Komnas PA: 'ribuan' bayi Indonesia dijual

Bayi Cello korban pendulikan
Image caption Cello Aditia yang baru berumur lima hari diculik pada 15 September 2012 di Bekasi.

Berdasarkan pengakuan tersangka otak jaringan jual-beli bayi yang baru diringkus polisi di Jakarta Barat, Komnas Perlindungan Anak menyimpulkan praktek sindikat perdagangan bayi di Indonesia sudah makan korban 'sedikitnya ribuan' bayi dalam kurun waktu dua puluhan tahun terakhir.

Tersangka HS (62) kepada penyidik dari Kepolisian Jakarta Barat mengatakan telah menerima dan 'memberikan' bayi yang tidak dapat dirawat orangtuanya kepada warga yang ingin merawat bayi.

Kepada polisi perempuan mantan bidan yang diduga mengendalikan sindikat dari sebuah rumah di Sunter Jakarta Utara itu mengatakan dalam sebulan rata-rata melepas tiga bayi, tetapi ia mengakui sepanjang November-Desember lalu memindahtangankan 12 bayi.

"Bayangkan, rata-rata sebulan 5-6 bayi, dalam setahun berapa? Dalam 20 tahun berapa? Ribuan sudah," kata Arist Merdeka Sirait, Koordinator Komnas PA.

Kemungkinan ini terbuka lebar menurut Arist karena sindikat yang beroperasi di Indonesia diyakini bukan hanya satu, tetapi juga sejumlah sindikat lain.

"Karena yang kita tahu, yang Jakarta Barat kan modus pemberian bantuan uang. Padahal ada modus lain seperti penculikan, juga modus Panti Asuhan," tambahnya.

Polisi juga menduga masih ada kelompok lain yang turut mengeruk keuntungan dari bisnis jual-beli bayi ini. Namun menurut Kombes Pol Rikwanto, Humas Polda Metro Jaya, angkanya tak begitu banyak.

"Tidak sampai ribuan lah, sebulan kan tiga rata-rata kalikan saja 20 tahun."

Menurut Rikwanto dari data sementara aparat telah dapat memetakan jaringan sindikat gelap ini berdasarkan pengakuan para saksi dan tujuh tersangka yang digulung Polres Jakbar sejak akhir bulan lalu.

"Dari situ muda-mudahan bisa kita buka (informasi) untuk jaringan lain," tambahnya.

Rupa 'menentukan'

Image caption Komnas PA menurut Arist pernah menggerebek dua panti asuhan gadungan tahun 2006.

Dalam pengakuannya, para tersangka menurut polisi melepas bayi dengan harga berbeda-beda.

"Kalau bayi cakap, kulit terang, sehat, wah bisa mahal," kata Rikwanto.

Polisi menyebut jangkauan harga antara 20-80 juta untuk bayi-bayi malang ini.

Sementara dalam penyelidikan yang diikuti penyamaran dan pnggerebekan tahun 2006, Komnas PA ditawari mengadopsi anak dengan membayar antara Rp5-12 juta.

"Itu di lokasi yang berkedok Panti Asuhan di Bekasi dan Tangerang," kata Arist Merdeka Sirait yang menjadi anggota Komnas PA sejak 1998.

Ada ratusan anak di dua tempat itu saat diserbu polisi, kata Arist, mereka diduga diserahkan orang tua yang terbujuk menitipkan anak di Panti agar 'mendaat kehidupan lebih baik'.

"Jadi jaringannya itu ada yang mencari anak atau bayi, atau yang menawarkan sama kami," tambahnya.

Modus panti asuhan menurut Komnas juga ditemukan di Palembang Sumatera Selatan dan diyakini sampai kini masih dijalankan sindikat.

Sepanjang 2011 Komnas PA mendapat 121 laporan anak hilang karena berbagai alasan termasuk penculikan bayi. Angka itu meningkat menjadi 182 kasus pada tahun 2012, 32 kasus diantaranya terjadi saat anak berada di lokasi fasilitas kesehatan seperti Rumah Sakit atau klinik bidan. Komnas

Berita terkait