Totalitas Anis Hidayah dan nasib buruh migran Indonesia

Terbaru  12 Juni 2012 - 14:28 WIB

Komitmen Anis Hidayah atas buruh migran tidak semata penyelesaian kasus per kasus.

Komitmen dan kepeduliannya terhadap nasib buruh migran Indonesia di luar negeri, tidak diragukan lagi.

Lebih dari sepuluh tahun, dia telah malang-melintang di berbagai aktivitas dan isu perlindungan buruh migran.

Tetapi Anis Hidayah, pimpinan LSM Migrant Care, menyatakan, aktivitas yang digelutinya itu tidak berhenti pada sebatas penyelesaian kasus per kasus.

“Tetapi jauh di luar itu, apa yang kita lakukan adalah menyiapkan teman-teman buruh migran, serta keluarganya, untuk memiliki kesadaran kolektif tentang hak-hak mereka melalui pendidikan,” kata Anis Hidayah, dalam wawancara khusus dengan wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan, akhir Mei 2012 lalu.

Hal ini ditekankan Anis menjawab keraguan sebagian kalangan masyarakat yang menganggap LSM saat ini lebih disibukkan mengkritik kebijakan pemerintah, ketimbang kerja kongkrit dalam mendampingi subyek yang dibelanya.

Peraih penghargaan Alison Des Forges 2011 dari LSM Human Right Watch yang berbasis di New York, AS, ini kemudian memberikan contoh langkah kongkrit yang dilakukannya bersama teman-temannya, seperti pendidikan HAM atau persoalan hukum kepada buruh migran dan keluarganya di kampung-kampung.

"Tetapi jauh di luar itu, apa yang kita lakukan adalah menyiapkan teman-teman buruh migran, serta keluarganya, untuk memiliki kesadaran kolektif tentang hak-hak mereka melalui pendidikan."

Pimpinan LSM Migrant Care, Anis Hidayah.

“Sehingga kita berharap ada paralegal-paralegal di tingkat kampung yang concern pada isu buruh migran, di mana mereka adalah mantan-mantan buruh migran, yang bisa diberdayakan,” jelas Anis.

Dan, “ini sudah kita lakukan bertahun-tahun di berbagai daerah,” tandas perempuan kelahiran 7 November 1976 di Bojonegoro, Jatim, ini.

Menurut alumni Fakultas Hukum Universitas Jember ini, upaya pendampingan secara langsung seperti ini sangat penting agar kelak merekalah yang harus menuntaskan persoalan mereka sendiri.

“Yaitu, untuk memperjuangkan pelanggaran -pelanggaran hak yang selalu mereka hadapi, yang selama ini tidak pernah menjadi perhatian pemerintah,” katanya.

Untuk itulah, Anis dan teman-temannya di Migrant Care sekarang tengah menyiapkan Desa peduli TKI di tujuh propinsi yang warganya banyak menjadi buruh migran.

"Nah, desa ini kita nanti perkuat dan kita dorong sebagai desa yang memiliki instrumen hukum, ada peraturan desa, kemudian mereka memiliki sistem data base, pusat informasi, pusat layanan, serta pusat pendidikan," ungkapnya.

"Sehingga kita bisa melihat betul bahwa mereka berangkat ke luar negeri dengan keringat, dengan darah, dengan air mata, itu juga berdampak pada kesejahteraan mereka di desa".

"Ini cita-cita yang mudah-mudahan dalam lima tahun ke depan, kita bisa melihat hasilnya nanti," kata Anis Hidayah, dengan bersemangat.

Kampung buruh migran

Keberpihakan Anis Hidayah terhadap keberadaan buruh migran, ternyata, tidak terlepas dari pengalaman masa kecilnya.

“Saya lahir di kampung yang sangat miskin, jauh dari peradaban, di Bojonegoro, Jatim, di mana kampung itu adalah kampung buruh migran,” ungkap ibu dua anak ini, memulai kisahnya.

Menurutnya, sebagian besar tetangganya hidup dalam serba keterbatasan serta jauh dari perhatian pemerintah.

Masa kecilnya yang bersentuhan langsung dengan keluarga buruh migran, ikut membentuk karakter keberpihakan Anis Hidayah pada isu buruh migran di kemudian hari.

“Mereka turun-temurun bermigrasi terutama ke Malaysia, tetapi itu belum berdampak sama-sekali pada kualitas kehidupan mereka,” kata Anis.

Rupanya, kisah menyedihkan para tetangganya yang 'merantau' ke luar negeri, begitu membekas -- yang kelak berdampak pada pilihannya untuk terjun pada persoalan serta isu buruh migran.

Apalagi, menurutnya, situasi seperti itu terus berulang sampai sekarang. “Apa yang saya saksikan saat saya masih kecil, sampai sekarang belum ada perbedaan signifikan hasil kerja keras mereka ke luar negeri.”

Dalam rentang sekian tahun kemudian, ketika Anis melanjutkan studi di Fakultas Hukum Universitas Jember, pengalaman masa kecilnya itu muncul kembali.

"Saya lahir di kampung yang sangat miskin, jauh dari peradaban, di Bojonegoro, Jatim, di mana kampung itu adalah kampung buruh migran."

Hal ini terjadi ketika dia aktif di organisasi ekstra kampus, yaitu Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang merupakan lembaga dibawah naungan Nahdlatul Ulama (NU).

Bersama organisasi itu, Anis lantas berinteraksi dengan berbagai lembaga swadaya masyarakat di Kota Jember.

“Tetapi ada satu LSM yang membuat saya sangat tertarik yaitu LSM yang concern pada isu buruh migran,” jelasnya.

Mulai saat itulah dia secara intensif menggeluti isu buruh migran. “Apalagi di kota Jember, sebagian penduduknya menjadi buruh migran di luar negeri.”

Setiap menit, setiap jam dan berhari-hari bergelut dalam persoalan buruh migran, ditambah penyadaran diri yang terus diasah, Anis – yang saat itu masih berstatus mahasiswa – sampai pada sebuah kesimpulan bahwa “isu buruh migran tidak jauh dari kehidupan saya”.

Kasus perkosaan

Di tengah ketertarikannya yang mulai tumbuh terhadap isu dan persoalan buruh migran, Anis Hidayah mengaku dihadapkan pada sebuah kenyataan pahit yang menimpa buruh migran perempuan yang menjadi korban perkosaan di Arab Saudi.

Kepada wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan, Anis Hidayah mengaku jatuh cinta pada persoalan dan isu buruh migran.

Saat itu, hati Anis begitu terasa remuk-redam tatkala sang korban tiba di Indonesia tidak dipedulikan oleh pemerintah Indonesia.

"Tidak ada sambutan, tidak ada kepedulian dari pemerintah, (dan dia) pulang dengan masalah yang berat," kata Anis dengan kalimat yang tegas.

Celakanya, sambungnya, masyarakat juga terkesan menolak kehadirannya serta tidak ada proses hukum terhadap pelakunya.

"Tidak ada proses hukum, tidak ada rehabilitasi yang diberikan pemerintah," tandas Anis, masygul.

"Kasus ini membuat saya cukup syok!"

Berangkat dari kemarahan terhadap ketidakberdayaan sang korban, Anis lantas mendedikasikan persoalan itu sebagai kajian dalam penulisan skripsi sarjana strata satu.

"Tidak ada sambutan, tidak ada kepedulian dari pemerintah, (dan dia) pulang dengan masalah yang berat... Tidak ada proses hukum, tidak ada rehabilitasi yang diberikan pemerintah...Kasus ini membuat saya cukup syok!"

"Jadi saya melihat bagaimana persoalan buruh migran perempuan dan dampak kebijakan hukum yang memang tidak melindungi," ungkapnya.

Seiring perjalanan waktu, perempuan berperawakan kecil ini akhirnya menaruh hati pada persoalan-persoalan menyangkut buruh migran.

"Ya, saya seperti jatuh cinta pada persoalan ini, apalagi potret buruh migran itu persoalan perempuan dan permasalahan kemiskinan," tandasnya.

Sebelum melanjutkan studi sarjana strata dua di UGM ("Dan, ternyata, sampai hari ini tesis S2 saya belum selesai, karena saat itu saya dan teman-teman sibuk membentuk Migrant Care..., " katanya, setengah tergelak), Anis sempat bergabung selama satu setengah tahun di organisasi Solidaritas Perempuan Jawa Timur, yang didirikan 1999 lalu.

Kala itu, organisasi Solidaritas Perempuan merupakan satu-satunya yang menfokuskan diri pada persoalan dan isu buruh migran.

Migrant Care dan Nirmala Bonet

Disatukan oleh visi dan misi yang sama, Anis dan para aktivis HAM akhirnya mendirikan organisasi LSM Migrant Care pada 2004. Organisasi ini secara khusus menangani upaya perlindungan para buruh migran di luar negeri.

Di awal pendiriannya, Migrant Care berperan penting dalam melakukan pendampingan kasus kekerasan yang menimpa tenaga kerja migran asal Nusa Tenggara Timur, Nirmala Bonet.

LSM Migrant Care ikut berperan dalam mendampingi kasus penyiksaan tenaga kerja migran asal Indonesia, Nirmala Bonet, pada 2004 lalu.

Seperti diketahui, ketika kasus ini muncul permukaan, sempat menimbulkan kemarahan masyarakat Indonesia yang berujung pada meledaknya sentimen anti Malaysia.

"Kala itu ada kasus (buruh migran) Nirmala Bonet yang menjadi korban penyiksaan di Malaysia, di mana Migrant Care melakukan pendampingan dari awal kasus ini, hingga terungkap serta sampai vonis terhadap majikannya," Anis mengungkap sejarah awal pendirian lembaga yang kini dipimpinnya

Sejak saat itulah, Anis dan kawan-kawannya di Migrant Care terus melalukan pendampingan terhadap tenaga kerja migran yang ditimpa persoalan kekerasan.

Setiap muncul kasus kekerasan, terutama di Malaysia dan Arab Saudi, Migrant Care acap disebut sebagai pihak yang paling depan menyuarakan para korban

"Saya tidak membayangkan seandainya saya memilih di birokrasi. Dalam posisi tertentu yang teramat sangat tinggi (di birokrasi) sekalipun, saya belum tentu bisa menjanjikan (kalau) da orang yang meninggal di Arab, kemudian (kita) bisa berbuat banyak untuk itu."

Kepada Anis, saya kemudian mengajukan pertanyaan: kenapa Anda begitu yakin dengan mendirikan LSM Migrant Care akan berdampak secara positif terhadap perbaikan nasib buruh migran di luar negeri?

"Ya, sebenarnya, ini lebih ke pilihan," jawab Anis, tegas. "Bahwa bekerja pada level masyarakat sipil itu kan ada nilai-nilai tertentu, di mana kita bisa lebih menunjukkan keberpihakan, menunjukkan komitmen kita pada pilihan kita pada buruh migran".

Dari pengalaman selama ini mendampingi persoalan buruh migran, Anis sampai pada kesimpulan, bahwa keberadaan LSM sangatlah strategis.

Dia kemudian membandingkan peran organisasi yang dipimpinnya dengan sepak terjang birokrasi. "Saya tidak membayangkan seandainya saya memilih di birokrasi. Dalam posisi tertentu yang teramat sangat tinggi (di birokrasi) sekalipun, saya belum tentu bisa menjanjikan (kalau) ada orang yang meninggal di Arab, kemudian (kita) bisa berbuat banyak untuk itu", tegasnya.

"Karena, terus terang, saya termasuk orang yang apatis dengan government yang ada di Indonesia, sehingga pilihan untuk bekerja pada level masyarakat sipil itu bagi kami strategis," tandas Anis, dengan nada bersemangat.

Efek domino

Dalam wawancara khusus selama sekitar 45 menit di studio BBC Indonesia, Anis Hidayah menjawab secara panjang lebar ketika saya menanyakan apakah yang dilakukan Migrant Care selama ini sudah berdampak pada kebijakan pemerintah dan pengurangan kasus-kasus kekerasan pada buruh migran.

"Walau sedikit, ada efek dominonya," jawab Anis. "Paling tidak, pertama, pemerintah (sekarang) lebih terbuka," katanya.

Aktivitas Migrant Care, yang antara lain berupa advokasi, berefek domino terhadap kebijakan pemerintah tentang buruh migran.

Dia kemudian memberikan contoh: "Terbukti, misalnya, dalam beberapa kesempatan, Presiden SBY berbicara langsung tentang persoalan (buruh migran) ini dari apa yang kita sampakan kepada publik".

Dampak lainnya? Anis menunjuk pada lahirnya sebuah kebijakan baru terkait buruh migran.

Pada 12 April 2012 lalu, ungkapnya, Pemerintah Indonesia dalam rapat paripurna DPR menyatakan telah meratifikasi Konvensi Internasional tentang perlindungan hak-hak buruh migran dan anggota keluarganya.

"Nah, ini kan perjuangan panjang sekitar 22 tahun di mana masyarakat sipil mendorong pemerintah untuk meratifikasi. Ini 'kan bagian penting yang harus dilakukan ketika pemerintah menyatakan serius melindungi buruh migran".

"Negara ini memiliki paradigma yang sangat keliru melihat TKI... Menurut perspektif mereka, buruh migran itu komoditas, entitas ekonomi yang bisa digenjot."

Namun demikian, menurut Anis Hidayah, ada persoalan terbesar yang menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah dan pihak-pihak yang bertanggungjawab soal perlindungan tenaga kerja migran, yaitu mengubah cara berpikir (mindset) tentang tenaga kerja Indonesia di luar negeri.

"Negara ini memiliki paradigma yang sangat keliru melihat TKI... Menurut perspektif mereka, buruh migran itu komoditas, entitas ekonomi yang bisa digenjot," katanya.

"Sehingga," imbuhnya, "kebijakan penempatan TKI itu merupakan kebijakan untuk meraup keuntungan, baik keuntungan yang masuk ke negara maupun keuntungan yang masuk ke swasta".

Cara berpikir seperti ini, lanjut Anis, telah berpuluh-puluh tahun dipraktekkan, sehingga kemudian "melahirkan kebijakan-kebijakan yang meng-komoditasi buruh migran hanya pada entitas ekonomi."

"Bukan pada bagaimana sebenarnya negara menjamin hak setiap warga negara untuk mendapatkan pekerjaan yang layak ketika mereka bekerja di luar negeri," tambahnya.

Anis lantas berharap, paradigma seperti itu dapat bergeser seiring langkah pemerintah merativikasi konvensi buruh migran. "(Yaitu) harus melihat sebagai warga negara Indonesia, manusia yang harus dijamin hak-haknya selama bekerja di luar negeri".

Energi kemarahan

Menghadapi rentetan persoalan kekerasan terhadap tenaga kerja migran Indonesia, yang seperti tidak habis-habisnya, tentu membutuhkan energi yang luar biasa bagi orang seperti Anis Hidayah.

Tetapi, demikian pengakuan Anis, yang membuatnya 'kuat' justru ketika berdekatan dengan korban serta keluarga buruh migran tersebut.

"Beruntungnya kita selalu berdekatan dengan korban, selalu berdekatan keluarga buruh migran," ungkapnya, membuka rahasia.

Militansi keluarga korban dua orang TKI asal NTB yang tewas ditembak polisi Malaysia, membuat Anis Hidayah tergugah.

Saat dihadapkan sikap pemerintah melalui birokrasinya yang dapat membuat frustasi, Anis begitu bersyukur terus mendampingi korban.

"Kita selalu seperti dicharging oleh teman-teman korban, keluarganya yang selalu mengadu kepada kita tentang apa yang mereka alami," kata Anis berterus terang.

Situasi yang serba sulit yang dihadapi korban dan keluarganya, tetapi mereka masih menaruh harapan, kata Anis, itu berpengaruh besar pada dirinya.

"Sehingga (kondisi seperti ) itulah (yang) selalu me-menej dan saya kira juga memompa spirit kita (untuk) berada pada ranah juang yang sangat berat ini".

Salah-satu peristiwa yang membekas pada dirinya, adalah ketika organisasinya mendampingi keluarga korban TKI asal Nusa Tenggara Barat, yang ditembak aparat kepolisian Malaysia, beberapa saat lalu.

Sikap keluarga korban yang demikian militan, membuatnya berbesar hati. "Mereka sangat kuat, dan tidak mengenal lelah untuk memperjuangkan para TKI itu. Lalu mereka bertekad bersama kita untuk memperjuangkannya, walau pemerintah sudah lepas tangan," cerita Anis.

Anis sendiri mengaku gampang trenyuh ketika melihat jenazah buruh migran yang acap dijumpainya selama ini. "Saya termasuk sangat cengeng," akunya.

"Kita selalu seperti dicharging oleh teman-teman korban, keluarganya yang selalu mengadu kepada kita tentang apa yang mereka alami."

Tetapi kondisi seperti itu disyukurinya. Alasannya, "dengan situasi itu, saya bisa terus melihat persoalan (kekerasan atas buruh migran) ini dengan hati, dengan rasa. Karena kalau kita sudah kehilangan emosi dengan rentenan peristiwa-peristiwa buruh migran yahg sangat estrim itu, saya kira itu membahayakan kita. (Seolah-olah) itu hanya akan menjadi persoalan biasa, data statistik yang biasa terjadi di luar negeri".

Apakah Anda pernah mengalami putus harapan saat menangani kasus-kasus buruh migran? Tanya saya. "Tidak (pernah), tetapi marah. Marah itu yang sering kita alami," ungkapnya.

Dia kemudian memberikan contoh ketika menangani kasus tenaga kerja migran Indonesia bernama Ernawati. "Kita menerima informasi dia disiksa oleh majikannya, dipukul dengan besi, kita langsung laporkan langsung ke KBRI di Arab Saudi atau pemerintah, tetapi tidak ada reaksi cepat, sehingga dalan waktu sekian lama dan tak ada pertolongan, dia meninggal dunia".

"Nah, dalam situasi seperti itu, tidak hanya satu, atau dua kali, (tetapi) sampai 10 kali kita menghadapi situasi seperti itu, yang dalam banyak sekali kasus, sikap pemerintah relatif seragam, yaitu lamban. Nah, situasi seperti itu yang membuat kita marah kepada pemerintah," katanya.

"Kalau kita frustasi, bagaimana (nasib) mereka," tambahnya, dengan nada tanya.

"Jadi, Kemarahan itulah saya kira menjadi salah-satu pemompa semangat..."

Figur ayah

Walaupun masa kecilnya dihabiskan di sebuah desa terpencil di Bojonegoro, Jatim ("yang jauh dari peradaban," ungkapnya), Anis mengaku bersyukur dibesarkan oleh kedua orang tua yang mementingkan pendidikan anak-anaknya.

Kedua orang tuanya adalah guru di sebuah sekolah madrasah.

Anis Hidayah mengaku almarhum ayahnya paling mewarnai karakter hidupnya.

"Ayah saya adalah orang yang sangat visioner," katanya, seraya menambahkan sosok ayahnya merupakan figur yang paling banyak mewarnai karakter dirinya.

Anis Hidayah kemudian mencontohkan sikap hidup ayahnya yang kemudian ditularkan kepada anak-anaknya.

"Bahwa pekerjaan itu bukan orang yang punya jabatan tertentu... Pekerjaan tidak bisa dinilai berapa gajinya, tetapi seberapa bermanfaat untuk orang lain,"katanya, menirukan nasihat ayahnya.

Walaupun ayahnya telah meninggal dunia saat dia lulus sarjana S1, Anis mengaku "bayangan ayahnya muncul kembali".

"Dalam beberapa kesempatan, ketika saya berkutat dengan masalah, saat bersama korban atau saat saya ikut sidang PBB, bayangan ayah saya tidak pernah lepas dari apa yang saya lakukan."

"... Dalam beberapa kesempatan, ketika saya berkutat dengan masalah, saat bersama korban atau saat saya ikut sidang PBB, bayangan ayah saya tidak pernah lepas dari apa yang saya lakukan," ungkapnya.

Bagaimana Anis Hidayah meyakinkan keluarganya atas pilihannya untuk terjun total di dunia buruh migran?

Menurut Anis, suaminya dan keluarga besarnya sangat memahami pilihannya. "Saya menikah dengan orang yang memahami betul apa yang saya pilih," katanya, tegas.

Tetapi, lanjutnya, yang terus perlu dijaga adalah "bagaimana memperkuat mereka... karena selama ini baik secara kelembagaan atau personal, saya banyak menerima ancaman dari berbagai pihak".

Dia mengaku, aktivitasnya pada persoalan dan buruh migran, membuat suaminya dan keluarga besarnya ikut menerima imbasnya.

"Jadi, ini menurut saya, bagian penting untuk memperkuat mereka untuk tidak memberikan tenggat waktu tertentu pada pekerjaan ini, karena capek dengan intimidasi atau ancaman, selalu khawatir dengan keselamatan saya, dan sebagainya".

Menulis novel

Bergulat dengan persoalan dan isu kekerasan yang menimpa tenaga kerja migran, Anis mengaku membutuhkan aktivitas 'lain' demi menyeimbangkan hidupnya.

Aktivitas lain itu, menurut Anis, adalah menekuni hobi. "Saya punya hobi baru, yaitu naik sepeda, " katanya, seraya tertawa kencang.

"Hobi ini penting ya, untuk menyeimbangkan hidup sehat. Harus diakui mengurus buruh migran itu penat betul, sehingga hobi itu bagian yang bisa menetralisir emosi."

Kesukaan lain ibu dua anak ini adalah bercocok tanam di halaman rumah serta memelihara ikan.

"Hobi ini penting ya, untuk menyeimbangkan hidup sehat. Harus diakui mengurus buruh migran itu penat betul, sehingga hobi itu bagian yang bisa menetralisir emosi", jelasnya.

Belakangan ini dia lebih menekuni hobi bersepeda. Tetapi, imbuhnya cepat-cepat, "karena ada kasus TKI (asal NTB yang ditembak aparat polisi Malaysia) itu, saya selama 2 minggu belum bersepeda sama sekali".

Kegiatan lain yang ditekuninya di saat lowong adalah membaca ulang beberapa novel yang berlatar perjuangan perempuan.

Anis sengaja membaca novel bertema seperti itu karena sedang menulis novel yang bisa membangkitkan solidaritas tentang situasi buruh migran Indonesia.

"Yang bisa membangkitkan daya juang bersama masyarakat tentang situasi buruh migran kita," kata Anis Hidayah menjelaskan latar belakang penulisan novel tersebut, sekaligus menutup wawancara khusus yang berlangsung sore hari itu.

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.