kepada Skotlandia sudah dikenal dan dia sudah berkunjung ke parlemen dalam banyak kesempatan. Saya amat gembira Parlemen Skotlandia mengenang peristiwa ini," tuturnya.

Enam hari sebelumnya, Partai Nasional Skotlandia, SNP -yang menguasai mayoritas parlemen Skotlandia- meluncurkan kampanye 'Yes' untuk menggalang dukungan atas pilihan kemerdekaan dalam referendum, yang rencananya akan digelar pada tahun 2014.

Dua peristiwa ini sepertinya bertentangan: mendukung peringatan Diamond Jubilee yang dianggap sebagai lambang persatuan Inggris Raya dan memulai kampanye untuk memisahkan diri.

SNP menguasai mayoritas

Hak atas foto BBC World Service
Image caption Clare Adamson adalah anggota Komite Pendidikan dan Kebudayaan Parlemen Skotlandia.

Nasionalisme Skotlandia jelas bukan hal yang baru di Skotlandia, yang bergabung dengan Inggris Raya pada Mei 1707 berdasarkan Traktat Persatuan yang diterima kedua belah pihak setahun sebelumnya.

Namun belakangan nasionalisme itu tampaknya semakin mengemuka dengan dipimpin oleh SNP, yang berhasil meraih devolusi atau peralihan kekuasaan dari pemerintah pusat London pada tahun 1999. Parlemen Skotlandia mendapat wewenang untuk sejumlah bidang, selain antara lain pertahanan dan kebijakan luar negeri.

Keberhasilan SNP meraih mayoritas lewat pemilihan umum 2011, dengan perolehan 69 dari total 129 kursi membuat keyakinan untuk melangkah lebih maju lagi. Referendum tentang kemerdekaan akan digelar pada tahun 2012.

"Referendum itu sendiri itu sebenarnya tidak biasa. Kami bisa mengusulkannya karena kemenangan mayoritas kami di Parlemen Skotlandia. Referendum ini merupakan yang pertama kali dalam sejarah Skotlandia," tutur Clare Adamson, anggota parlemen dari SNP kepada BBC Indonesia.

Adamson mengakui banyak keuntungan yang didapat dengan bergabung bersama Inggris Raya namun juga banyak kelemahannya.

"Kami yakin Skotlandia adalah sebuah bangsa, dengan identitas sendiri. Dengan sistem pemilihan di Inggris Raya, amat sedikit dukungan atas Partai Konservatif. Namun apa yang terjadi, sekarang Inggris diperintah oleh koalisi Liberal Demokrat dan Konservatif."

Dengan demikian amat sulit untuk membawa suara warga Skotlandia ke dalam kebijakan nasional Inggris.

"Perang Irak adalah contoh. Kami menolak tegas kalau perang dilakukan tanpa dukungan PBB. Tetapi toh terjadi. Ini beda mencolok antara SNP dengan mereka," tambahnya.

Tetap di Persemakmuran

Salah satu yang masih menjadi pertanyaan adalah kemandirian ekonomi Sktolandia sebagai sebuah entitas yang berdiri sendiri.

Hak atas foto BBC World Service
Image caption SNP menguasai mayoritas parlemen Skotlandia.

"Jelas ada pendapatan dari minyak. Skotlandia memiliki bagian besar dalam kandungan di Laut Utara. Dan diperkirkan masih akan menghasilkan sampai 40 tahun," jelas Adamson.

Selain itu masih ada lagi produk Skotlandia yang sudah terkenal di seluruh dunia, seperti whisky maupun ikan salmon.

"Kami juga mengembangkan sektor riset ilmu pengetahuan di unibersitas-universitas. Edinburgh menjadi salah satu pusat unggulan ilmu pengetahuan."

Adamson menambahkan bahwa masih ada waktu untuk mempersiapkan kemandirian ekonomi, termasuk juga menggalang dukungan politik.

Dalam hubungan dengan Kerajaan Inggris, Ketua SNP -yang menjabat Menteri Pertama Skotlandia- Alex Salmond, berulang kali menegaskan Skotlandia yang merdeka akan tetap bergabung dalam Persemakmuran dengan Ratu Elizabeth II sebagai kepala negara.

Bagaimanapun, menurut Clare Adamson, pada akhirnya yang kelak menentukan semuanya adalah warga Skotlandia sendiri.

"Jika kami Skotlandia sudah mencapai kemerdekaan, maka kami rakyat Skotlandia akan menentukan pilihan sendiri. Banyak negara yang mengubah hubunganng mereka dengan kerajaan. Yang paling penting adalah kedaulatan rakyat Skotlandia untuk menentukan masa depan."

Pandangan kaum muda

Di Taman Prince Street, yang terletak di bawah Kastil Edinburgh, David Mill yang berusia 19 tahun sedang duduk santai selepas selesai kuliah musik.

Menurutnya kampanye 'Yes' agak berlebihan karena dia tidak melihat keuntungan dari Skotlandia yang merdeka.

"Inggris Raya adalah negara yang berpengaruh dan saya kira Skotlandia tidak akan bisa menjadi berpngaruh seperti itu kalau jalan sendiri."

"Terus terang, saya kira tidak perlu untuk memisahkan diri dari Inggris Raya."

Sementara itu Tom Muir, seorang mahasiwa lain berusia 22 tahun, yang ditemui di luar National Gallery juga tidak mendukung kemerdekaan Skotlandia.

"Saya lebih suka Skotlandia tetap menjadi bagian Inggrsi Raya dan membingungkan saya kenapa itu menjadi masalah. Itu bukan masalah yang penting."

Tom mengaku bahwa dia bukan seorang nasionalis tapi lebih menempatkan diri sebagai internasionalis yang tidak suka pada politik nasional Skotlandia.

"Politik internsional lebih menarik bagi kaum muda. Apa yang terjadi di Suriah, apa yang terjadi Mesir. Itu lebih penting bagi orang-orang yang saya tahu, bukan Skotlandia."

Seorang pemuda lain yang tidak bersedia disebutkan namanya tidak punya pendapat karena masih penuh keraguan.

"Saya tidak tahu apakah akan menjadi lebih baik atau tidak, saya tidak tahu. Anda ingin melihat kemerdekaan, tapi pada akhirya Anda tidak tahu apakah akan mendapat keuntungan," tutur pemuda yang bekerja di restoran itu.

Kalau Skotlandia ingin merdeka jelas ketiga pemuda itu perlu menjadi sasaran dari kampanye Yes. Walau jelas tidak ada jaminan pandangan mereka akan berubah, setidaknya masih ada wakti untuk melakukannya.

Toh tanggal referendum kemerdekaan Skotlandia masih menjadi perdebatan antara pusat London dan pemerintah lokal Skotlandia. Juga masih ada masalah tehnis dalam susunan pertanyaan yang harus diselesaikan.

Bagaimanapun, seperti kata Clare Adamson, untuk pertama kalinya rakyat Skotlandia diajak untuk memikirkan kemerdekaan. Terlepas dari hasilnya nanti, jelas itu merupakan tonggak penting dalam sejarah bangsa Skotlandia.

Berita terkait