Kontroversi Rhoma Irama menjadi capres

  • 7 Januari 2014

Heyder Affan Wartawan BBC Indonesia

Image caption Rhoma menganggap dunia politik bukanlah dunia yang asing bagi dirinya.

Musisi dangdut Rhoma Irama memilih jalur politik karena dianggap efektif melakukan perubahan ketimbang 'berpolitik' lewat musik semata.

Samar-samar lagu dangdut “Darah Muda”, yang pernah dinyanyikan Rhoma Irama di tahun 1970-an, menggema di aula Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia, pagi itu.

Di aula kampus UI Salemba, Jakarta pusat, lagu tersebut memang di putar berulang-ulang.

Padahal pagi itu, akan digelar seminar dengan tema “berat” yaitu tentang kepemimpinan nasional.

Rupanya, lagi itu diputar berulang-ulang untuk “menyambut” penyanyi dangdut terkenal Rhoma Irama, yang didaulat sebagai pembicara.

Seri diskusi yang digelar Dewan guru besar UI ini, Jumat, 20 Desember 2013 lalu, selain menghadirkan “Bang Haji”, juga mendatangkan sejumlah nama yang disebut-sebut menjadi bakal calon kuat presiden.

Raja dangdut ini, seperti diketahui, telah disebut sebagai salah-satu bakal calon presiden dari Partai Kebangkitan Bangsa, PKB.

Image caption Rhoma Irama menjadi pembicara seminar di Universitas Indonesia.

Di dalam seminar itu, pria kelahiran 1946 itu dicecar berbagai pertanyaan dari dua orang guru besar FE UI dan perwakilan aktivis mahasiswa UI, termasuk beberapa pertanyaan "sulit".

Misalnya saja, dia ditanya, apa resep mujarab yang akan dilakukannya -- jika terpilih sebagai presiden -- untuk mengatasi kemerosotan nilai Rupiah atas Dollar Amerika Serikat.

Rhoma memberikan jawaban antara lain dengan mengutip sejumlah istilah ekonomi yang barangkali tidak dipahami sebagian penggemarnya di pelosok Indonesia.

Three in One

Usai memberikan jawaban, tepuk tangan pun terdengar dari kursi peserta seminar, termasuk dari puluhan orang yang mengaku sebagai penggemar setia Bang Haji -- sebutan akrab Rhoma Irama.

Image copyright ahmadweb
Image caption Rhoma Irama pernah menjadi juru kampanye Partai Golkar di masa Orde Baru.

"Saya katakan, bahwa politik, agama, seni buat saya three in one. Jadi, saya harus tahu (berbagai persoalan umum) bukan ketika mencapreskan diri," kata Rhoma Irama, ketika saya tanya berapa lama dia membutuhkan waktu untuk mempelajari persoalan ekonomi mikro.

Menurutnya, sejak merintis karir di dunia musik dangdut, dia sudah bersentuhan dengan persoalan ekonomi dan agama.

Dia kemudian menyebut sejumlah lagunya yang disebutnya bertema tentang kritik sosial dan politik, selain percintaan.

"Tentang politik, saya telah mengajak Bangsa Indonesia untuk menghormati hak asasi manusia pada tahun 1977," katanya, seraya kemudian menyanyikan beberapa baris lirik lagu itu.

Mantan politisi PPP dan Golkar ini juga mengaku sudah lebih dari 40 tahun melakukan "blusukan" ke pelosok Indonesia.

"Saya sudah melakukannya sejak berdirinya Soneta, melalui takbir akbar dam main musik," katanya.

"Jadi, di dalam politik, saya tidak perlu bermetamorfosis dari penyanyi menjadi politisi," kata Rhoma, yang sempat kuliah di Fakultas Sosial Politik, Universitas 17 Agustus, namun hanya bertahan setahun.

Pernyataan Rhoma ini jelas untuk menangkis "serangan" lawan politiknya atau pihak-pihak yang selama ini meremehkan tentang keseriusannya menjadi bakal calon presiden.

'Mengatur negara'

Ketika pada November 2013 lalu, Rhoma Irama menyatakan siap bersaing memperebutkan kursi presiden melalui Pemilu 2014, sebagian masyarakat Indonesia dibuat terkejut.

Dalam berbagai kesempatan, Rhoma menyatakan bahwa pilihannya terjun dalam perebutan kursi presiden, karena "adanya desakan dari kalangan umat."

"Saya juga bersedia (menjadi bakal calon presiden) karena ada keterpanggilan," kata Rhoma yang telah membintangi lebih dari 25 film.

Ketika saya bertanya kenapa dia tidak mendalami saja dunia musik yang dianggapnya efektif untuk menyampaikan pesan moral, Rhoma mengatakan "tapi jauh lebih efektif menjadi eksekutif."

Menurutnya, kalau semata bermain musik, kurang berdampak kepada perubahan.

"(Kalau bermain musik) nggak bisa bikin UU, nggak bisa bikin peraturan," katanya seraya tergelak. "Cuma sampai pada himbauan saja."

Tapi, "Kalau kita sebagai eksekutif, bisa memerintah, bisa mengatur negara."

Dimanfaatkan PKB?

Sejauh ini belum ada partai politik yang benar-benar serius mengusung Rhoma sebagai calon presiden, walaupun Partai Kebangkitan Bangsa, PKB sudah menyatakan ketertarikannya terhadap dirinya.

Ketua Umum PKB, Muhaimin Iskandar dalam beberapa kesempatan menyatakan bahwa partainya akan mengusungnya sebagai calon presiden, kendati nama lain seperti Yusuf Kalla dan Machfud MD juga disebut-sebut di internal partai tersebut.

Image caption Rhoma Irama saat berkhotbah pada sebuah sholat jumat di masjid UI Salemba, Jakarta.

Pengamat politik dan peneliti LIPI, Siti Zuhroh mengatakan, Rhoma Irama lebih cocok untuk menjadi vote getter (pencari suara) PKB ketimbang sebagai bakal calon presiden partai tersebut.

"Dan itu yang ditangkap PKB untuk membantu bagaimana mendongkrak elektabilitasnya menjelang pemilu legislatif, ketimbang sungguh-sungguh mencalonkan yang bersangkutan (Rhoma Irama) sebagai calon presiden," kata Siti Zuhroh.

Apa tanggapan Rhoma? "Saya melihat pengamatan itu sangat salah."

Menurutnya, sejauh ini sudah ada komitmen antara dirinya dengan DPP PKB untuk mengusungnya sebagai calon presiden.

"Tidak mungkin, misalnya, Muhaimin, PKB mau mempermainkan saya, (jika benar mempermainkan saya) berarti mempermainkan umat, mempermainkan ulama, para habaib, para tokoh-tokoh."

Pada pemilu legislatif 2009 lalu, perolehan suara PKB sekitar lima persen, sehingga mereka gagal mengajukan calon presiden sendiri.

Kini menghadapi Pemilu 2014 ini, PKB dan partai lainnya harus "bekerja keras" untuk meraih sebesar 20 persen kursi DPR, apabila ingin mengajukan capres.

Rhoma dan poligami

Sebagai musisi kondang yang sudah malang-melintang lebih dari 40 tahun, perjalanan hidup Rhoma Irama tidak terlepas dari kontroversi.

Pilihannya untuk berpoligami, misalnya, telah menyulut cibiran sebagian masyarakat Indonesia.

Setelah menikahi Veronica awal tahun 1970-an dan memiliki tiga anak, Rhoma menikahi Ricca Rachim pada 1984. Setahun setelah pernikahan ini, Rhoma dan Veronica resmi bercerai.

Di awal 1990-an, menurut penulis Moh. Shofan dalam buku berjudul Rhoma Irama, Politik dakwah dalam Nada (2014), raja dangdut ini menikah lagi dengan Marwah Ali.

Dari pernikahan ini, mereka dikarunai dua anak, yaitu Ridho Rhoma dan Nazela.

Seperti dikutip dalam buku karangan Moh. Shofan, awal 2000, 'Satria Bergitar' -- judul film yang dibintangi dirinya -- ini menikah kembali dengan gadis asal Solo bernama Gita Andini Saputri, dan dikaruniai seorang anak.

Tiga tahun kemudian, Rhoma menikah lagi dengan aktris Angel Lelga, yang tidak berlangsung lama.

Apakah sikap anda berpoligami dan menimbulkan cibiran masyarakat tidak membuat anda terganggu saat maju sebagai bakal calon presiden? Tanya saya.

"Sama sekali tidak. Kenapa? Poligami itu sesuatu yang halal, bukan sebuah dosa, bukan cacat moral, bukan cacat politik, bukan cacat integritas," kata Rhoma Irama, berulang-ulang.

Sebaliknya, "Kalau kita tukang main perempuan, misalnya, itu cacat moral. Tapi kalau kawin, poligami, itu sesuatu yang halal yang dibenarkan oleh agama."

"Saya tidak terganggu karena sebagai superstar, mohon maaf, saya ini orang yang dikejar-kejar perempuan. Lumrah kalau seorang superstar. Bukan mengejar perempuan," katanya lebih lanjut.

Revolusi musik dangdut

Di tengah derasnya aliran musik rock di awal tahun 1970-an, Rhoma Irama melakukan revolusi dangdut, demikian tulis Moh. Shofan dalam buku berjudul Rhoma Irama, Politik dakwah dalam Nada (2014).

"Dia mengatur strategi agar dangdut equal dengan rock. Dia mengatur strategi untuk mengakomodasikan dangdut dengan realitas musik pada zamannya," kata Moh. Shofan.

Menurutnya, Rhoma saat itu merasakan cibiran penikmat musik rock kepada orkes Melayu.

"Inilah yang memacunya mengembangkan orkes Melayu menjadi dangdut," ungkapnya, lebih lanjut.

Dalam wawancara dengan BBC Indonesia, Rhoma Irama mengatakan, revolusi "dari orkes Melayu ke dangdut" membuat dangdut saat ini telah diterima di dunia internasional.

"Di Amerika Serikat, sudah banyak grup-grup dangdut, termasuk yang dipimpin oleh Profesor Andrew N Weintraub, 'dangdut koboi', misalnya. Kemudian di Jepang tumbuh macam-macam grup dangdut," ungkapnya.

Andrew Weintraub, pengajar pada departemen musik etnik di Universitas Pittsburgh, Amerika Serikat, mulai mengajarkan dangdut setelah mendapat kesempatan meneliti dan kemudian menulis disertasi tentang jenis musik melayu ini.

Efek Deep Purple

Saat itu, Rhoma melalui gruk musik pimpinannya Soneta kemudian memasukkan napas hard rock ke dalam komposisi lagu Melayu.

Hal ini tidak terlepas pula dari kehadiran grup musik Rock terkenal saat itu seperti Deep Purple dan Led Zeppelin, yang menurut pengamat musik Bens Leo, "digemari Rhoma Irama."

Hasil penelitian Andrew N Weintraub, yang kemudian diterjemahkan oleh Arif Bagus Prasetyo (2012), menunjukkan bahwa lagu-lagu Deep Purple berpengaruh besar terhadap pada musik Rhoma.

Dalam situasi seperti itulah, menurutnya, Rhoma Irama kemudian memasukkan alat musik saksofon, gitar listrik, atau trompet di dalam aktivitas musiknya.

"Sehingga orang menyebut Rhoma adalah musisi yang eksploratif, dan pilihannya adalah dangdut versi Rhoma Irama," kata Bens Leo dalam wawancara dengan BBC Indonesia

Karena itulah, menurutnya, "Rhoma Irama adalah pembuat revolusi dan modernitas musik dangdut."

Berita terkait