Siapa yang akan berjaya di pesta akbar sepak bola Eropa 2012

Terbaru  7 Juni 2012 - 18:23 WIB
euro 2012

Spanyol dan Jerman diperkirakan akan tampil menjanjikan di Piala Eropa 2012.

Perhelatan sepak bola paling akbar di Eropa kembali digelar. Enam belas negara bersaing untuk menyabet predikat tim terbaik.

Dari ke-16 tim yang terjun di Polandia dan Ukraina, setidaknya ada empat negara yang dinilai memiliki peluang terbesar menjadi juara.

Keempatnya adalah Jerman, Spanyol, Belanda, dan Prancis.

Rahmad Darmawan, mantan pemain timnas Indonesia, mengatakan tim muda Jerman yang tampil begitu prima di Piala Dunia 2010 akan makin matang dan mungkin akan menjadi juara di Piala Eropa kali ini.

"Timnas Jerman sangat solid sejak diasuk oleh Jurgen Klinsmann dan itu diteruskan oleh pelatih saat ini Joachim Low," kata Rahmad.

Soliditas Jerman terlihat dari hasil kualifikasi yang mengantarkan mereka masuk ke putaran final Piala Eropa 2012.

"Penampilan mereka di babak penyisihan sangat menjanjikan," kata Rahmad, mantan pelatih timnas Indonesia di bawah usia 23 tahun tersebut.

Di luar faktor kualitas pemain, Rahmad mengangkat faktor intensitas persaingan liga domestik tahun ini.

"Faktor kelelahan fisik dan mental bisa mempengaruhi penampilan tim di Piala Eropa kali ini," katanya.

Piala Eropa v Liga Champions

Piala Eropa v Liga Champions

Piala Eropa

  • Pertama digelar pada 1960
  • Sembilan negara pernah menjadi juara
  • Total hadiah £18,8 juta (Rp275 M)
  • Pemirsa TV global untuk final 2008 capai 287 juta
  • Rata-rata penonton di stadion 36.803 orang
  • Rata-rata gol per satu pertandingan 2,48

Liga Champions

  • Pertama digelar 1956
  • Jumlah klub yang pernah juara 22
  • Total hadiah £19,1 juta (Rp279,5 M)
  • Pemirsa TV global untuk final 2012 capai 300 juta
  • Rata-rata penonton di stadion musim 11/12 42.553
  • Rata-rata gol per satu pertandingan 2,76

Jika Rahmad Darmawan menjagokan tim panser Jerman, Danurwindo, mantan pemain timnas Indonesia dan manajer berpengalaman, mengatakan Spanyol layak untuk kembali menjadi juara.

Modal pemain, yang sebagian besar berasal dari Barcelona dan Real Madrid, menjadi jaminan penampilan prima Spanyol.

"Meski kedua klub gagal menjadi juara Liga Champions tahun ini, statistik kedua tim menunjukkan sangat bagus. Memang sangat sulit satu negara bisa juara dua kali berturut-turut. Tapi menurut saya Spanyol masih yang terbaik," kata Danurwindo.

Turnamen Piala Eropa adalah salah satu penampilan terbaik di dunia. Dan hanya sembilan negara yang bisa juara sejak turnamen ini pertama kali digelar pada 1960.

Memang pelatih Real Madrid Jose Mourinho pernah memandang dengan sebelah mata turnamen ini.

Di mata pelatih asal Portugal tersebut Liga Champions adalah perhelatan paling akbar dan tidak ada yang mengalahkan gengsi turnamen ini.

Pandangan serupa disuarakan pemain Chelsea, John Obi Mikel, yang mengatakan, "Ini adalah malam terbaik dalam karier saya."

Komentar itu ia sampaikan setelah Chelsea mengalahkan Bayern Munchen di babak final Liga Champions tahun ini.

Namun di mata Ruud Gullit, Piala Eropa jauh lebih bermakna dibandingkan Liga Champions.

"Saya pernah mengalami bagaimana rasanya menjadi juara Liga Champions dan Piala Eropa," kata Gullit dalam wawancara dengan harian London Evening Standard, hari Rabu (6/6).

"Namun mengangkat trofi Piala Eropa memiliki sensasi yang jauh lebih besar," katanya.

Bayang-bayang rasisme

rasisme di polandia

Pendukung memberi hormat ala NAZI dalam laga bola di Polandia.

Gullit mengantarkan Belanda menjuarai Piala Eropa 1988. Dua tahun berikutnya ia membantu AC Milan menjuarai Liga Champions.

"Prestasi tahun 1988 adalah kenangan paling manis dalam hidup saya. Memenangkan piala untuk negara adalah yang terbaik. Anda akan menjadi pahlawan selamanya," kata Gullit.

Selain penampilan tim-tim di lapangan, yang juga menjadi perhatian tahun ini adalah masalah rasisme.

Muncul kekhawatiran masalah ini akan menodai penyelenggaraan karena investigasi BBC menunjukkan ada elemen-elemen masyarakat di Polandia dan Ukraina yang menunjukkan anti-Yahudi dan memandang rendah orang-orang kulit berwarna.

Begitu seriusnya persoalan ini, mantan anggota timnas Inggris Sol Campbell meminta pendukung sepak bola tidak beramai-ramai ke Polandia atau Ukraina.

Menanggapi masalah ini Presiden badan sepak bola Eropa (UEFA) Michel Platini mengatakan pihaknya prihatin dengan masalah tersebut.

"Tidak mudah bicara soal sosial kemasyarakatan. Ini semua menjadi tantangan bagi Ukraina, Polandia, dan juga UEFA. Kami akan berbuat yang terbaik untuk mengatasinya," kata Platini dalam wawancara dengan BBC.

Dalam tataran praktis, UEFA sudah memberi kekuasaan kepada wasit untuk menghentikan pertandingan bila muncul insiden rasisme.

Tentu UEFA dan para pecinta sepak bola tidak ingin melihat ada insiden-insiden semacam ini.

Bukankah ini salah satu pesta sepak bola terbesar yang semestinya bisa dinikmati semua pecinta sepak bola tidak hanya di Eropa tetapi juga dunia?

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.