Pencari suaka terdampar di Indonesia

  • 6 September 2013
Pencari suaka
Image caption Warga Iran yang ingin menuju ke Australia namun terdampar di perairan Indonesia.

Pada tanggal 23 Juli, sebuah perahu kayu yang membawa pencari suaka yang ingin menuju Australia tenggelam sekitar 10km dari pantai Pulau Jawa.

Sekitar 20 pencari suaka tewas, termasuk enam anak walau 200 lainnya -yang kelelahan, ketakutan, dan kaget- berhasil diselamatkan.

Fariba (bukan nama sebenarnya) yang berusia 27 tahun adalah salah seorang yang selamat.

Sama seperti penumpang lain di perahu, dia datang dari Iran. Perempuan berdarah Arab dari Provinsi Khuzestan ini mengaku komunitasnya menjadi sasaran dari diskriminasi anti-Arab di Iran.

Dia tidak ingin diidentifikasi karena khawatir akan tindakan yang akan dialaminya jika dipulangkan kembali ke negaranya.

"Saya kehilangan semuanya," katanya. Saya kehilangan paspor, saya kehilangan uang, saya kehilangan semua milik saya di laut."

Dia terbang ke Indonesia karena diberitahu ketika masih di Iran bahwa Indonesia menjadi tempat terbaik untuk mendapatkan perahu menuju Australia.

"Di bandara Indonesia, seseorang mengatakan kepada saya bahwa jika Anda ingin ke Australia, saya bisa membantumu," kenangnya.

Kepada seorang penyelundup, dia membayar US$17.000 atau sekitar Rp170 juta agar keluarganya bisa masuk ke perahu.

Menampung pencari suaka

Para pegiat dan pencari suaka mengatakan para pejabat yang korup juga bertindak sebagai agen dalam penyelundupan manusia dan mengambil sejumlah besar uang tunai dari para pengungsi.

Pihak berwenang membantah tuduhan itu, seperti ditegaskan oleh Direktur Jenderal Penindakan Imigrasi, Ida Bagus Adnyana, kepada BBC.

"Saya tidak bisa membantah kemungkinan bahwa ada beberapa kelompok di Indonesia yang membantu penyelundupan manusia, seperti nelayan yang bisa dibayar atau dibujuk oleh penyelundup menggunakan perahu mereka."

"Namun tidak ada bukti bahwa ada petugas imigrasi yang terlibat dalam operasi tersebut," tambahnya.

Image caption Indonesia belum menandatangani Konvensi PBB tentang pengungsi.

"Sebaliknya justru para petugas kami di lapangan bekerja luar biasa dalam membantu para pencari suaka walaupun mereka tidak punya tanggung jawab hukum untuk itu."

Indonesia belum menandatangani Konvensi PBB tentang pengungsi dan para pegiat menuding Indonesia cuci tangan dari masalah pencari suaka.

Bagaimanapun pemerintah Indonesia mengatakan bahwa mereka sudah melalukan hal yang lebih dari sekedar tugasnya, dengan menampung ribuan pencari suaka di sejumlah tempat tahanan sambil menunggu proses permohonan suaka mereka oleh badan pengungsi PBB, UNHCR.

Tanpa kepastian

Di salah pusat penahanan pencari suaka di Jakarta, terdapat puluhan pria dan perempuan yang memiliki kisah sama dengan Fariba.

Mereka, termasuk anak-anak, berbaris seperti ikan sarden di balik jeruji,

Ada anak yang menangis sementara ibunya berupaya untuk membuatnya diam. Sang ibu mengatakan mereka sudah berada di tempat itu lebih dari sebulan tdak tidak tahu kapan akan dibebaskan atau diproses.

Seorang perempuan lain dari Sri Lanka mengusap perutnya yang membesar. Dia tiba ketika hamil dua bulan dan kini tinggal beberapa pekan lagi sebelum bayinya lahir.

Proses untuk memastikan apakah memang mereka benar-benar pencari suaka atau tidak amat tidak bisa ditebak.

Dan ketika ditanya apakah akan kembali menganbil risiko perjalanan kembali, semuanya mengatakan 'ya'.

Banyak yang melarikan diri dari kejaran di negara asalnya dan mengatakan mengambil risiko untuk kehidupan yang lebih baik keluarga tetap berguna.

Tak banyak pilihan

Seorang penghuni tahanan, Ali (juga bukan nama sebenarnya) merupakan warga etnik Hazara dari Afghanistan.

Image caption Tidak ada kepastian kapan permohonan suaka mereka akan diproses.

"Australia berpikir bahwa pencari suaka memilih untuk menjadi pencari suaka.

Kami tidak memilih kehidupan ini. Keluarga kami berada dalam bahaya. Anda berada dalam sebuah tempat dan Anda akan melakukan hal yang sama."

Dia menyatakan siap menghadapi kebijakan imigrasi baru Australia bahwa jika tetap menuju Australia maka mereka akan dikirim ke Papua Nugini dan proses permohonan suaka bisa memerlukan waktu bertahun-tahun.

"Saya sudah berada di sini satu tahun. Kadang saya merasa dilupakan. Saya mungkin akan tinggal di sini selama tiga atau empat tahun. Tapi saya tidak punya pilihan."

"Jika saya harus melakukanny alagi, ya saya akan mengambil perahu lain untuk ke Australia."

Keputusasaan terlihat di pusat penahanan pencari suaka ini.

Tidak satupun dari mereka tahu kapan dan apakah mereka akan mendapat status pengungsi, yang merupakan langkah awal untuk membangun kehidupan di Australia.

Sambil menunggu, yang sudah pasti adalah ketidakpastian masa depan mereka.

Berita terkait