Parpol berlomba pikat pemilih muda

  • 18 Februari 2014
anak muda
Benarkah pemilih muda tentukan kemenangan Pemilu?

Sejumlah survei mengatakan pemilih muda akan menjadi penentu kemenangan dalam Pemilu Legislatif 2014.

Partai-partai politik pun berlomba merancang program kampanye mereka untuk memikat anak-anak muda ini.

Sayang, program-program yang diusung parpol dinilai tidak menyasar kepentingan anak muda tapi sekedar membangun kedekatan psikologis saja.

"Mereka mendekati pemilih pemula dengan gaya, dengan style jadi misalnya memakai ikon anak muda dan kemudian memakai cara bertutur anak muda tapi isu pemuda sendiri tidak jelas dirumuskan," kata peneliti senior Lembaga Survei Indonesia Dodi Ambardi.

Menurut Dodi, kepentingan anak muda ada dua yaitu sekolah dan pekerjaan.

"Pekerjaan apa yang bisa ditawarkan yaitu membuka lapangan kerja, parpol tidak menyentuh itu tapi mereka menggunakan band anak muda, nyanyi nyanyi anak muda, jadi parpol hanya menggunakan gimmick saja, yang dipakai strategi psikologis kedekatan dengan kaum muda bukan kepentingan, tambahnya.

'Berlebihan'

Pada pemilu tahun ini kuantitas pemilih muda dengan kisaran usia 17-25 tahun adalah 10% dari total pemilih.

"Jumlahnya tidak besarlah, yang besar kalau kategori usia produktif yaitu 25-40 tahun jadi mereka itu bukan kelompok yang menentukan menang kalahnya pemilu," kata Dodi.

"Secara kuantitas mereka besar dan terpecah-pecah tapi karena jumlah parpol sedikit maka kelompok yang sedikit ini menjadi strategis.

Karena usia yang masih muda dan belum memiliki sikap politik kuat, maka kelompok muda ini dinilai mudah untuk "diseret ke sana ke mari."

"Karena itu jika kita hendak menghitung pemilih pemula dan pemilih kedua maka mereka tidak menentukan kemenangan tapi bisa menambah perolehan suara, seperti yang selisih 2-3 persen dan pada akhirnya menjadi penting," kata Dodi Ambardi.

Parpol dinilai abai pada kepentingan anak muda yaitu sekolah dan pekerjaan

Ia kembali menyayangkan kebanyakan partai politik yang hanya memandang anak muda sebagai alat.

"Semua partai menggunakan strategi untuk mendekati anak muda, memiliki divisi pemuda, organisasi pemuda dan formula kampanyenya adalah sebanyak mungkin menarik simpati kelompok sasaran," tambahnya.

SIkap politisi mengelu-elukan anak muda menurut dia sangat berlebihan.

"Berbagai slogan digunakan, misalnya, masa depan bangsa di tangan pemuda, politisi harus mengkapitalisasi psikologi bahwa mereka penting.

"Untuk menarik simpati, ya kalau orang dipuji-puji pada akhirnya akan tertarik juga," tandasnya.

Berita terkait