Peluang politik anak-anak Suharto

  • 26 November 2013
titiek soeharto
Image caption Titiek Soeharto menjadi calon legislatif dari Yogyakarta.

Maraknya kemunculan teks berupa tulisan pada kaus, buku, dan poster yang berisi pujian terhadap pemerintahan era Suharto oleh sebagian kalangan dimaknai sebagai cara untuk memuluskan jalan orang-orang dekat Suharto kembali ke panggung politik di Indonesia.

Namun anggota keluarga Suharto membantah akan memanfaatkan situasi saat ini untuk memuluskan jalan mereka kembali ke panggung kekuasaan.

Sejarawan LIPI, Asvi Warman Adam, menduga kemunculan teks yang memuja Suharto selain digunakan untuk merehabilitasi nama Suharto juga untuk melancarkan jalan politik orang-orang dekatnya.

"Istilah itu barangkali baru diucapkan satu kali, kemudian dikembangkan dalam rangka untuk merehabilitasi Suharto dan dalam rangka memuluskan putra-putrinya terjun kepolitik, serta membersihkan nama Suharto dari korupsi," kata Asvi.

Pihak keluarga Suharto mengatakan satu-satunya anak Suharto yang terjun dalam pemilu tahun depan adalah Siti Hediati Hariyadi yang kerap dipanggil Titiek Suharto.

Sebelumnya sejumlah anak Suharto, seperti Hutomo Mandala Putra atau Tommy Suharto dan Siti Hardiyanti Rukmana atau Tutut Suharto, sempat muncul di panggung politik pasca reformasi.

Tutut yang sempat menggunakan kendaraan Partai Karya Peduli Bangsa gagal kembali bersinar seperti saat aktif di Golkar pada dekade 1990-an

Image caption Tutut Soeharto pernah mencoba untuk kembali terjun ke panggung politik namun tidak berkembang.

Pada pemilu 2004 PKPB hanya mendapat 2,11% suara dan pada pemilu berikutnya di tahun 2009 suaranya turun drastis menjadi 1,40% sehingga tidak lolos electoral treshold.

Sementara Tommy sempat berniat kembali maju ke dunia politik lewat Partai Nasional Republik lewat pemilu tahun 2014.

Namun Partai yang diusung Tommy ini gagal lolos tahap verifikasi peserta pemilu 2014 yang dilakukan oleh Komisi Pemilihan Umum.

Nasib serupa juga dialami oleh Ari Haryo Wibowo Hardjojudanto atau Ari Sigit yang sempat membuat Partai Karya Republik, PAKAR.

Seperti juga Nasrep, PAKAR juga gagal lolos tahap verifikasi yang digelar oleh KPU.

Menyisakan Titiek Suharto

Satu-satunya yang tersisa dari keluarga Suharto untuk terjun di politik tahun ini adalah Titiek Suharto.

Titiek merupakan calon anggota legislatif Partai Golkar dengan nomor urut satu dari daerah pemilihan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Adik Suharto, Probosutedjo, mengatakan terjun ke politik tidak bisa lantas dimaknai sebagai keinginan menjadi presiden.

"Untuk menjadi presiden dari anak-anak Pak Harto tidak ada. Sekarang Titiek yang ingin jadi anggota DPR, itu sambil lalu saja, tidak serius," kata Probosutedjo.

"Saya katakan kepada mereka, tidak gampang untuk memimpin Indonesia," tambahnya.

Soal kiprah politik putra-putri Suharto, Probusetdjo mengatakan pihak keluarga tidak memberikan batasan.

Ketua DPD Golkar DIY Yogyakarta, Gandung Pardiman tidak menafikan jika kemunculan teks yang berisi pujian dan kerinduan terhadap masa pemerintahan Suharto akan memberikan keuntungan terhadap pencalonan Titiek Suharto dan kepentingan politik Golkar.

"Karena kita orang politik kalau itu diinginkan dan laku, ya kita gunakan tapi kan itu untuk orang-orang pinggiran saja. Sedang kalau orang kampus pasti akan krtitis terhadap soal itu," kata Gandung.

Perlu kerja keras juga

Gandung sendiri mengatakan masuknya Titiek bukan karena banyaknya orang memunculkan teks yang memuji Suharto seperti yang terjadi di Yogyakarta saat ini.

"Pencalonan Mbak Titiek ini agak mendadak dan tidak dirancang sebelumnya. Masalah pencalegan Mbak Titik ini diskresi (hak istimewa) Ketua umum Golkar. Kenapa kemudian Mbak Titiek yang dipilih, kami sendiri tidak tahu," kata Gandung kepada BBC Indonesia.

Apakah adanya kerinduan orang terhadap Suharto akan membuat jalanya Titik menuju Senayan semakin mulus?

"Sebenarnya kerinduan rakyat itu bukan pada keluarga Pak Hartosemata, bukan karena Mbak Titiek itu putrinya Pak Harto maka rakyat akan serta merta memilih kerinduan mereka pada rezimnya," kata Gandung.

"Jadi dengan sistem pemilu seperti ini siapa yang peduli, itu yang diperhatikan rakyat. Siapa yang responsif, aspiratif dan benar-benar terjun ke lapangan, dan (rakyat) tidak melihat you anaknya siapa," katanya.

Berita terkait