Anies Baswedan berbagi inspirasi

Image caption Anies Baswedan bersama belasan siswa sekolah dasar di kawasan Cikini, Jakpus.

Anies Baswedan mencetuskan gerakan Indonesia Mengajar demi terlibat langsung menyelesaikan persoalan pendidikan di Indonesia. Kini gerakannya menginspirasi banyak orang.

Anda percaya, jika saya katakan, Anies Baswedan, sosok intelektual dan aktivis, di masa kanak-kanaknya gemar adu jotos dengan teman-teman sebayanya?

Percayalah, ini bukan omong kosong!

"Semua orang saya anggap sak tinju. Ditonjokin (dipukul) semua..."

Sambil menebar tawa, Anies Baswedan, kelahiran 1969, mengungkap kegemarannya berkelahi saat usianya berkisar antara 7 dan 8 tahun, ketika duduk dibangku SD Laboratori, Yogyakarta.

"Saya rasa (saya) terinspirasi Muhammad Ali,"ungkap Anies, menyebut idolanya petinju legendaris berkulit hitam asal Amerika Serikat itu, dalam wawancara khusus dengan wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan, Rabu (20/02/2013) lalu.

Lantaran gemar meninju teman-teman sebayanya, baik di sekolah atau di lingkungan rumahnya di Yogyakarta, ibunya -- Aliyah Rasyid, saat itu dosen IKIP Yogyakarta -- berulangkali dipanggil kepala sekolah.

"Saat klas 1 dan 2 sekolah dasar, saya memang agak punya masalah," akunya.

Namun demikian, siapa sangka, kegemarannya bertinju itu kelak mengantarnya gemar membaca buku, dan mengenal tokoh-tokoh nasional dan dunia, serta belakangan membuatnya akrab dengan istilah dan makna inspirasi.

Perpustakaan KR

Suatu saat, orang tuanya mendaftarkan Anies kecil menjadi anggota perpustakaan milik Surat Kabar Kedaulatan Rakyat (KR), yang letaknya kira-kira empat kilometer dari kediamannya.

Sang ayah, Rasyid Baswedan, juga mengizinkannya naik sepeda saat berangkat dan pulang dari perpustakaan tersebut, saban sore.

Image caption Anies Baswedan (kiri) bersama dua temannya saat di bangku sekolah menengah pertama di Yogyakarta.

"Wuih, saya bangga betul, karena orang lain nggak boleh naik sepeda (ke jalan raya)," kenang Anies, disusul tawa lebarnya.

Belakangan, Rektor Universitas Paramadina (sejak 2007 lalu) ini menyadari bahwa keputusan orang tuanya mengizinkannya bersepeda ke perpustakaan KR tiap sore hari, menjauhkannya dari kegemarannya adu jotos dengan kawan-kawan di lingkungan rumahnya.

Lebih dari itu, aktivitas bersepeda ke perpustakaan itu juga membuatnya lambat-laun menyukai kegiatan membaca buku -- walaupun "orang tua saya tidak mengajarkan pada saya: cintailah buku, bacalah, atau buku itu penting."

Di sinilah, Doktor ilmu politik Universitas Northern Illinois (2005) ini, menyebut keputusan orang tuanya sebagai "trik yang cukup menarik, karena tanpa secara eksplisit saya diberitahu untuk menyukai buku, tapi (saya) diarahkan untuk menyukai buku".

Di ruangan perpustakaan yang sepi itulah, Anies Baswedan kemudian terinspirasi gagasan dan perilaku tokoh nasional dan dunia -- melalui buku-buku biografi kesukaannya, yang kelak diakuinya mewarnai berbagai aktivitas yang digelutinya saat ini.

"Cerita Agus Salim (tokoh nasional dan Menteri Luar Negeri di jaman revolusi kemerdekaan) itu menempel betul pada diri saya waktu itu," kata istri Fery Farhati Ganis dan ayah dari empat anak ini, menyebut salah-satu tokoh nasional Indonesia yang menginspirasinya.

Kelas Inspirasi

Di sebuah pagi yang bergerimis, pekan ketiga Februari silam, di kantor Gerakan Indonesia Mengajar (GIM) yang dipimpinnya, Anies Baswedan telah bersiap-siap mendatangi empat sekolah dasar di beberapa wilayah Jakarta.

Cucu perintis kemerdekaan Abdurrachman (AR) Baswedan ini, pada pekan itu, memang terlihat sibuk.

Image caption Di sela-sela penyampaian materi inspirasi oleh seorang profesional, Anies Baswedan mengenalkan profesinya sebagai Rektor Universitas Paramadina.

Dia dan rekan-rekannya dari GIM tengah menyiapkan Gerakan Kelas Inspirasi (GKI) periode kedua, yang hari itu digelar secara serentak di enam kota.

Kelas Inspirasi adalah semacam gerakan berbagi pengalaman dan nilai-nilai yang melibatkan sekitar seribu orang berlatar profesi macam-macam, di sekitar 130 sekolah dasar.

Klas inspirasi merupakan langkah lanjutan, setelah Anies Baswedan dan kawan-kawan menggelar Indonesia Mengajar, tiga tahun silam, yang ditandai penyebaran pendidik muda ke berbagai wilayah pelosok di Indonesia.

Di sela-sela aktivitasnya, dalam kendaraan pribadinya, yang ditata sedemikian rupa seperti 'kantor berjalan', Anies Baswedan menjawab semua pertanyaan BBC Indonesia, yang mula-mula menanyakan tentang efektivitas acara yang diharapkan dapat menginspirasi para siswa sekolah dasar yang menjadi pesertanya.

"Itu akan membuka cakrawala yang baru," kata Anies membuka jawaban, dengan kalimat dan tekanan suara yang tertata.

Menurutnya, anak-anak itu akan terbuka wawasannya, setelah para profesional -- mulai wartawan, dokter, penulis naskah, geologis, arsitek hingga juru masak -- menceritakan pengalamannya serta membagikan nilai-nilai positif dalam perjalanan hidupnya.

"Nah, lalu mereka (para siswa sekolah dasar itu) memiliki mimpi, yang bisa menjadi semacam motivator," papar peraih berbagai penghargaan internasional atas gagasan dan aktivitasnya ini.

Jika selama ini, anak-anak itu terpaku semata-mata pada cita-cita seperti insinyur, dokter atau pilot, maka diharapkan setelah mengikuti GKI, mereka akan memiliki pengetahuan lebih luas terhadap aneka profesi lainnya.

"Mimpi seorang anak adalah cermin pengetahuannya. Karena (selama ini) dia tahunya cuman dua atau tiga profesi, misalnya, ya dia mimpinya cuma menjadi dua atau tiga profesi itu," jelasnya.

"Tapi kalau dia pengetahuannya luas, dia akan memiliki mimpi yang jauh lebih luas," tambah Anies, yang pernah mengikuti program pertukaran pelajar AFS Intercultural Programs di Wisconsin, AS (1987-1988) ini.

Mengukur inspirasi

Sepanjang hari itu, di sejumlah sekolah dasar mulai di kawasan Benhil, Jakpus, hingga di wilayah Rawa Badak, Jakarta utara, saya menyaksikan belasan profesional 'beraksi' di dalam kelas.

Image caption Kepada Heyder Affan, Anies Baswedan menyatakan keyakinannya bahwa para siswa itu bakal terinspirasi setelah mengikuti materi pengalaman dari profesional.

Seorang arsitek sengaja mengenakan helm kerjanya, sementara seorang copy writer membawa pula alat peraga mirip kamera film. Mereka juga terlihat begitu atraktif, termasuk dengan membawa alat peraga, dengan berharap kisah mereka dapat menetap lama di benak anak-anak tersebut.

Tetapi, bagaimana mengukur sejauhmana berbagi pengalaman ini dapat menetap lama dan nantinya menginspirasi? Tanya saya.

Walaupun tetap menggelar rutin evaluasi, Anies meyakini pengalaman anak-anak tersebut dalam berinteraksi dengan para profesional itu akan begitu membekas.

"Saya bisa pastikan, mereka pulang akan cerita 'tadi ada orang yang namanya arsitek yang bangun gedung-gedung'," katanya

Namun demikian, Anies mengajak semua pihak tidak melihat kelas inspirasi dari pendekatan program.

"Karena kalau lihat sebagai pendekatan program, kita akan mengejar ukuran. Dan itu yang menyebabkan kita terjerembab. Karena bagaimana Anda mengukur inspirasi? Tidak bisa!"

"Jadi kalau orang inspired, dia akan punya driving force yang kuat di dalam dirinya".

Mantan Ketua Umum Senat Mahasiswa UGM (1992-1993) ini kemudian memberikan contoh: "Apakah Bung Karno menggandakan program Indonesia? Tidak! Tapi dia gelorakan spirit 'saya adalah orang Jawa, dan saya adalah orang Indonesia', saya orang Sunda, dan saya orang Indonesia. Saya orang Bugis, dan saya orang indonesia".

Menurutnya, apa yang dilakukan Sukarno saat itu "tidak ada ukuran programnya".

Cuma saja, "Dia gandakan. Itu inspired, itu that the power of idea," tegas Anies yang pernah menjadi Ketua OSIS se Indonesia ketika SMA.

"Nah, yang hadir di kelas-kelas ini, adalah ide, yang diharapkan menempel di anak-anak itu, lalu menjadi pendorong mereka".

Bukan masalah pemerintah

Ketika media memberitakan aktivitas pelatihan dan pengiriman kaum muda terdidik ke berbagai pelosok wilayah Indonesia, nama Anies Baswedan serta Gerakan Indonesia Mengajar banyak disebut.

Image caption Anies Baswedan di hadapan peserta program Indonesia Mengajar yang tengah mengikuti sebuah pelatihan.

Ini terjadi pertengahan 2009 lalu, ketika para sarjana berusia muda itu menjadi guru sekolah dasar di berbagai pelosok Indonesia, di tengah persoalan kekurangan tenaga pengajar, terutama di kawasan tertinggal.

Anies adalah pencetus gerakan ini, namun menurutnya Indonesia Mengajar bukanlah semacam simbol kritik terhadap pemerintah yang dianggap gagal mampu menyelesaikan permasalahan pendidikan -- misalnya kekurangan tenaga pendidik.

"Kita itu justru mau menggandakan perasaan memiliki atas masalah (pendidikan)," katanya.

Melalui aktivitas tersebut, Anies dan kawan-kawannya menyatakan persoalan itu juga merupakan masalah mereka. "Bukan masalahnya pemerintah saja."

"Secara konstitusional ini kewajiban negara, tetapi secara moral, mendidik adalah kewajiban setiap orang terdidik. Ini pesan yang ingin kita gandakan," jelas alumni Fakultas Ekonomi UGM (1995) ini.

Kepada para sarjana yang dikirim menjadi pengajar muda di wilayah pelosok, pria yang pernah menjadi peneliti utama di Lembaga Survei Indonesia ini selalu berpesan:

"Jika nanti di sana ada yang bilang terima kasih anda sudah datang, terima kasih sudah mau mengajar di sini, padahal pemerintah belum kirim orang, maka katakan: saya mewakili negara, saya datang mewakili bangsa. Titik".

"Nggak penting siapa yang kirim. Di tempat itu, yang penting, hadir seorang guru," tegasnya. "Perasaan ini yang kita ingin bangun lagi".

Kerja kolektif

Lima tahun silam, Anies Baswedan tercantum sebagai orang Indonesia pertama di antara '100 orang intelektual di dunia' pilihan majalah Foreign Policy, edisi April 2008.

Anies berada pada jajaran nama-nama tokoh dunia, seperti tokoh perdamaian, Noam Chomsky, penerima penghargaan Nobel seperti Shirin Ebadi, AL Gore, Muhammad Yunus atau Amartya Sen.

Penghargaan ini diperolehnya setahun setelah dia diangkat sebagai Rektor Universitas Paramadina, saat usianya baru 38 tahun, sekaligus sebagai rektor termuda di Indonesia.

Image caption Klas Inspirasi yang telah digelar dua kali, menurut Anies Baswedan, merupakan hasil kerja kolektif.

Beberapa penghargaan kemudian diraihnya, yang antara lain tidak terlepas dari kiprahnya mencetuskan gerakan Indonesia Mengajar.

Majalah Foresight, yang terbit di Jepang, pada edisi khusus April 2010 yang berjudul '20 orang 20 tahun’, memasukkan antara lain sosok Anies, yang diperkirakan akan berperan dalam perubahan dunia dua dekade mendatang.

Nama-nama lain yang disebut antara lain adalah Presiden Venezuela (almarhum) Hugo Chavez, serta (mantan) Menlu Inggris David Miliband.

Setahun sebelumnya, dia juga mendapat penghargaan sebagai salah-seorang ‘Young Global Leaders 2009’ dari Forum Ekonomi Dunia (The World Economic Forum).

Apa makna sejumlah penghargaan itu terhadap Anda?

"Sebagian dari penghargaan itu, terutama di dunia internasional, adalah pengakuan atas Indonesia," tegasnya.

Bukan semata Anda? "Bukan," jawabnya.

Namun dia kemudian buru-buru menambahkan, seraya tertawa: "Menurut saya, mereka melihat Indonesia-nya, lalu dari situ kelihatan nih Anis. Mungkin nama saya start-nya huruf A. Jadi di daftar apapun, saya agak di atas tuh... ha-ha-ha..

"Makanya kalau Anda ingin anak anda dapat perhatian, kasih nama A. Kalau depannya Z kasihan," kelakarnya.

Anies mengaku tidak pernah mendaftar untuk mendapatkan berbagai penghargaan itu.

Dia juga menyatakan tidak pernah mengisi formulir apapun terkait berbagai penghargaan tersebut.

"Karena, setiap ada award itu, sebenarnya tambahan berat di pundak”.

Lagipula, lanjutnya, berbagai penghargaan itu merupakan hasil kerja kolektif dan bukanlah hasil kerja sendiri.

Memilih menjadi aktivis

Pada akhir Februari 2013 lalu, Anies Baswedan terpilih sebagai Ketua Komite Etik Komisi Pemberantasan Korupsi, KPK, untuk menyelidiki pembocoran surat perintah penyidikan terkait kasus dugaan korupsi mantan Ketua Umum Partai Demokrat.

Ini bukan kali pertama Anies terjun langsung ke berbagai persoalan yang menyangkut persoalan yang menyita perhatian orang banyak.

Image caption Anies Baswedan menyebut dirinya pegiat ketimbang intelektual yang sibuk di dalam kampus semata.

Pada akhir 2009 lalu, dia bersama delapan orang lainnya (termasuk pengacara senior Adnan Buyung Nasution) dipilih Presiden Susilo Bambang Yudhoyoho untuk menyelesaikan kasus sangkaan pidana terhadap sejumlah pimpinan KPK.

Kalau Anda menilai diri Anda sendiri, Anda lebih sebagai intelektual atau aktivis? Tanya saya.

“Saya dari dulu menempatkan diri sebagai pegiat,” jawab Anies yang sejak di bangku sekolah menengah pertama sudah aktif di berbagai organisasi.

Menurutnya, apa yang selama ini dia pelajari di berbagai strata di bangku perguruan tinggi, merupakan alat berkegiatan di masyarakat.

Jadi, “Saya tidak memposisikan orang kampus yang tengah melakukan penelitian di luar”.

“Saya adalah orang yang selalu ingin menjadi bagian dari bermasyarakat, tetapi memanfaatkan pengetahuan untuk bisa membaca fenomena secara analitik, lalu mencoba mengusulkan solusi-solusi yang bisa diaplikasikan,” jelasnya.

I rather work with people not paper,” kata Anies lebih lanjut, kemudian tertawa.

Kalimat itu, menurutnya, dia gunakan saat mendaftar pendidikan Master bidang International Security and Economic Policy di Universitas Maryland, College Park, sekaligus untuk mencari beasiswa Fullbright.

“Waktu saya tulis dalam esai saya: I will work with people not paper... Alhamdulillah dapat fullbright…ha-ha-ha...”

Iming-iming kekuasaan

Di sela-sela wawancara di atas kendaraan yang membawa kami menuju ke empat sekolah dasar di berbagai sudut Jakarta, saya akhirnya menanyakan soal kekuasaan, kepemimpinan, serta -- tentu saja -- politik kepada Anies.

Image caption Bersama politisi senior Akbar Tanjung, Anies Baswedan menyatakan berhati-hati terhadap politik kekuasaan.

Anda di berbagai media disebut sebagai calon presiden masa depan. Apakah sejauh ini sudah ada yang mendekati Anda? Tanya saya.

“Kalau sudah (didekati), saya tidak cerita di sini,” kata Anies, singkat dan dengan mimik serius.

“Tapi,” imbuhnya cepat-cepat, “kita harus hati-hati. Jangan sampai kita terlena. Karena ini soal kekuasaan, dan kekuasaan itu tempting (menggoda)”.

Dia kemudian menyatakan, saat ini banyak orang terjerembat karena iming-iming kekuasaan. “Dan kalau sudah terjerembab itu, apa lagi yang dibanggakan dari kehadirannya di politik”.

Di sini Anies lantas mengungkapkan filosofinya dalam berpolitik:

“Berpolitik itu membawa ide, bawa gagasan, dan menyelesaikan dengan kepala tegak”.

Kalau bepolitik itu semata-mata untuk mendapatkan kekuasaan, kata Anies, pasti dia keluar dengan kepala menunduk.

“Dan saya rasa, hari ini terlalu banyak orang kepalanya menunduk. Saya tak mau ikut rombongan yang ikut menunduk di situ,” tandasnya

Memimpin itu menggerakkan

“Saya tidak terlalu sependapat dengan orang yang menawarkan diri ‘saya akan hadir menyelesaikan masalah Anda’. Menurut saya itu kuno,” jelas Anies ketika saya tanyakan apa konsepnya tentang kepemimpinan yang dibutuhkan Indonesia saat ini dan ke depan.

Image caption Kepemimpinan, menurut Anies Baswedan, memberikan nyawa, memberikan nuansa, dan memberikan perasaan tujuan yang sama.

Menurutnya, pendekatan yang lebih tepat adalah “kepemimpinan yang hadir untuk merangsang semua orang mau menyelesaikan masalah yang mereka hadapi”.

“Istilah kami menggerakkan,” katanya, seraya menambahkan, hal inilah yang dia terapkan dalam Gerakan Indonesia Mengajar yang dipimpinnya.

“Kami tidak berencana menyelesaikan masalah pendidikan di Indonesia, tapi kami berencana mengajak semua pihak turun tangan menyelesaikan masalah pendidikan Indonesia”.

Problem yang ada di bangsa ini luar biasa banyak, katanya.

“Tidak bisa kita berharap satu orang menyesaikan every single detail,” ujarnya

Yang diperlukan, menurutnya, “kepemimpinan yang membuat kita punya arah, yang membuat kita punya visi, punya bayangan cita-cita kita apa”.

Anies membayangkan, kepemimpinan seperti dirigen dalam sebuah orkestra.

“Tanya pada pemain biola: Anda bisakah main tanpa dirigen? Bisa! Tanya pemain piano, bisakah main tanpa dirigen? Bisa! Tanya seluruh pemain orkestra, semuanya bisa melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan, tanpa kehadiran seorang dirigen”.

“Tapi”, lanjutnya,”kehadiran dirigen itu memberikan nyawa, memberikan nuansa, memberikan perasaan tujuan yang sama.”

Di situ, menurutnya, kepemimpinan Indonesia dibutuhkan. “Jadi kepemimpinan itu menggerakkan, dia mengarahkan, memberikan tujuan dengan penjelasan yang simple(sederhana)”.

Sosok AR Baswedan

Anies Baswedan adalah cucu Abdurrahman Baswedan, atau biasa disapa AR, salah-seorang keturunan Arab yang terlibat aktif dalam pendirian Republik Indonesia.

Selain menjadi anggota BPUPKI dan BP-KNIP, AR Baswedan pernah dipercaya menjadi Menteri Penerangan pada Kabinet Sutan Sjahrir III dan Kabinet Natsir.

Image caption Menteri Penerangan Abdurrahman Baswedan (kanan) mendampingi Menlu Agus Salim bertemu Perdana Menteri merangkap Menlu Mesir (1946), untuk meyakinkan Mesir agar mengakui Kemerdekaan Indonesia.

AR Baswedan juga pernah menjadi anggota parlemen dan Dewan Konstituante.

Lelaki kelahiran 1908 ini juga mencetuskan Sumpah Pemuda Keturunan Arab untuk mengakui Indonesia sebagai tanah airnya, pada 1934.

Di saat itu pula, 1934, di Semarang, AR Baswedan mengumpulkan para peranakan Arab dan mendirikan Partai Arab Indonesia (PAI) yang mendukung kemerdekaan Indonesia.

Kepada Anies, saya tanyakan sejauhmana kehadiran sosok AR Baswedan berikut ide-idenya menginspirasi dirinya?

“Saya sebetulnya jarang menyebut nama (kakeknya),” kata Anies, dengan nada pelan, ketika saya sebut nama kakeknya itu.

“Karena, rasanya, saya merasa kurang pas saja menyebut ini kakek saya.”

Selama ini, aku Anis, dia lebih suka menyebut generasi pendiri Republik.

“Bukan saja beliau (AR Baswedan). Tapi, saya selalu menyebut generasi pendiri Republik ini. Karena tidak satu orang yang seperti itu,” jelasnya.

Menurutnya, generasi pendiri republik ini – termasuk kakeknya – berpolitik dengan jalan yang terhormat.

“Itu inspirasi utamanya,” kata Anies.”Ide dan gagasan yang mereka miliki adalah untuk publik, dan sering melampaui zamannya”.

“Nah, saya beruntung, di rumah kita memang banyak tamu, banyak orang diskusi, dan yang dibicarakan adalah untuk bangsa,” ungkapnya.

Frans Seda dan IJ Kasimo

Dia kemudian menceritakan, rumah kakeknya dulu acap didatangi tokoh-tokoh seperti Romo Mangun, Gusdur, Syafii Maarif, atau pimpinan Partai Masyumi seperti M Natsir atau M Roem. Mereka kemudian berdiskusi. “Ini membekas,” tambahnya.

Dari sinilah, Anies mengatakan, dia bukan hanya belajar dari ide-ide para generasi kakeknya, tetapi juga dari sikap tauladannya.

Image caption Anies Baswedan dan keluarganya (2011) di salah-satu ruangan rumahnya, yang dipenuhi ribuan buku.

“Yang lebih mendalam adalah menyaksikan keteladanan orang-orang yang ikut merintis republik ini,” katanya.

“Di depan mereka ada seluruh kesempatan untuk hidup makmur sejahtera bagi dirinya dan keluarganya, dan mereka memilih untuk tidak mengambil itu semua,” tambah Anies.

“Di situ menurut saya kenapa mereka mempesona”, katanya lagi.

Belakangan, Anies juga mendapat cerita bahwa kakeknya pernah terlibat diskusi yang sengit dengan M Natsir (pimpinan Partai Masyumi), Frans Seda dan IJ Kasimo (pimpinan Partai Katolik).

“Tapi, karena tidak ada kepentingan pribadi, maka perdebatan itu tidak masuk menjadi persoalan pribadi,” ungkap Anies

Menurutnya, hal ini bisa terjadi karena para generasi pendiri republik ini “kecintaannya pada negeri ini, melampaui kecintaan pada dirinya, melampaui kecintaan dirinya pada partainya, atau pada kepentingan kelompoknya”.

“Kecintaan pada Republik itu menjadi the ultimate love,” kata Anies, menandaskan.

Memelihara burung

Di sela-sela kesibukannya sebagai Rektor Universitas Paramadina serta kesibukan lainnya, Anies masih mencoba menyalurkan hobinya, yaitu antara lain, memelihara burung.

“Sebetulnya ini adalah hobi di masa kecil saya,” kata Anies, membuka kisahnya.

Dia kemudian bercerita, di masa kanak-kanak di Yogyakarta, dia acap bermain ke Pasar burung Ngasem.

Image caption Anies (kiri) memelihara burung di rumahnya.

Di sanalah, Anies mengaku menikmati suara-suara burung itu, serta sesekali membelinya.

Burung jenis apa yang Anda pelihara sekarang? Tanya saya.

“Macam-macam, dari mulai Cicak Rowo, lalu burung Anis. Tahu ‘kan burung Anis?” Tanyanya yang kemudian disusul gelak tawa kami semua di dalam kendaraan.

“Itu burung, suaranya bagus betul. Kalau sudah berbunyi dia bergeraknya begini,” kata Anies, sambil menggerakkan tangannya, menirukan gaya burung tersebut.

Namun demikian, Anies menekankan, belasan burung yang dia pelihara di rumahnya, merupakan hasil penangkaran.

“Saya tidak ingin ada burung yang dipelihara di rumah (saya), hasil penangkapan,” katanya, kali ini dengan mimik serius.

Hobi lainnya, Anies mengaku masih menyempatkan membaca buku. Dia kemudian menunjukkan tumpukan buku di dalam mobilnya.

“Saya juga rajin mengajak keluarga ke toko buku atau musium,” kata Anies, dalam perjalanan pulang dari acara Klas Inspirasi yang dimulai pagi hingga sore hari, sekaligus mengakhiri wawancara.

Berita terkait