Kisah Ruwi mengelola hutan

Terbaru  5 Oktober 2012 - 13:30 WIB

Ambrosius Ruwindrijarto, alias Ruwi, meraih penghargaan Ramon Magsaysay 2012.

Pernah disekap dan diancam akan dibunuh, aktivis lingkungan Ruwi tetap melibatkan masyarakat untuk membangun sistem tandingan dalam pengelolaan sumber daya alam.

Ketika langit kota Bogor berubah menjadi kelabu, sore itu saya tiba di Kafe Telapak. Lokasinya tidak jauh dari Terminal Baranangsiang, Bogor.

Sesuai namanya, kafe itu memang dikelola oleh LSM Telapak, yang dulu didirikan oleh Ambrosius Ruwindrijarto alias Ruwi dan teman-temannya di tahun 1996.

Dihadiri belasan pengunjung, sore itu tengah digelar peluncuran dan diskusi buku. Ruwi, kelahiran 1971, adalah salah-satu pembicaranya.

"Daripada sewa kantor, toh kita hanya perlu tempat untuk rapat, terima tamu, jadi kita bikin saja kafe saja," jawab Ruwi, seraya tertawa, dalam wawancara dengan wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan, Sabtu (29/09), tentang latar belakang pendirian kafe itu.

Di sela-sela diskusi, dan sempat diwarnai hujan deras, ayah satu anak ini menjawab pertanyaan tentang awal mula pendirian LSM Telapak.

"Di sana, kami diambil dan dinterogasi dan bahkan dipukuli dari grup illegal logging, tapi bukan pelaku di apangan, melainkan pemodal dan pengendalinya."

"Sejak awal," kata Ruwi," kita ingin organisasi ini tidak hanya milik kami pendirinya, tapi juga milik siapa saja yang ingin memperjuangkan kelestarian dan kerakyatan."

Di sinilah mereka kemudian mengundang siapapun yang ingin bergabung, hingga akhirnya perkumpulan itu berkembang dan beranggotakan 240 orang, saat ini.

Selain menitikberatkan pada upaya penyelidikan, dokumentasi dan kampanye terhadap persoalan "kejahatan lingkungan", Telapak juga bekerja sama langsung dengan masyarakat terkait isu lingkungan.

Melibatkan masyarakat adat, petani dan nelayan, Ruwi dan kawan-kawan terus mencoba "menciptakan sistem dan praktek pengelolaan alam yang lestari".

Dia mencontohkan kerja sama dengan masyarakat adat di Sungai Utik di Kalimantan Barat.

Bersama LSM Telapak, Ruwi melibatkan masyarakat untuk menciptakan sistem tandingan dalam pengelolaaan sumber daya alam.

"Mereka dari dulu mengelola hutan, tapi kemudian mereka diakui secara resmi sebagai pengelola hutan yang lestari. Mereka memperoleh sertifikat Lembaga Ekolable Indonesia (LEI)," jelasnya.

Di Sulawesi Tenggara, mereka juga bekerja bersama masyarakat petani hutan dengan membentuk koperasi.

"Koperasinya mengelola hutan dan memperoleh pengakuan internasional dalam bentuk misalnya sertifikat dari Forest Stewardship Council (FSC). Artinya, mereka diakui bahwa produk dari hutan yang lestari".

Lainnya? Ruwi, dengan agak bersemangat, menyebut kerjasama dengan masyarakat petani di Yogyakarta: "Mereka berkumpul, beroganisasi dalam bentuk koperasi, kemudian koperasinya mengelola hutan rakyat. Mereka memproduksi kayu secara berkelanjutan, dan hutannya tetap lestari".

Kerjasama serupa juga dilakukan Telapak di Lampung. "...Sehingga mereka memperoleh sertifikat legalitas kayu".

Diancam dibunuh

Sebagai aktivis yang peduli terhadap persoalan lingkungan, ayah satu anak itu pernah disekap, disiksa dan diancam untuk dibunuh.

Bersama rekannya dari sebuah LSM asal Inggris, Ruwi pernah disekap, disiksa dan diancam dibunuh saat melakukan investigasi di Kalimantan Tengah.

Hal itu dia alami ketika LSM Telapak dan sebuah LSM lingkungan asal Inggris melakukan investigasi membongkar praktek penebangan liar dan penyelundupan kayu, yang diduga melibatkan perusahaan pemegang hak pengusahaan hutan (HPH) di sebuah Taman Nasional Tanjung Puting di Kalimantan Tengah.

"Di sana", kata Ruwi mengenang kejadian pahit di tahun 1999 itu, "kami diambil dan dinterogasi dan bahkan dipukuli dari grup illegal logging, tapi bukan pelaku di lapangan, melainkan pemodal dan pengendalinya".

Sebelumnya, Ruwi dan rekanannya melakukan investigasi di lokasi penebangan liar dan penyelundupan kayu.

Menempuh kegiatan berbahaya, anak keempat dari lima bersaudara ini mendokumentasikan kejadian itu melalui kamera video tersembunyi serta berupa foto-foto. Dia juga mengumpukan data-data melalui wawancara serta menyaksikan langsung praktek seperti itu di lokasi.

"Laporan itu menyodorkan bukti-bukti video, foto, cerita, data, tentang illegal logging, siapa pelakunya, siapa cukongnya, siapa pembelinya, siapa pengangkutnya, dan seterusnya... Bukan hanya angka dan data, tapi juga ada nama-nama yang kami temukan dan sebut di sana."

"Laporan itu menyodorkan bukti-bukti video, foto, cerita, data, tentang illegal logging, siapa pelakunya, siapa cukongnya, siapa pembelinya, siapa pengangkutnya, dan seterusnya... Bukan hanya angka dan data, tapi juga ada nama-nama yang kami temukan dan sebut di sana," katanya.

Hasil investigasi itu kemudian diluncurkan dalam sebuah laporan yang diberi judul The Cut. Rencananya laporan itu akan dipresentasikan dalam forum CGI, forum negara-negara maju untuk mendukung program pembangunan di Indonesia, kata Ruwi.

"Dalam kepentingan itu saya (dan rekannya dari LSM lingkungan Inggris) berkunjung ke Kalimantan Tengah utuk investigasi dan konfirmasi beberapa informasi yang kami temukan," ungkapnya.

Tetapi, "Di sana kami diambil dan diinterogasi dan bahkan dipukuli..."

Ketika saya hendak mendalami lebih lanjut apa yang dia alami, Ruwi terkesan enggan untuk mengungkapnya.

Dengan agak lirih, Ruwi hanya berujar: "Ya, itu menjadi tantangan besar kepada saya pribadi. Sayat takut pada kekerasan. Saya tidak pernah berkelahi..."

Penghargaan Ramon Magsaysay 2012

Pada pekan ketiga Juli lalu, ketika tengah menyetir mobilnya, telepon genggam Ruwi berbunyi nyaring.

Ruwi agak kaget, ketika sang penelepon mengaku sebagai Presiden Ramon Magsaysay Award Foundation, Carmencita Abella.

Ruwi dan lima orang lainnya asal negara-negara di Asia yang mendapat penghargaan Ramon Magsaysay 2012.

Dalam pembicaraan lewat telepon itulah, Ruwi diberitahu bahwa dia memperoleh penghargaan Ramon Magsaysay 2012 bersama lima orang lainnya dari beberapa negara di Asia.

Penghargaan Ramon Magsaysay, yang pertama kali diberikan pada 1957, sering disebut sebagai Hadiah Nobel Asia.

Nama tersebut diambil dari sosok mendiang presiden ketiga Filipina, Ramon Magsaysay, figur pemimpin yang dianggap rendah hati dan sederhana.

"Tentu saja, saya sempat tidak percaya," kata Ruwi, saat saya hubungi melalui telepon, sehari setelah dia menerima telepon tersebut.

Dia kemudian menerima pemberitahuan resmi melalui email.

"Apakah saya pantas (menerima penghargaan Magsaysay)... Saya dan teman-teman hanya berupaya sebaik-baiknya, begitu banyak yang belum (kita) capai dan kembangkan."

Situs resmi Ramon Magsaysay juga menyebutkan, Ambrosius dan rekan-rekannya di LSM Telapak dianggap mampu bersikap berani dalam melakukan advokasi dalam sejumlah kasus penghentian penebangan liar di Indonesia.

Konsistensinya dalam mendampingi masyarakat untuk terus mencoba "menciptakan sistem dan praktek pengelolaan alam yang lestari" merupakan alasan lain dia layak menerima penghargaan prestisius itu.

Dalam wawancara pada Juli lalu, Ruwi berujar, "Apakah saya pantas (menerima penghargaan Magsaysay)... Saya dan teman-teman hanya berupaya sebaik-baiknya, begitu banyak yang belum (kita) capai dan kembangkan."

Dalam situs resmi ramon Magsaysay disebutkan, Ruwi merupakan orang Indonesia ke-22 yang menerima penghargaan ini.

Beberapa nama yang pernah meraih Magsayay Award antara lain Abdurrahman Wahid alias Gusdur, novelis Pramoedya Ananta Toer, wartawan senior Mochtar Lubis, serta mantan pemimpin Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif.

Bekal dukungan

Ketika langit kota Bogor beranjak gelap, sementara gerimis yang tersisa tak juga redah, saya membuka lagi pertanyaan tentang penghargaan tersebut.

Apa makna penghargaan Ramon Magsaysay bagi Anda? Tanya saya.

"Sebagai tambahan dukungan untuk meneruskan dan mengefektifkan upaya-upaya bekerja bersama masyarakat adat, petani, dan nelayan Indonesia, untuk kerakyatan dan kelestarian," katanya dengan nada tegas.

Ruwi tengah mendampingi masyarakat dalam membangun sistem tandingan pengelolaan sumber daya alam.

Hal ini dia tekankan berulang-ulang, "karena justru saat ini, saya pribadi saya berada di titik kritis, kalut, karena kami menjadi korban kejahatan lingkungan".

Dia lantas bercerita ada anggota LSM Telapak di Kampung Muara Tae di Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur, yang tengah memperjuangkan hutannya.

"Mereka sudah 20 tahun berjuang mempertahankan hutannya dan mempertahankan jati dirinya sebagai orang dayak Benoak dari serbuan perusahan tambang, serbuan HPH, HTI dan perkebunan sawit," ungkapnya.

"Sampai hari ini hutan mereka dibuldoser secara paksa," tambahnya seraya menyebut sejumlah nama perusahaan.

"Jadi karena mereka angogta Telapak, maka mereka saudara saya. Kalau mereka sakit, kami semua sakit... Kami harus bertahan mempertahankan hutan kami," tegasnya, dengan nada agak tinggi.

"Jadi, saat ini, kami sedang jadi korban, kami berada di titik yang rendah. Oleh karena itu, ketika mendapat Magsaysay Award, saya pikir ini adalah dukungan agar kami bertahan."

Menurutnya, 20 tahun lalu silam, hutan adat Muara Tae masih seluas 11 ribu hektar. Namun, "Hari ini yang masih berhutan tinggal sekitar 800 hektar. Sebagian besar sudah jadi tambang dan perkebunan sawit".

"Kehilangan hutan ini, bagi orang dayak Benoak, bukan hanya kehilangan sumber pangan, sumber air, sumber obat, dan sumber papan, tapi juga kehilangan jati diri," kata alumni Fakultas Kelautan, IPB, Bogor, dengan nada getir.

Karena, "hutan tak terpisahkan dari budaya dan identitas diri orang dayak Benoak".

"Jadi, saat ini, kami sedang jadi korban, kami berada di titik yang rendah. Oleh karena itu, ketika mendapat Magsaysay Award, saya pikir ini adalah dukungan agar kami bertahan".

Dengan diberitakan secara luas, Ruwi mengharapkan masyarakat dan pemerintah mengetahui apa yang dialami orang Dayak Benoak.

"Kami ingin publik tahu bahwa kita sama-sama harus bekerjasama, harus membangun solidaritas untuk lingkungan hidup kita, untuk hutan kita, karena di sanalah keselamatan kita," papar Ruwi.

Otokritik

Walaupun demikian, pria kelahiran 14 November 1971 ini mengaku program kerjasama Telapak dengan masyarakat itu harus lebih banyak diperbaiki.

"Saya sering merasa hal-hal (kegiatan Telapak) yang diliput media, itu hal-hal prestasi yang harus kami isi," katanya, agak diplomatis.

Dia kemudian menjelaskan: "Kami khawatir prestasi ini fotonya lebih bagus dari aslinya".

"Seharusnya ada seribu, bukan hanya tiga atau sepuluh, karena begitu luasnya hutan dan masyarakat adat Indonesia."

Karena itulah, pria yang pernah terpilih sebagai Social Enterpreuner of the Year versi Ernts and Young/Schwab Foundation pada 2008 lalu ini mengharap "betul-betul bisa bekerja bisa dengan masyarakat" sehingga "(aktivitas) aslinya lebih indah dari fotonya".

Dari pengalaman selama ini, menurutnya, ide-ide dan eksperimen di balik aktivitas Telapak masuk kategori "bagus".

"Tapi," katanya cepat-cepat," terlalu kecil..."

"Kami harus membuatnya menjadi sesuatu yang mainstream, arus utama," tandasnya, berterus-terang.

Apabila langkah itu belum menjadi arus utama, lanjutnya, "berarti saya kira pekerjaan masih panjang".

Dia menginginkan agar hasil kerjasama dengan masyarakat Yogyakarta, Sulawesi Tenggara atau Lampung, dapat dikakukan di tempat lain.

"Seharusnya ada seribu, bukan hanya tiga atau sepuluh, karena begitu luasnya hutan dan masyarakat adat Indonesia," katanya dengan nada tegas.

Segelintir orang

Tetapi apa manfaat jika sistem dan praktek seperti itu digelar secara massal? Tanya saya.

"Saya yakin, konflik lahan terkait hutan akan sangat meredah, karena dasarnya ada di sana," kata Ruwi.

Ruwi yakin konflik lahan hutan akan meredah, kalau sistemnya dikelola kelompok masyarakat dan bukan korporasi.

Manfaat lainnya? "Kalau hutan dikelola koperasi atau kelompok masyarakat, maka puluhan juta orang akan meningkat kesejahteraannya".

Yang terjadi sekarang, kata Ruwi, pengelolaan hutan hanya menyejahteraan sekelompok kecil orang, investor serta pemilik korporasi.

"Jadi manfaat ekonomi hutan saat ini terpusat pada beberapa korporasi, atau segelintior orang," tandasnya.

"Nah, sekarang, dalam 40-50 tahun terakhir, saat pengelolaan hutan Indonesia berada di tangan HPH, HTI, kemudian perkebunan sawit, dengan segala macam korporasinya, terbukti dalam 40 tahun hancur hutan kita."

Sebaliknya, kata Ruwi, "Dengan koperasi-koperasi, kelompok masyarakat yang mengelola hutan, maka manfaat ekonomi pengelolaan hutan akan terdistribusi, merata, lebih meluas".

Sambil menarik nafas dalam-dalam, alumni Fakultas Kelautan Institut Pertanian Bogor (IPB) ini kemudian berkata: "Kami lebih percaya bahwa pengelolaan hutan oleh masyarakat, akan lebih lestari".

Dia kemudian mencontohkan pengalaman ratusan tahun hutan dikelola oleh masyaralaty adat yang membuat hutan terbukti lestari.

"Nah, sekarang, dalam 40-50 tahun terakhir, saat pengelolaan hutan Indonesia berada di tangan HPH, HTI, kemudian perkebunan sawit, dengan segala macam korporasinya, terbukti dalam 40 tahun hancur hutan kita," Ruwi mengutarakan ini dengan serius.

Sosok berpengaruh

Dalam wawancara yang diselingi hujan deras, Ruwi sempat terdiam beberapa detik, ketika saya tanyakan sosok siapa paling berpengaruh terhadap perjalanan hidupnya.

Matanya terlihat menerawang jauh, sebelum akhirnya dia berujar lirih: "Saya kira, bapak saya..."

Sambil mendekap anaknya yang berusia 5 tahun, Ruwi kemudian melanjutkan kalimatnya: "Karena.. saya belajar tentang kesederhanaan atau (saya) berusaha belajar, karena saya nggak berhasil menyamainya."

Ruwi yang terlihat menerima penghargaan Ramon Magsaysay mengaku sosok ayahnya mewarnai karakternya.

Mendiang ayah Ruwi adalah seorang guru. Pada masanya, sang ayah pernah pula menjadi penilik pendidikan luar sekolah, yang menurut Ruwi, acap melakukan perjalanan ke desa-desa.

"Jadi, (ayah saya) banyak berkunjung ke desa-desa untuk program pengajaran non formal, kejar paket A, kejar paket B..."

Rupanya, aktivitas sang ayah itu begitu melekat pada ingatannya -- sampai sekarang.

"Mungkin saya ketularan senang berkunjung ke desa-desa, berkumpul dengan masyarakat atau orang-orang," ungkapnya, kali ini dengan tersenyum.

Seperti diketahui, sebagai pegiat LSM di bidang lingkungan, Ruwi harus bertemu dan berdiskusi dengan banyak orang di pelosok daerah, di pinggir hutan atau pantai.

"Setelah beliau meninggal, saya banyak mendengar cerita di pelosok desa, dari ujung sana-ujung sini, yang tak disangka semuanya kenal (ayah saya), karena semuanya pernah dikunjungi dan berinteraksi dengan bapak saya."

Di saat melakukan itu semua, Ruwi kembali teringat percakapannya dengan masyarakat desa yang dulu pernah didatangi almarhum ayahnya.

"Setelah beliau meninggal, saya banyak mendengar cerita di pelosok desa, dari ujung sana-ujung sini, yang tak disangka semuanya kenal (ayah saya), karena semuanya pernah dikunjungi dan berinteraksi dengan bapak saya," terangnya, masih dengan mata menerawang.

Pihak lain yang disebutnya mempengaruhi perjalanan hidupnya adalah kawan-kawannya di komunitas pencinta alam di kampusnya Institut Pertanian Bogor (IPB), Lawalata.

"Teman-teman saya di Lawata IPB, menjadi teman yang asyik... saya menemukan kebahagiaan kegiatan di alam," jelasnya.

Secara khusus Ruwi kemudian menyebut salah-satu nama seniornya di Lawalata, yang menurutnya berperan besar. "Dia menjadi mentor saya untuk pembentukan diri secara organisasi".

Lainnya, siapa lagi yang ikut membentuk karakter Anda? "Tentu saja teman-teman di Telapak".

Wawancara akhirnya berakhir, dan Ruwi terlihat meninggalkan lokasi diskusi seraya menggendong putrinya yang berumur lima tahun.

Saya pun meninggalkan kota Bogor, walaupun gerimis tak juga redah.

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.